Home / Artikel / Merenungi Usia Manusia

Merenungi Usia Manusia

Dari ada sampai tiada, usia manusia saya renungkan menjadi empat periode umur: Periode Mula, Muda, Tua, dan Henti. Keempat periode itu berawal dari titik lahir sampai titik mati, dan setiap periode dibatasi dua titik yang jarak usianya sama, 25 tahun.

Pemikiran pragmatis demikian, saya namakan pemikiran grafikal (PG). Ini sekadar perenungan pragmatis, lahiriah semata-mata, tanpa memasuki segi batiniah, apalagi segi agama.
Perenungan usia manusia ini, ingin saya kaitkan dengan pembangunan pedesaan yang berbasis kelompok tani. Pendekatan pertanian berbasis kelompok telah menggelora sejak adanya Program Bimas Padi Sawah awal-awal tahun 1960-an.

Mahasiswa digerakkan untuk berpartisipasi dalam proyek ini. Hasil kenaikan produksi padi cukup mengesankan berkat teknologi maju yang diterapkan oleh petani berdasarkan hasil-hasil penelitian pemupukan NPK dan pemberantasan hama penyakit padi yang dicobakan penerapannya dan tercapai bisa mempertinggi produksi padi petani.

PENDIDIKAN

–TOTO SIHONO

Bagaimana kalau sistem Bimas diterapkan pada masing-masing periode usia dalam rangka Program PG? Pertama-tama yang perlu dilakukan adalah inventarisasi jumlah warga desa.
Periode Mula barangkali banyak diisi oleh siswa SD dan SMP, sedangkan kelompok siswa SMA barangkali sudah relatif lebih sedikit karena banyak yang meninggalkan desa. Kelompok muda dalam Periode Muda jelas tinggal “hitungan jari” karena tidak berada di desa lagi. Entah bekerja atau sekolah di kota.

Periode Tua dan Periode Henti yang berisi orang-orang relatif tua, adalah generasi kelahiran 1950-an yang sudah kurang produktif dan jumlahnya sedikit.

Situasi kritis
Pusat perhatian kita adalah situasi pedesaan yang kritis oleh tarikan kuat perkotaan yang lebih menjanjikan, menciptakan situasi pembangunan desa yang berfokus pada kelompok Periode Mula. Melalui pendidikan formal perlu diciptakan sistem pendidikan yang berorientasi pengembangan agroindustri pedesaan.

Harus ada program penelitian dengan menggerakkan tenaga-tenaga pemikir yang lebih berorientasi pada agroindustri pedesaan berbasis kelompok tani. Perlu diciptakan program pendidikan sistem teknologi maju dalam penerapan pembangunan pertanian dari hulu sampai hilir yang terintegrasi dengan rencana pembangunan desa setempat.
Sistem pengelolaan desa jangka panjang perlu menjadi dasar pendidikan formal sampai tingkat menengah, plus pemanfaatan teknologi media sosial dengan teknologi bertingkat modern.

Walau demikian, semangat membaca media cetak masih perlu diteruskan. Semangat membaca akan memudahkan mencari tambahan pengetahuan, baik di media cetak maupun digital.
Dalam hal kelompok usia muda dan tua yang saat ini berusia 30-70 tahun dan masih tinggal di desa, merekalah yang diharapkan menjadi inspirator pembangunan desa. Di tangan merekalah pembangunan nasional berbasis desa pinggiran berada.

Bagi saya apa yang disebut desa pinggiran bukan saja desa di perbatasan, di pulau-pulau yang jauh dari pusat pemerintahan, tetapi juga desa yang selama ini masih tergolong ‘jauh’ dari perhatian pembangunan nasional. Dengan majunya teknologi komunikasi hal ini semestinya bukan menjadi masalah lagi.

Sumber daya manusia
Untuk terlaksananya pembangunan sesuai dengan apa yang diprogramkan dan bagaimana implementasinya, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni fisik maupun intelektualnya. Kalau SDM itu disyaratkan lulusan S-1 perguruan tinggi, misalnya, maka di samping ilmunya masih diperlukan sikap dan kesiapan mentalnya dalam berhadapan dengan petani.

Belum tentu seorang sarjana pertanian yang berprogram studi agronomi, misalnya, cukup memadai dalam ilmu sosial-ekonomi atau sosial-politik menghadapi problem desa pinggiran. Perlu pendidikan tambahan ekologi manusia dalam hal pendekatan kepada petani.

Pikiran dasar yang saya pakai ialah pengelompokan manusia dengan basis usia berinterval 25 tahun. Kalau diasumsikan dari ada menjadi tiada berjangka 100 tahun, maka ada empat kelompok usia sebagaimana saya sebutkan di awal.

Bagian perencanaan

Dalam hal pengelompokan ini, sebelum dan sesudahnya tiada, bisa jadi ada juga kelompok usia yang tidak sampai saya jadikan bahasan naskah saya ini, meski saya meyakini itu ada.

Kemampuan saya hanya bersifat grafikal, bersumbukan X dan Y, menciptakan garis yang selalu bergerak maju tidak pernah mundur. Hal ini saya dasarkan pemikiran bahwa usia manusia itu selalu maju, tidak pernah bisa dibuat mundur.

Dengan menuliskan sebuah gagasan pemikiran berupa pengelompokan masyarakat atas dasar usia, saya berharap perencanaan pembangunan baik di daerah-daerah maupun pembangunan di tingkat nasional akan lebih bisa diikuti oleh masyarakat. Bagaimana pun juga, setiap insan tentu berkepentingan sekaitan dengan umurnya.

Dengan demikian program pembangunan akan mudah dicerna dan dihayati oleh setiap individu. Mungkin juga bisa lebih gampang untuk diresapi. Demikianlah harapan saya dengan menulis naskah ini. Semoga bisa mendatangkan manfaat bagi semua yang membacanya.

Sjamsoe’oed Sadjad, Guru Besar Emeritus, Fakultas Pertanian IPB

Sumber: Kompas, 2 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: