Home / Artikel / Garis Wallace, Hubungan Dengan Lempeng Tektonik

Garis Wallace, Hubungan Dengan Lempeng Tektonik

Garis Wallace tetap dapat dipergunakan untuk sarana rekonstruksi Paleogeografi dan aspek-aspek kehidupan yang menyertainya.

DALAM ilmu geografi fisik (alam), garis Wallace merupakan salah satu batas zoogeografi yang tajam dan pertama kali dapat dideteksi di bumi. Garis ini melewati Selat Makasar, ke utara sampai ke Kepulauan Filipina dan Jepang serta ke selatan sampai Nusa Tenggara. Garis Wallace ini secara regional membagi kumpulan fauna Asia di sebelah timur.

Berdasarkan data yang didapat saat itu, diasumsikan bahwa secara geotek-tonik, Paparan Sunda (Sunda Shelf) pernah menyatu dengan Asia dan Paparan Sahul pernah menyatu dengan Australia, dalam jangka waktu yang cukup lama, dengan pemisah berupa lautan, sehingga tak terlewati oleh flora maupun fauna. Banyak perbedaan pendapat, yang sangat dipengaruhi latar belakang keilmuwan seseorang, untuk merangkaikan data yang diketahui guna mengambil suatu hipotesis.

Para ahli biologi cenderung mem buat dan mengambil data dari rekonstruksi geografi, tetapi para pakar geografi menggunakan tanda atau kumpulan data biologi yang ada. Sehingga seperti suatu lingkaran yang tidak akan ditemukan jalan keluarnya. Tetapi dengan ditemukannya fosil gajah purba Stegodon timorensis oleh S. Sartono dari ITB, keberadaan Garis Wallace mulai diragukan kesahihannya.

Dengan adanya Teori lempeng Tektonik, keberadaan fosil-fosil itu bisa direkonstruksi kembali dengan data yang lebih beralasan. Sehingga daerah biogeografi yang dibatasi oleh garis Wallace merupakan perkembangan dari Benua Gondwana. Sejak 140 juta tahun yang lalu (awal Cretaceous) merupakan pecahan India dan bergerak bergeser ke utara dan bergabung dengan Laurasia (55 juta tahun yang lalu). Sedangkan pecahan Australia dan New Guinea bergabung dengan Laurasia Tenggara, pada pertengahan Miosen (15 juta tahun yang lalu), sebelum Kepulauan Malaya yang sekarang terdapat.

Flora dan fauna mempunyai batas variasi habitat yang khas, yang mana hidup dalam waktu yang sama, penyebarannya selalu menunjukkan pembatasan yang mencerminkan perbedaan iklim. Biota- biota selalu dipengaruhi oleh variasi yang terjadi di dalam siklus hidupnya masing-masing. Sehingga interpretasi kisarannya akan menjelaskan adanya hambatan Paleogeografinya, maupun kedudukan tempat itu dalam perhitungannya.

TINJAUAN GEOGRAFI
Garis Wallace yang membatasi hewan dan tumbuh-tumbuhan Asia di sebelah barat, melewati Selat Makasar hingga ke Selat Lombok, dan Garis Weber di sebelah timur Sulawesi membatasi flora-fauna Australia di sebelah timurnya, menyebabUn Sulawesi mempunyai flora-fauna transisi, seperti: komodo, anoa, tapir, yang tidak tedapat di daerah lain karena letaknya dibatasi oleh kedua garis tersebut.

Gambar 2. Bagan hubungan antara pergerakan lempeng tektonik dengan jalur gempabumi (JA.Katili, 1974).

Sulawesi mempunyai sifat-sifat fisiografi yang khas, di mana terdapat cekungan laut dalam (depth oceanic basin), busur- busur pulau yang membelok tajam hingga membentuk huruf S dan pada jarak yang relatif dekat, terdapat perbedaan relief (topografi) yang sangat menyolok sehingga sifat-sifat yang khas ini dapat ditinjau dari beberapa aspek. Letak geografi dan keadaan fisiografi yang dipisahkan oleh adanya Garis Wallace, ternyata mempunyai keadaan laut, topografi yang jauh berbeda dengan daerah yang ada di sebelah menyebelahnya.

GAF Molengraff menelusuri dan mengukur hubungan muara-muara sungai di Sumatera Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Utara Jawa. Ternyata pada Paparan Sunda merupakan Sunda River yang bermuara di Laut Cina Selatan dengan panjang 1000 km dengan kedalaman 60-70 meter, dan dibedakan dua macam: North Sunda River System (Molengraff River) berasal dari Sumatera, Malaya, Kalimantan Barat, dengan muara di Laut Cina Selatan; South Sunda River, berasal dari Sumatera Selatan dengan cabang-cabang dari Kalimantan Selatan, Jawa mengalir ke timur dan bermuara di Selat Makasar. keduanya sebagai pembuktian terdapat kesamaan fauna Asia, baik fauna darat maupun air tawar, yaitu spesies ikan air tawar.

Kepulauan Irian dan sekitarnya disatukan dengan Benua Australia oleh Paparan Sahul, yang dalam menyatukan dan membuktikan pernah adanya hubungan dari Pulau Irian dengan Benua Australia (Gambar 1). Binatang dan tumbuh: tumbuhan yang saat ini terdapat di Malaysia berasal dari satu di antara dua sumber, Laurasia, Gondwana lewat Australia atau Gondwana lewat India.

Ketika zaman Es, permukaan air laut turun dari ketinggiannya semula, Iebih kurang 180 meter, yang menyebabkan terbentuknya blok Paparan Sunda dan blok Paparan Sahul. Bagian Barat atau blok Paparan Sunda berpusat di Sumatera, Malaya, dan Kalimantan. Sedangkan bagian timur, blok Paparan atau blok Papua, berpusat di New Guinea.

Secara keseluruhan masing-masing blok dapat dibandingkan kekayaan spesies dalam penyebarannya dengan salah satu hutan Refugia (hutan yang tergantung air hujan) di Afrika dan Amerika. Ternyata mempunyai perbedaan spesies dalam arti jumlah dan distribusinya.

Florin (1926), memisahkan Conifera dalam dua kelas besar yaitu bagian utara dan selatan. Kedua klasifikasi ini dapat terwakili di Malaysia, yaitu Pinus merkusii dan Pinus kesiya dalam kisaran yang tumpang tindih (overlap). Enam genus dari Magnoliaceae dijumpai pula di Malaysia dan empat sisanya menyebar di Cina Selatan dan bagian Utara Indo Cina.

Sehingga Magnoliaceae mempunyai penyebaran yang kuat di daerah-daerah Sub Tropis di Asia Timur dan Malaysia. Elmerrillia yang ada di Malaysia menyebar dari bagian timur Kalimantan sampai New Britain sehingga merupakan petunjuk kon-sentrasi di bagian barat Malaysia. Malaysia ,adalah bagian di mana penyebaran dari genus Proteaceae di Asia Tenggara menyebar sangat kuat. Fauna yang ada bertubuh besar seperti gajah, badak, banteng, celeng, dsb.

Phylloclaous salah satu genus Conifer selatan, dari famili Podocarpaceae. Famili Winterceae merupakan famili prirnitif dan tersebar di Kepulauan Pasifik Barat, di mana famili-famili ini membatasi bagian selatan dari Magnoliaceae. Fauna yang ada bertubuh kecil dan berkloaka seperti kangguru, tapir, antilop, dan berbagai jenis burung dengan warna bulu yang indah, berparuh bengkok, ciri khas burung pemakan biji-bijian.

LEMPENG TEKTONIK
Bagian dari kulit bumi (litosfer) yang termasuk juga bagian paling Itiar dari selimut bumi (mantle), merupakan lempengan-lempengan bumi yang rigit, bergerak satu terhadap lainnya dengan kecepatan rata-rata 16 cm per tahun. Batasan dari setiap lempeng akan merupakan jalur sumber gempa, sumber orogen dan tektonik, dengan per-wujudan berupa pematang tengah samudera (middle ocean ridge), patahan transform atau palung laut dalam (Gambar 2).

Tempat di mana terjadi pertumbukan akan merupakan jalur dengan kegiatan orogen, meliputi gejala-gejalakonsumsi lempeng tempat pertumbuhan benua, pengerutan lapisan, penebalan kerak bumi, perhubungan isostasi, yang diikuti kegiatan magmatik dan gejala metamorfisme. Apabila salah satu lempengnya terdiri dari kerak samudera, maka pada pertemuan dari tumbuhan lempeng akan membentuk suatu busur kepulauan yang terdiri atas Palung Laut Dalam dan Busur Magmatik di mana dalam teori lempeng tektonik, sistem ini disebut Sistem Palung Busur atau Arc Trench System.

Berdasarkan konsep ini, Prof JA Katili (1980) berpendapat bahwa Busur Kepulauan Indonesia merupakan tempat pertemuan tiga lempeng tektonik besar, yaitu Lempeng Hindia-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik (libat Gambar 3).

Antara Indonesia bagian barat Garis Wallace dan bagian timur Garis Wallace, mempunyai perbedaan struktur geologi yang menyolok.

Bentuk Pulau Sulawesi yang menyerupai huruf K misalnya, diakibatkan karena tumbukkan tiga lempeng dan menyebabkan pula adanya struktur geologi yang rumit. Proses geologi yang kompleks di Sulawesi, dicerminkan oleh busur-busur tektonik yang ada.

Gambar 3. Busur Kepulauan In-donesia merupakan tempat pertemuan 3 lempeng tektonik.

Penyebaran di lautan dan di daratan mengakibatkan terlipatnya dasar samudera sehingga membentuk suatu cekungan formasi baru. Pemekaran lantai samudera (sea floor spreading) yang ada di Selat Makasar juga berpengaruh cukup besar.

Laut Banda tersusun dari kerak samudera yang terangkat, membentuk lipatan karena adanya busur Banda dengan arah barat- timur. Hal ini diakibatkan oleh kombinasi pergerakan lempeng Australia ke utara dan lempeng Pasifik ke arah barat. Selat Makasar merupakan pemekaran lantai samudera yang sebenamya akan merupakan Garis Wallace itu.

Gerakan Lempeng Pasifik yang menekan P. Sulawesi dan ditahan oleh gerakan Lempeng Asia, mengakibatkan laut yang terletak antara Kalimantan dan Sulawesi semakin sernpit. Tetapi pada tnasa Kuarter, Selat Makasar dalam keadaan seperti sekarang ini, merupakan akumulasi sedimen yang cukup tebal, sehingga menarik untuk diteliti dalam hubungannya dengan perminyakan dan gas bumi. Pembentukan Selat Makasar yang merupakan Garis Wallace tersebut, sebagai salah satu garis tegas zoogeografi yang teramati di burnt, terbentuk melalui beberapa tahap dalam teori lempeng tektonik, sbb:

Pertama, pembentukan Pulau Sulawesi dimulai pada kala Miosen dengan ter-jadinya tumbukkan lempeng samudera Pasifik yang menggeser P. Sulawesi sejauh 800 km, sehingga membentuk daratan Asia di Pulau Kalimantan. Pulau Sulawesi mempunyai bentuk busur kepulauan dengan arah memanjang utara-selatan, dipisahkan dengan Kalimantan oleh adanya Laut Sulawesi Utara dan Selatan. Lempeng Pastfik bergeser ke arah barat dan Lempeng bergeser ke utara, di mana keduanya ditahan pergerakannya oleh Lempeng Eurasia.

Kedua, pada zaman Pliosen Awal, adanya sesar mendatar, Banggai Sula mendesak P. Sulawesi ke arah barat mendekati Kalimantan. Pulau Sulawesi bagian barat mulat membentuk busur melengkung, tetapi masih dengan arah utara-selatan.

Ketiga, pada masa Pliosen Akhir, di mana pergeseran Lempeng Pasifik masih berlangsung, sehingga Pulau Sulawesi telah membentuk pola K dan berimpit dengan Pulau Kalimantan.

Keempat, pada zaman Pleistosen (Kuarter), fnulai terjadi proses-proses tektonik di antaranya sesar transcurrent Sinistral Pasternoster, pemekaran lantai samudera sepanjang Palung Sulawesi dan adanya sesar aktif Palu-Koro dan sesar Matano menyebabkan posisi Pulau Sulawesi berada pada kedudukan yang sekarang ini.

Kelima, kedudukan P. Sulawesi saat ini sebenarriya telah tergeser kembali ke arah timur sejauh 600 – 700 km dari posisi awal terbentuknya. Di mana Pulau Sulawesi merupakan pulau yang labil, dengan kegiatan gempa, zona sesar, dan zona tektonik aktif.

Tetapi Visser dan Hermes (1962) mengatakan bahwa perpecahan daratan Gondwana terjadi pada zaman Cretaceous Tengah. Di mana pada masa Eosen-Oligosen Mendala Sulawesi Timur masih terpisah sejauh 200 km dari Mendala Sulawesi Barat dan sejauh 500 km dari Mendala Banggai Sula. Mendala Sulawesi Timur merupakan Lempeng Samudera yang bergerak ke arah Barat dari sejak akhir Cretaceaous, menujam ke bawah (subduksi) suatu lempeng lain di sebelah baratnya.

Mendala Banggai Sula merupakan lempeng benua (continentat plate) yang relatif sudah stabil sejak akhir masa Mezosoikum. Kemudian lempeng itu bergerak ke arah barat dan sejak Miosen Tengah bertemu dengan Lempeng Mendala Sulawesi Timur. Kini diperkirakan Lempeng Banggai Sula menunjam ke bawah lempeng Sulawesi Timur, tetapi hanya bagian utaranya. Dari data yang diperoleh saat ini, diasumsikan secara geografis, bahwa beberapa juta tahun yang lalu Paparan Sula pernah menyatu dengan daratan Australia. Keduanya dipisahkan oleh lautan, yaitu Garis Wallace, yang tak dapat dilewati oleh fauna dan flora.

Keberadaan fosil fosil flora dan fauna dapat merekonstruksi kembali teori Lempeng Tektonik, secara tepat.

Kehidupan yang berasal dari Gondwana dan Laurasia, di mana Gondwana bergerak ke utara, sehingga ada pecahan yang melewati ekuator, menyebabkan berubahnya iklim purba (paleoclimate) dan seleksi terhadap spesies yang ada.

Akibat pergerakan lempeng tektonik menyebabkan adanya papas an, tumbukan, serta subduksi. Hal ini merubah posisi batuan yang terkandung terhadap permukaan laut, sehingga terjadi putusnya mata rantai evolusi. Perjalanan pecahan Gondwana yang melewati jalur berbeda-beda, sehingga dipengaruhi oleh proses geologi beserta segala aspeknya.

Garis Wallace tetap dapat dipergunakan untuk sarana rekonstruksi Paleogeografi dan aspek-aspek kehidupan yang menyertainya Pembentukannya sudah dimulai sejak zaman Pleistocen dan tetap ada hingga kini. Tetapi karena selama pembentukan hingga mencapai posisinya yang sekarang terjadi variasi paleogeografi, menyebabkan tidak semua spesies yang ada mampu bertahan hidup.

Oleh. Amien Nugroho

Sumber: Majalah AKUTAHU/JULI 199

Share
%d blogger menyukai ini: