Home / Sosok / Febri Mustikawati; Impian ”Mewah” Si Gadis Dusun

Febri Mustikawati; Impian ”Mewah” Si Gadis Dusun

Di Dusun Welahan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, sebagian besar remaja putri langsung menikah setelah menyelesaikan pendidikan menengah. Febri Mustikawati tidak mau menempuh jalan itu. Ia memilih memupuk mimpi untuk sekolah tinggi. Setelah impiannya berhasil ia berusaha menularkan mimpi yang sama kepada anak-anak dusun lewat taman bacaan.

Pertengahan tahun 2010, menjelang kelulusan sekolah menengah pertama. Febri Mustikawati, anak perempuan satu-satunya dari dua bersaudara pasangan Kasman dan Sulistyawati, bimbang luar biasa. Ia tidak ingin seperti teman-teman, atau tetangganya yang lain, atau kakak lelakinya, Andi Susilo, yang tak lagi sekolah setelah lulus SMP. Lantas menjadi pembantu rumah tangga di kota atau menikah muda untuk selanjutnya tinggal di rumah mengurus rumah tangga.

Febri ingin sekali melanjutkan sekolah agar tidak bernasib sama seperti teman-teman atau kakak lelakinya. Di sisi lain, ia tahu benar keterbatasan keluarganya. Ayahnya hanya sopir mikrolet, sedangkan ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Penghasilan mereka hanya cukup untuk makan sekeluarga.

Namun, tekad Febri untuk melanjutkan sekolah sudah bulat. Suatu hari, ia memberanikan diri menyampaikan keinginannya kepada kedua orangtuanya. Sang bapak terdiam, sementara ibunya menolak. Menurut ibunya, perempuan tidak perlu pendidikan tinggi. Karena, pada akhirnya perempuan akan kembali ke dapur, menjadi seorang istri. Ibunya berharap sang anak bisa mengikuti jejaknya menjadi PRT untuk membantu membiayai hidup keluarga.

”Tapi aku tidak mundur. Menurutku kalau ingin membantu orangtua, ya, harus sekolah tinggi. Kalau aku mundur, mungkin sekarang aku tidak ada di sini (Jakarta) dan sudah punya anak,” kata Febri tertawa. Ia ditemui di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (17/5), di acara Bincang Inspiratif #AkuBaca.

Tekadnya makin kuat ketika ia mendengar omongan tetangga yang meremehkan niatnya dan orangtuanya. ”Kamu itu punya anak pengin sekolah, emang bisa apa nyekolahin?” ujar Febri menirukan ocehan orang kepada ibunya.

Di Dusun Welahan, Desa Tambak Sewo, Kabupaten Grobogan, pada 2010 itu, belum ada perempuan yang melanjutkan sekolah ke tingkat SMA. Dusun yang terletak tidak jauh dari Bleduk Kuwu, tanah vulkanik yang meletup-letup itu, dihuni 150 keluarga.

Kerja keras
Dengan berbagai cara, Febri akhirnya bisa meyakinkan orangtuanya untuk memberinya izin melanjutkan sekolah. Dia memilih bersekolah di SMK 1 Purwodadi. Pikirannya sederhana, dengan bersekolah di sekolah kejuruan, dia bisa mendapatkan keterampilan untuk masuk dunia kerja.

Sekolah itu berjarak 30 kilometer dari Dusun Welahan, tempat tinggalnya. Setiap subuh, dia berangkat ke sekolah dengan naik angkot, dan pulang menjelang sore. Selain biaya transportasi, dia juga harus membayar biaya sekolah Rp 200.000 per bulan.

”Bapak saya kerja lebih keras. Kadang lihat bapak kepanasan di terminal, bikin hati saya panas. Ibu juga (kerja keras). Makanya, saya bertekad harus cari cara membantu orangtua,” kata gadis kelahiran 7 Februari 1995 ini.

Mulai menginjak kelas II, dia mengikuti lomba akuntansi yang diadakan di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Dari situ, dia mendapat uang sekaligus prestasi. ”Saya bukan mengejar nama, tetapi uangnya ha-ha-ha.”

Ketika lulus SMK pada 2013, dia kembali di persimpangan jalan, seperti tiga tahun lalu. Febri ingin melanjutkan pendidikan demi mengubah nasib keluarga dan lingkungan. Namun, untuk kuliah perlu biaya. ”Duit dari mana? Wong cilik kayak Febri bisa apa? Nanti mau tinggal di mana? Emang kalau lulus bisa kerja apa?” begitu omongan dari tetangganya.

Di luar dugaan, keinginan Febri didukung sang ayah. Syaratnya, orangtua tidak menanggung biaya hidup. Febri menyanggupi. Dia ikut ujian masuk Universitas Negeri Semarang, Jurusan Akuntansi dan dinyatakan lulus. Setelah itu, ia mendapatkan beasiswa Bidik Misi. Dengan begitu, biaya perkuliahan dan biaya hidup bisa tertutupi. Hingga pertengahan 2017, Febri menjadi satu-satunya warga dusun yang bisa mencicipi bangku perkuliahan.

Buku pelita ilmu
Febri sadar benar bahwa untuk mengubah kehidupan, orang perlu pendidikan. Dari situ, Febri mendirikan Taman Baca Golek Ilmu pada awal 2014 saat liburan semester pertama. ”Tujuan aku sederhana saja. Biar anak-anak di dusunku itu punya mimpi dan cita-cita. Dulu kalau ditanya mau jadi apa, pada enggak tahu,” kata Febri.

Dia lalu mengajak lima anak rerata berusia enam tahun untuk datang ke rumahnya. Memanfaatkan ruang tamu rumah orangtuanya yang berlapis tanah, dia mengajarkan membaca, mengenalkan anak-anak dusun pada buku, dan menekankan perlunya cita-cita. Dia mengajarkan menari dan mendalang yang ia pelajari dari Youtube.

Perlahan tapi pasti, ”anak didiknya” bertambah. Dia lalu mengajak rekan-rekannya untuk membantunya mendapatkan buku. Komik, buku cerita, juga pelajaran dia dapatkan sedikit demi sedikit. Hal itu dia upayakan karena tidak kurang sekitar 50 anak datang setiap hari ketika dia berada di rumah. Koleksi bukunya terus bertambah, hingga mencapai satu rak setinggi 2 meter.

Jarak Semarang dan Grobogan yang tidak begitu jauh, sekitar 2 jam perjalanan dengan mobil, membuatnya bisa pulang ketika akhir pekan. Dia menyisihkan uang saku beasiswa yang dia dapatkan untuk membeli buku bacaan. Tidak hanya kepada anak-anak di dusunnya, dia juga mendekati ibu-ibu yang ada. Ketika ada arisan, dia juga ikut hadir. Hal itu penting karena penentu pendidikan anak tetaplah di tangan orangtua.

”Saya juga mengajak rekan yang aktif di kegiatan wirausaha untuk datang ke dusun. Dia memberikan motivasi dan mengajarkan apa yang bisa dikembangkan. Akhirnya, beberapa ibu-ibu mulai aktif membuat usaha rumah tangga, seperti jagung marning dan dijual ke pasar.”

Febri juga menyiapkan beberapa anak yang telah duduk di bangku SMA, untuk meneruskan kuliah. Namun, usahanya gagal. Terakhir, salah satu anak yang dipandunya untuk kuliah, tidak jadi melanjutkan pendidikannya. Febri tidak mampu mengubah sesuatu yang telah ada di depan mata. ”Saya selalu menghibur diri, setidaknya anak-anak itu sudah punya impian dan cita-cita,” cerita Febri.

Satu yang masih menghantuinya saat ini adalah apa kegiatannya setelah lulus kuliah? Sebab, dia mempunyai tanggung jawab moral kepada orang sedusun. ”Bagaimanapun saya harus mendapat pekerjaan yang lebih baik, karena saya harus memperlihatkan kepada orang, selepas kuliah kita bisa ke mana saja.”

KOMPAS/SAIFUL RIJAL YUNUS–Febri Mustikawati

FEBRI MUSTIKAWATI

LAHIR:
7 Februari 1995
PENDIDIKAN:
SDN 2 Gedangan, Grobogan
SMP 1 Wirosari, Grobogan
SMK 1 Purwodadi, Grobogan
Kuliah di Jurusan Akuntansi Universitas Semarang
PENGHARGAAN:
Juara 1 Olimpiade Akunting di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Juara 1 Economic Brain Competition di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang
Juara 1 LKS Tingkat SMA/SMK di Kabupaten Grobogan
Juara 1 LCC Perpajakan SMA/SMK di Tingkat KPP Pratama Blora

SAIFUL RIJAL YUNUS
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 Mei 2017, di halaman 20 dengan judul “Impian ”Mewah” Si Gadis Dusun”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: