Home / Berita / Hadiah bagi Guru-guru yang Teguh

Hadiah bagi Guru-guru yang Teguh

Anak didik serupa batu mulia. Tugas guru menggosoknya hingga berkilau dan menunjukkan jati dirinya. Itu pedoman Aming Prayitno (71), pengajar seni rupa di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, pada 1971 hingga 2008. Giliran para murid mengenang guru-guru legendarisnya.

Sebanyak 40-an lukisan menghuni ruang-ruang di galeri Kemang 58 sejak 10 September lalu. Bukan sembarang lukisan. Lukisan yang dipamerkan hingga akhir September itu lahir dari tangan Aming Prayitno, Suwaji (72), dan Subroto Somomartono (68). Merekalah para ”sumber ilmu”, guru para seniman.

Kerja para pensiunan dosen seni rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu ikut melahirkan pelukis terkemuka, seperti Ivan Sagita, Made Djirna, Made Budhiana, Nyoman Erawan, Nasirun, Heri Dono, Eddie Hara, Entang Wiharso, Ipong Purnama Sidhi, Pupuk Daru Purnomo, dan Putu Sutawijaya.

Sejumlah mantan murid pula yang menggagas pameran itu. Salah satunya adalah seniman Yogyakarta, Klowor Waldiyono. Di rumah para pengajar seni lukis yang semasa mudanya peraih ragam penghargaan nasional dan internasional itu terdapat ratusan lukisan. Murid-murid yang ingin ”membalas budi” lantas memamerkan karya guru-guru mereka itu.

Klowor menyebut ketiganya sebagai seniman dan guru seni yang legendaris di Yogyakarta.

Aming, Subroto, dan Suwaji memang tak sekadar pelukis, tetapi juga guru yang teguh. Kurator Suwarno Wisetrotomo, dosen Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta sekaligus mantan anak didik, menyebut mereka sebagai pemeluk teguh. Judul ”Tiga Pemeluk Teguh” pun dipetik untuk pameran karya para guru.

Maka, pameran lukisan ”Tiga Pemeluk Teguh” bukanlah sekadar peristiwa seni rupa. Sosok Aming Prayitno, Subroto, dan Suwaji menjadi inspirasi untuk menjadi guru kreatif.

Inspirasi
Di Yogyakarta, ratusan kilometer dari tempat pameran, ketiganya bercerita tentang makna menjadi guru sejati, sesuatu yang kerap terlupakan di tengah dunia pendidikan yang gamang dan merangkak. Selama 37 tahun, Aming mengajar dan berkarya di ISI Yogyakarta. Semasa itu pula Aming tak pernah berpikir mencetak anak didik.

”Saya tidak mencetak anak didik, tetapi menjadikan mereka memiliki jati diri, memenuhi rasa ingin tahu, serta mampu membedakan yang baik dan buruk,” kata Aming ketika ditemui di rumahnya, di Murangan, Triharjo, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (15/9). Di ISI Yogyakarta, Aming mengajarkan nirmana, pengorganisasian dan penyusunan elemen-elemen visual, seperti titik, garis, warna, ruang, dan tekstur.

Kedua koleganya, Subroto dan Suwaji, tak jauh berbeda. Bagi mereka, inti pengajaran ialah menciptakan rasa kebebasan dan kenyamanan belajar.

Ketika mengajarkan sketsa, misalnya, bagi Subroto, hasil karya anak didik tidak ada yang benar atau salah. Semua karya anak didik mempunyai nilai
tersendiri.

Belut di atas kanvas
Dalam atmosfer kebebasan dan kenyamanan belajar itulah Aming bersama Subroto pernah membuat mata kuliah seni rupa eksperimental. Setiap anak didik didorong mengaktualisasikan rasa kebebasan untuk berkarya.

Macam-macam ide berloncatan dari kepala para mahasiswa. Saking serunya, sampai-sampai ada seorang mahasiswa melepaskan belut di kanvas yang ditoreh cat sebelumnya demi mendapatkan efek visual.

”Ada yang menggunakan efek ledakan balon yang disulut api. Ada yang menggunakan jelangkung dan sebagainya,” ujar Aming yang mengenyam pendidikan seni di Koninklijke Academie Voor Schone Kunsten, Gent, Belgia, pada 1976.

Rasa bebas berbeda dengan liar yang tak terkendali. Bagi Aming, rasa bebas itu hasil kompromi yang saling melegakan demi mencapai tujuan bersama. ”Sejak terjadi eksperimentasi seni yang aneh-aneh, anak didik kemudian diwajibkan menuliskan proposal untuk disetujui atau tidak,” ujar Aming.
Dekat dengan ”murid”

Salah satu resep Subroto dalam mendidik ialah mengenal karakter setiap anak didik dengan baik. Bagi dia, itu mutlak. Subroto selalu menyertai setiap anak didik saat mereka menggambar sketsa di luar ruang, termasuk di pantai atau di gunung. Dalam satu semester, anak didiknya diwajibkan mengumpulkan minimal 500 lembar gambar sketsa.

”Setelah mengerti gaya tiap-tiap murid, saya tidak lagi menyertai mereka untuk membuat sketsa,” kata Subroto yang mengajar di ISI dalam kurun 1975-2012. Selain sarjana seni lukis, Subroto juga lulusan magister Humaniora Universitas Gadjah Mada.

Subroto menumbuhkan rasa saling percaya dan nuansa egalitarian di antara guru dan anak didik. Itu rupanya meninggalkan kesan dalam diri pelukis Ipong Purnama Sidhi. ”Selama belajar, saya tidak pernah menggunakan bahasa Jawa halus kepada Pak Broto. Kami seperti berteman,” ujar Ipong.

Suwaji pun lebur dan berkarya bersama anak didiknya. Suwaji mengajar di ISI sejak 1968 hingga 2007. Pada suatu masa, Suwaji mendampingi anak didik study tour ke Bali. Di Ubud, mereka bersama-sama melukis sketsa.

”Satu minggu di Ubud, saya menghasilkan lebih dari 100 sketsa,” kata Suwaji. Tahun 1969, suasana Ubud yang diwarnai tradisi masyarakat, para perempuan Bali bertelanjang dada, dan keindahan alam memikat seniman seantero dunia.

”Tradisi masyarakat itu obyek seni lukisan yang menarik,” kata Suwaji. Itu pula yang diajarkan kepada anak didiknya agar mereka selalu peka terhadap lingkungan kehidupan di sekitar mereka.

Di Kemang, seperti kata kurator Suwarno Wisetrotomo, murid yang belajar langsung ataupun lewat karya ketiganya akan melihat cinta, eksistensi, dan martabat. Di balik pameran itu ada cerita guru-guru sejati.

Oleh: Nawa Tunggal

Sumber: Kompas, 25 September 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: