Home / Artikel / Guru Idola

Guru Idola

Kita percaya bahwa baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia sama-sama penting. Namun, negara maju seperti Jepang dan Singapura menunjukkan, sumber daya manusia lebih menentukan keberhasilan pembangunan. Karena itu, porsi terbesar dalam RAPBN untuk pendidikan dan kesehatan. Di zaman serba digital peran guru tetap diutamakan.

Waktu masih bersekolah, saya di SMA-B atau SMA ”Pasti-Alam”. Barangkali sekarang lebih ”pas” SMA Mat&Sains. Guru kami kebanyakan adalah mantan TP (Tentara Pelajar) yang masih berkuliah di UGM. Di antara mereka, ada bapak guru yang kami idolakan. Beliau memperlakukan kami—murid-muridnya—dengan ramah dan tanpa pilih kasih. Beliau juga kami kagumi karena kepiawaiannya mengajarkan Bahasa Inggris dan Matematika.

Semua Matematika SMA beliau kuasai dan ajarkan kepada kami dengan jelas. Ilmu Ukur Ruang (Stereometri), Ilmu Ukur Sudut (Goniometri), Aljabar, dan ”Be-Em” yang dengan beliau terasa gampang, sebab penjelasannya runtut dan gamblang.

”Be-Em” juga disebut Ilmu Ukur Lukis alias Decriptive Geometry atau Beschrijvende Meetkunde, sedangkan Ilmu Ukur Sudut juga disebut Ilmu Ukur Segitiga (Trigonometri), yakni relasi antarunsur-unsur segitiga (sudut, sisi, garis tinggi, garis bagi, dan garis berat), antara lain melalui fungsi-fungsi seperti sinus, kosinus, tangens, dan sekan.

Kalau dalam ulangan ada murid yang mengerjakan semua soal dengan benar, ia diberi nilai 10. Namun, kalau ada yang mengerjakan semua soal tidak hanya dengan benar, tetapi juga dengan cara yang ringkas dan jelas, ada bonusnya. Nilainya tidak hanya 10, tetapi 110, jadi bonus 100.

KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA–Sambil menggendong anaknya yang berusia enam bulan, Wistinar Taileleo (31), guru honorer, menjalankan tugasnya untuk mengajar di sekolah filial atau cabang SDN 13 Bulasat, Kecamatan Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Senin (7/3/2016).

Itulah cara beliau menghargai keanggunan Matematika. Tentu saja dalam nilai akhir yang kemudian tertera di rapor, bonus itu tidak diperhitungkan. Namun, ”sistem bonus” itu membuat kami lebih kompetitif. Di ”zaman saya”, kesempatan untuk menunjukkan kejernihan penalaran terbuka lebar sebab semua pertanyaan berjenis essay (uraian) dan penyelesaian soal (problem-solving). Tidak ada tes obyektif seperti pilihan ganda (multiple choice), benar-salah (true-false), atau benar-salah ganda (multiple true-false).

Kalangan Nobel-wan
Konon, ketika masih berkuliah, Wolfgang Pauli mengagumi dosennya, Prof Arnold Sommerfeld. Sommerfeld mengembangkan Teori Atom Hidrogen-nya Niels Bohr, dengan orbit elektron berbentuk elips. Pauli ”menyalip” idolanya dengan menemukan prinsip eksklusi dan menjadi peraih Nobel Fisika.

Prinsip eksklusi yang menguasai semua zarah berjenis fermion itu tidak hanya menjelaskan ”Tabel Unsur-unsur Berkala”-nya Dimitri Mendeleiyeff. Asas yang melarang lebih dari satu fermion yang seiras (identik) untuk menghuni keadaan kuntum yang sama itu juga menjelaskan mengapa bintang yang telah habis energi fusinya tidak serta-merta menyusut-mampat-padat karena gravitasinya.

”Guru” idola yang mengilhami muridnya juga terjadi antara Paul Adrien Maurice Dirac dan Richard Percy Feynman. Feynman tidak pernah kuliah dalam mata ajaran yang diampu Prof Dirac. Namun, Feynman muda mencermati dan mengikuti makalah-makalah yang dipublikasikan Dirac dengan penuh perhatian.

Feynman, seperti Pauli, juga melebihi ”guru idola”-nya. Seperti Dirac, Feynman juga meraih Hadiah Nobel Fisika. Dirac muda muncul sebagai perintis pengembangan Mekanika Kuantum Relativistik, sedangkan Feynman melahirkan Elektrodinamika Kuantum, termasuk yang nisbian (relativistik). Feynman ”melebihi” Dirac sebab Feynman bukan hanya ilmuwan hebat, melainkan juga dosen yang piawai menyampaikan kuliah.

Di usia tua Feynman tetap cemerlang, sedangkan Dirac dianggap menjadi ”guru besar kayu lapuk” (deadwood professor). Seri kuliah-tamunya di Amerika ”dicemoohkan”, bahkan oleh iparnya sendiri, Eugene Wigner (yang juga peraih Nobel Fisika). Kuliahnya dinilai ”cuma begitu-begitu saja” (just so-so).

Jagat pewayangan
Romo JIGM Drost SJ (almarhum) ketika menjadi Rektor Universitas Sanata Dharma, dan Conny Semiawan, ketika gencar mengembangkan Cara Belajar Siswa Aktif, suka mengutip keyakinan orang Jerman bahwa ”Bildung ist das, was bleibt, wenn man alles Gekehrnte vergessen hat” (Pendidikan ialah apa yang masih tertinggal jika semua yang kita pelajari sudah kita lupakan).

Yang masih tertinggal dan tetap ada serta terus kita ingat tentulah apa yang penad—yang kena-mengena—dengan hal-hal yang sangat penting, yang berkesan sangat mendalam, bahkan memberikan inspirasi. Itulah yang kita petik dari saran, arahan, dan teladan guru idola kita. ”Guru” di sini bukan hanya pengajar di kelas kita. Guru juga mentor tanpa mengampu mata pelajaran di sekolah atau dosen yang tidak mengampu mata kuliah kita. Namun, ia kita kagumi, kita idolakan, dan kehebatannya mengilhami dan menyemangati kita.

Dalam sebuah petilan (fragmen) Mahabarata, ada kisah Palgunadi alias Prabu Ekalawaya yang ingin sekali berguru kepada Begawan Durna. Namun, keinginannya tidak kesampaian sebab Resi Durna sudah mempunyai murid hebat yang sangat disayanginya, yakni Arjuna.

Maka, Palgunadi membuat patung seperti Resi Durna, dianggap sebagai gurunya. Dia dengan tekun dan bersungguh-sungguh berlatih seni memanah, seolah-olah ditunggui Durna.

Berkat kesungguhan berlatih dan iman yang kuat, ia direstui ”guru”-nya. Kehebatan Palgunadi melampaui kepiawaian Arjuna dalam seni jemparingan! Begitu pula dalam pukul-memukul, berbaku-banting, dan beradu keris. Seperti Dirac yang dianggap mentor Feynman, Durna juga dianggap mentor Palgunadi. Apa yang berlaku di dunia Barat modern ternyata telah lebih dulu dipraktikkan dalam budaya ketimuran. Persoalannya, bagaimana kita mendidik anak muda agar kelak jadi guru/mentor idola bagi murid-muridnya? Guru idola itu dipersiapkan atau dilahirkan? Yang menentukan wiyata, atau talenta? Wiradat atau bakat? Nurture atau nature? Entahlah. Mungkin kedua-duanya. Kalau benar begitu, bagaimana ”nurture” harus diberikan?

Di luar bakat bawaan seseorang, kepiawaian sebagai guru ditentukan oleh penguasaan bahan dan teknik penyampaian. Di aras atas (guru SMA atau dosen) pada hemat saya penguasaan (mastery) itulah yang harus didulukan. Sesudahnya baru dilatih seni mengajarkan materi yang telah dikuasainya. Ini mengacu kepada program pendidikan guru secara berturutan (consecutive).

Hanya di aras bawah saja (PAUD, TK, dan SD) program pendidikan guru ”pas” diberikan secara berbareng (consecutive).

L Wilardjo Guru Besar Universitas Kristen Satya Wacana

Sumber: Kompas, 17 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: