Home / Berita / “In Memoriam” Andi Hakim Nasoetion

“In Memoriam” Andi Hakim Nasoetion

SUATU hari Prof Dr Ir Andi Hakim Nasoetion bercerita tentang perjalanannya, terbang dari Tokyo menuju New York. Di sebelahnya duduk seorang Jepang. Malam itu cuaca tampaknya sangat buruk. Perjalanan pesawat penuh dengan guncangan yang membuat penumpang sepanjangperjalanan tak henti-hentinya berdoa. Menjelang mendarat di Bandara John F Kennedy, tiba-tiba cuaca berubah menjadi sangat baik. Seluruh penumpang merasa lega, apalagi pendaratannya begitu mulus. Sebagai orang Timur, bagaimanapun tentunya harus berterima kasih kepada pilot yang bisa membawa seluruh penumpang tiba dengan selamat di tempat tujuan. Tidak terkecuali orang Jepang yang duduk di samping Prof Andi Hakim. Seperti biasa, ucapan terima kasih disampaikan kepada pramugari yang berdiri di depan pintu keluar pesawat. Orang Jepang segera  menyampaikan ucapan terima kasihnya.”Thank you for the nice flight,” maksud orang Jepang itu. Namun, karena orang Jepang tidak bisa melafalkan huruf l, maka ucapan yang keluar menjadi terdengar, “Thank you for the nice fright.”

***
ITULAH salah satu lelucon yang sering disampaikan Prof Andi Hakim menjelang atau akhir dari kuliah matematika ataupun statistika yang diberikan kepada mahasiswa Pascasarjana Institut Pertanian Bogor(IPB). Di tengah keseriusan yang menjadi ciri dari kesehariannya, Prof Andi Hakim adalah juga seorang humoris. Namun, rasa humor itu tidak setiap saat ia obral.

Hanya pada saat-saat tertentu saja rasa humoritu ia lontarkan.Bagi para pendengarnya, humor yang disampaikan Prof Andi Hakim sering terlambat diantisipasi. Pasalnya, humornya itu sering kali terlalu tinggi dan disampaikan dengan ucapan yang harus diikuti secara cermat karena lafalnya yang tidak jelas. Istilah para mahasiswa, Prof Andi Hakim kalau berbicara itu kumur-kumur. Berbicara dengan Prof Andi Hakim memang dituntut konsentrasi yang tinggi.

Ia bukan tipe pembicara yang keras volumenya dan jelas intonasinya.
***
PROF Andi Hakim bukan hanya dikenal sebagai seorang pengajar yang baik, tetapi juga seorang pemikir serta administrator yang baik.Dialah yang mengangkat Institut Pertanian Bogor sebagai salah satu perguruan tinggi terpandang dan diminati di Tanah Air. Saat menjabat sebagai Direktur Pendidikan IPB tahun 1971 hingga 1975, Prof Andi Hakim yang merumuskan agar IPB mengundang para lulusan terbaik Sekolah Menengah Tingkat Atas dari seluruh Indonesia.

Menurut Prof Andi Hakim, langkah itu perlu dilakukan agarIPB mendapatkan mahasiswa-mahasiswa terbaik, supaya kemudianIPB bisa menghasilkan lulusan-lulusan terbaik. Selain itu, Prof Andi Hakim berkeinginan agar IPB tidak hanyamenjadi tujuan menimba ilmu dari mereka yang mempunyai latarbelakang pertanian semata. Ia berharap agar anak-anak kota besarjuga mau tertarik menggeluti ilmu-ilmu pertanian.Konsep yang kemudian dikenal Program Perintis II pertama kaliditerapkan di zaman Rektor IPB Prof Dr Ir AM Satari. Ketikakemudian Andi Hakim ditunjuk menjadi penggantinya pada tahun 1978, Program Perintis II semakin menjadi andalan IPB dalampenerimaan mahasiswa baru. Pada tahun 1979, misalnya, dari tujuh kelompok Tim Persiapan Bersama atau mahasiswa baru, lima kelompok merupakan hasil penelusuran bakat.

Sementara dua kelassisanya adalah mereka yang lulus tes Sekretariat Kerja samaAntar-Lima Universitas (SKALU), di mana IPB salah satu diantaranya. Praktis hanya IPB-lah yang pada awalnya menerapkan ProgramPerintis II. Kemudian model itu diterapkan juga di beberapaperguruan tinggi negeri lainnya, meskipun jumlahnya tidak semasifyang diterapkan di IPB. Tidak bisa dipungkiri, program itulah yang mengubah ciri IPB. Latar belakang yang dibawa mereka yang kemudian masuk ke IPB,membuat “Kampus Rakyat” itu menjadi semakin beragam dan kualitas intelektual dari sarjana yang dihasilkan menjadi lebihmeningkat. Prof Andi Hakim tidak hanya berhenti sampai di situ. Meski ia hanyamemimpin IPB sampai tahun 1987, namun pada tahun 1980 ia meninggalkan Rencana Strategis IPB yang diberi judul “Arah Perkembangan Institut Pertanian Bogor Menuju Tahun 2000”.

***

LULUSAN IPB sekarang ini boleh dikatakan merambah kemana-mana. Ada yang bekerja sebagai pengusaha, ada yangbirokrat, ada yang menjadi pegawai swasta, bahkan ada yang menjadi penyanyi. Tidaklah berlebihan apabila nama IPB kemudian banyak diplesetkanmenjadi “Institut Publisistik Bogor”, karena banyaknya lulusan IPByang menjadi wartawan atau “Institut Pleksibel Banget”, karena lulusan IPB bisa bekerja di mana-mana.Ada beberapa kalangan yang menilai bahwa itu merupakan skandalbesar pendidikan. Masalahnya, besarnya anggaran yang disisihkanpemerintah untuk mendidik mahasiswa agar menjadi ilmuwan yangandal di bidang pertanian, ternyata tidak tepat guna. Para lulusanIPB justru melenceng ke banyak tempat, yang tidak sejalan lagi dengan pendidikan yang diterima di bangku kuliah. Bahkan untuk mendramatisir, karena lulusan IPB tidak berkonsentrasi di bidangpertanian, maka pembangunan pertanian mengalami kemundurandan semua produk pertanian sekarang ini didominasi oleh produk Thailand. Prof Andi Hakim tidak kecil hati dengan kritikan seperti itu. Menurut dia, IPB bukanlah tempat mencetak tukang yang tidak mampumengembangkan daya pikir.

Mahasiswa IPB itu diajarkan untukmenggunakan nalar mereka, berpikir logis dan runtut, dan karenanya ilmu yang mereka dapat itu bisa dipakai di mana saja. Ketika mendapat Penghargaan

Alumni IPB pada bulan Maret 2000, ia kembali mengatakan, “Tidak usah takut diolok-olok bila ada lulusan IPB yang tidak bekerja di bidangnya. Justru ke depan kitaharus bisa merebut relung pasar tenaga kerja. Sesama lulusan agronomi, kemungkinan ilmu mereka sama dengan lulusan IPB, tetapi bila berhasil bersaing dengan lulusan disiplin ilmu lain berarti kita punya kelebihan.”Itulah salah satu kelebihan Andi Hakim sebagai guru, ia selaluberhasil membesarkan hati mahasiswanya dan sebagai pemikir iajuga mampu berpikir jernih. Di samping mereka yang menjadi menterikeuangan, direktur bank, direktur perusahaan, dan lain-lain itu,memang tidak sedikit lulusan IPB yang menggeluti dunia pertanian dan menjadi ilmuwan.
***

BAGI Prof Andi Hakim, IPB memang segala-galanya. Kecintaan dankebanggaannya terhadap almamater begitu tinggi. Dalam tulisan terakhir yang dikirim ke Kompas misalnya, Andi Hakim mempersoalkan rencana penjualan dan pengubahan peruntukan Kampus Baranangsiang Bogor.
Menurut Andi Hakim,sungguh ironis apabila gedung kampus yang seharusnya menjadi bangunan bersejarah, dibiarkan menjadi factory outlet, seperti yangsekarang ini begitu menjamur di  pusat kota Bogor. Kepedulian terhadap Kampus Baranangsiang-yang sekarang ini memang sudah ditinggalkan karena Kampus IPB dipindah ke Darmaga-bukan muncul sekarang ini. Ketika menjadi rektor, Prof Andi Hakim sangat disiplin untuk menjaga kampus.pernah ada cerita seorang mahasiswa dinilainya ngebut di dalam kampus. Ia turun tangan sendiri untuk menghentikan mobil itu dan kemudian mengempeskan keempat bannya, karena tidak mendapati si mahasiswa.

Keesokan harinya si mahasiswa dipanggil dan harus meminta maaf. Selanjutnya, Prof Andi Hakim memerintahkan untuk dibuatkan polisi tidur di Kampus Baranangsiang. Polisi tidur itu masih ada sampai sekarang.Prof Andi Hakim Nasoetion hari Senin (4/3) malam kembali ke haribaan-Nya

karena kanker prostat dan gagal ginjal. Putra dari almarhum Anwar Nasoetion dan Siti Marijam Loebis Nasoetion itu meninggalkanistri Amini Nasoetion dan tiga putra-putri, Dr Ir Marlina Dumasari MS, Ir Andini Nauli, dan Ir Nizwar Hidayat MM. Ratusan orang mengantarkan kepergian sang pendidik yang tanggal 30 Maret mendatang akan merayakan ulang tahunnya yang ke-70. Sebuah buku berjudul Profil Seorang Eksperimentalis-yang akan melengkapi 23 buku lainnya yang pernah ia tulis- sebenarnya sudah dipersiapkan untuk peringatan ulang tahunnya.

Namun Prof Andi Hakim tidak sempat meluncurkannya sendiri. Selamat jalan Prof Andi Hakim Nasoetion. Semua sumbangsih dan karyamu untuk IPB serta juga dunia pendidikan akan selalu kami kenang. Itulah peninggalanmu yang tidak pernah akan berakhir. (nmp/tom)

Sumber: Kompas, Rabu, 6 Maret 2002

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: