Home / Artikel / Ginseng Belum Dapat ditanam di Indonesia

Ginseng Belum Dapat ditanam di Indonesia

DALAM sebuah acara tivi di awal tahun 1984, muncul tanaman ginseng Korea yang tumbuh subur nun di sebuah desa di Pasuruan sana. Waktu itu saya tidak begitu kaget. Soalnya jauh sebelumnya, sewaktu menghadiri Penas (Pekan Nasional) Kontak Tani dan Nelayan di Barabai (Kalsel) tahun 1981, saya pun pernah mendengar kabar bahwa ada beberapa petani yang tengah getol menanam ginseng Korea.

Karena sekarang teve telah pula menyorotnya, maka saya dan teman-teman pun lalu sibuk mengumpulkan data serta fakta yang ada di lapangan maupun di perpustakaan dengan semangat menggebu-gebu. Betapa tidak? Siapa tahu sebentar lagi Indonesia bisa menggeser Kalifornia yang telah lebih dulu menyaingi Cina, Korea dan Jepang dalam hal ”perginsengan” dunia. Dan hasilnya? Ternyata tanaman yang disorot kamera teve itu bukanlah ginseng.

Tak punya nilai ekonomis
Tahun ini, jadi sudah dua tahun semenjak teve menyorot tanaman tadi, saya masih sering menerima surat atau tamu yang menanyakan ihwal ”ginseng” tersebut. Bagaimana cara pemasarannya, siapa saja yang mau beli, berapa harganya dan sebagainya. Konon, para peminat ”ginseng” tersebut membeli bibit dalam pot dengan harga Rp 5.000 sampai Rp 10.000 bahkan seorang teman di Banjarmasin pernah ketemu dengan pembeli bibit ”ginseng” yang bersedia membayar Rp 12 000, per tanaman. Padahal tanaman tersebut bukanlah ginseng melainkan kolesom (Talinum racemosum (R. Bach), bahkan ada juga yang cuma som jawa alias talesom (Talinum paniculatum (Jacq) Gaertn). Dua tanaman ini memang juga merupakan tanaman obat, tapi sama sekali tak punya nilai ekonomis.

Baik kolesom maupun som jawa memang mengandung pula saponin serta beberapa zat lain dan umbinya bisa dimanfaatkan untuk penguat tubuh serta memperlancar peredaran darah. Khasiat inilah yang sering disalahtafsirkan sebagai berkhasiat untuk menyembuhkan lemah syahwat atau menambah nafsu seks. Beberapa perusahaan jamu maupun Balai Penelitian Tanaman Obat (BPTO) di Tawangmangu memang juga mengoleksi tanaman ini. Namun sampai saat ini belum kedengaran ada perusahaan jamu atau farmasi yang memanfaatkan kolesom maupun som jawa untuk ramuan jamu atau obat mereka. Kalau ada merek anggur yang diembel-embeli dengan kolesom, itu hanyalah sekadar daya tarik.

Sebenarnya minuman tersebut justru mengandung alkohol dengan prosentase yang sangat tinggi hingga mudah bikin teler. Repotnya lagi, sekarang ini di masyarakat ada anggapan yang jauh lebih salah. Katanya, baik kolesom maupun som jawa yang mereka sebut ginseng king yang berkhasiat justru daunnya. Ini tentu sangat menyesatkan. Dan anggapan sesat ini bukan hanya terdapat di kalangan para petani udik yang kurang pengetahuan tapi juga ada di tingkat lebih intelek. Misalnya saja di kalangan para sastrawan.

Yang Asli
Ginseng yang asli berasal dari kawasan pegunungan di Asia. Bentuk tanaman maupun daunnya jelas berlainan sekali dengan kolesom maupun som jawa yang diisyukan sebagai ginseng itu. Ada beberapa spesies ginseng dari genus panax. Tapi yang populer adalah Panax ginseng (ginseng korea), Panax pseudoginseng (ginseng cina), Panax japonicus (ginseng jepang), dan Panax quinque-folium (ginseng amerika atau ginseng california). Ada juga dua spesies ginseng yang tidak berasal dari genus panax yakni Eleutherococcus seticocus Maxim(ginsengsiberia) dan Rumex hymenosepalus (ginseng padang pasir). Karena ginseng-ginseng asli itu berasal dari kawasan sub tropis dan biasa hidup di pegunungan, maka jelas agak sulit untuk jadi imigran di Indonesia. Atau, kalau toh akan dicoba ditanam di sini, ginseng hanya akan mau ditempatkan di Dieng, Tengger atau tempat-tempat lain yang hawanya memang dingin.

Seperti halnya kolesom atau juga som Jawa, ginseng juga mengandung saponin yang berkhasiat merangsang selaput lendir dan memperlancar peredaran darah serta memperkuat daya tahan tubuh. Akar ginseng yang sudah dikeringkan dapat dibeli atau di pesan di toko-toko obat Cina. Yang kualitasnya bagus, harganya bisa sampai ratusan ribu sepotong. Tapi untuk menghindarkan penipuan atau pemalsuan, sebaiknya mereka yang berminat pada ginseng berhubungan dengan sinshe yang bonafid.

Benarkah ginseng mempunyai khasiat untuk menyembuhkan segala macam penyakit seperti tercermin dari namanya (panax dari istilah Yunani, pan=semua dan axos=obat)? Tentu saja tidak. Juga tidak benar anggapan bahwa ginseng bisa membuat pria jadi perkasa daya seksnya. Atau bahkan bisa menyembuhkan lemah syahwat.

Yang mirip ginseng
Di Indonesia, sebenarnya banyak tanaman yang khasiatnya agak mirip-mirip ginseng dan telah digunakan oleh perusahaan jamu maupun farmasi. Misalnya saja pasak bumi (Eurycomae longifoliae), tabat barito (Ficus delsoidea), kayu rapat (Parameria leavigata), pule pandak (Rauvolfia serpentina) dan yang paling legendaris purwoceng (Pimpinella pruatjan). Lantaran kelewat banyak peminatnya sementara populasinya sangat terbatas, purwoceng yang habitat aslinya di pegunungan Dieng ini, kini terancam punah. Menurut Plant Red Data Book (Lucas & Cygne, 1978), purwoceng dikatagorikan sebagai genting (endangered), yakni jenis tanaman yang terancam kepunahan dan tidak akan bertahan tanpa perlindungan ketat untuk menyelamatkan kelangsungan hidupnya. Kenapa tanaman-tanaman tersebut banyak dimanfaatkan oleh para pengusaha jamu serta farmasi? Konon karena mengandung zat penguat tubuh (tonikum), bahkan oleh masyarakat terlanjur dianggap sebagai tanaman yang mengandung zat perangsang nafsu seks.

Tapi kenapa dan sejak kapan tanaman kolesom serta som jawa diisyukan sebagai ginseng? Tak ada seorang pun yang tahu. Saya sendiri mendengar isyu tersebut pertama kali di pertengahan tahun 1981. Saya yakin jauh sebelumnya isyu, tersebut telah menyebar ke masyarakat luas. Dan kalau kemudian bibit tanaman kolesom serta som jawa tersebut diperdagangkan sebagai ginseng dengan harga antara Rp 5.000-Rp 10.000, sudah tentu hal itu kelewatan. Lebih-lebih kemudian ikut pula dipromosikan oleh TVRI bahkan sampai menjalar pula di kalangan sastrawan kita yang ingin ”perkasa” dan ”jantan” seperti Chairil Anwar.

Yang kasihan tentu saja para petani yang sudah terlanjur jadi korban. Baru-baru ini saya kedatangan seorang petani dari kawasan Tangerang. Dia membawa tanaman som jawa dalam pot plastik. ”Pak saya sudah menanam ”ginseng” ini seluas 200 meter persegi. Di mana saya harus memasarkannnya?, tanyanya. Konon petani tadi membeli bibit ”ginseng” tadi di Bogor seharga Rp 5.000 per pot. Setelah saya kasih tahu bahwa itu bukan ginseng tapi som Jawa yang tak punya nilai ekonomis apa-apa, petani itupun nampak kecewa sekali. Kasihan. Mudah-mudahan korban lain tak ada lagi. Kolesom dan som
jawa itu memang bukan ginseng (F. Rahardi)

Sumber: Kompas, Minggu, 31 Agustus 1986

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Masa Pancaroba

Dalam keadaan kini, saat kita semua merasa tertekan oleh pembatasan yang dikenakan karena Covid-19, dunia ...

%d blogger menyukai ini: