Home / Berita / Ekosistem Riset Semakin Masif Saat Pandemi

Ekosistem Riset Semakin Masif Saat Pandemi

Penanganan penyakit atau pandemi yang tidak cukup hanya dengan pendekatan medis membuat ekosistem riset semakin masif demi melahirkan inovasi baru guna mempercepat penanganan Covid-19.

Sejumlah inovasi dan hasil-hasil riset baru terus dilahirkan untuk mendukung percepatan penanganan Covid-19. Ekosistem riset riset yang produktif ini didukung kolaborasi multipihak sehingga bisa mendukung penanganan pandemi dari berbagai sisi.

Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro dalam webinar bertajuk “Penanggulangan Covid-19 Berbasis Pengetahuan Dan Inovasi”, Senin (22/6/2020).

Bambang menyatakan pihaknya langsung berinisiatif membuat konsorsium riset dan inovasi khusus untuk penanganan Covid-19 saat kasus pertama terdeteksi pada awal Maret lalu. Sejumlah lembaga turut dilibatkan seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), serta perguruan tinggi bereputasi di bidang kedokteran, farmasi, biologi, hingga teknik.

Karya inovasi Universitas Indonesia berupa masker maskit yang memiliki keunggulan filter dengan teknologi karbon aktif dan nano silver dipamerkan dalam mini expo acara forum diskusi “Sinergi Triple Helix Bidang Kesehatan dan Obat” di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (26/2/2020).Dari tim konsorsium riset yang dibentuk, Kemenristek dapat mengembangkan inovasi teknologi ke dalam empat program atau kelompok. Pertama yakni pencegahan yang terdiri dari tanaman obat, vaksin, dan suplemen. Kedua, obat dan terapi dengan inovasi berupa produksi serum yang mengandung antibodi.

Kelompok ketiga yaitu skrinning dan diagnosis yang terdiri dari tes cepat dan tes usap tenggorokan (SWAB/PCR). Sedangkan yang keempat ialah alat kesehatan dan pendukung seperti ventilator, perangkat lunak, peta geospasial, dan robot pemberian obat.

“Izin alat kesehatan biasanya memakan waktu berbulan-bulan. Dengan kondisi emergency ini, ventilator dan test kit yang dibuat bisa selesai. Hampir semua yang masuk tahapan pengujian juga sudah mendapatkan izin edar. Ini tampaknya mustahil terjadi di masa normal,” ungkapnya.

Selain lembaga, Kemenristek juga mengajak masyarakat umum untuk mengajukan usulan dalam Pesta Ide Gotong Royong Penanggulangan Covid-19 (IDEAthon 2020). Hasilnya, terpilih 17 ide berbasis riset dan ilmu pengetahuan dari total 5.000 lebih ide yang diterima Kemenristek.

“Kami merasa beruntung bahwa dalam pandemi ini ekosistem riset dan inovasi yang barangkali di masa normal itu sulit untuk dibentuk, ternyata sekarang sudah bisa berjalan dengan baik. Adanya situasi yang urgent mendorong semua pihak keluar dengan kemampuan maksimalnya dan mau berkolaborasi,” ujarnya.

Bambang menekankan, penanganan penyakit atau pandemi tidak cukup hanya dengan pendekatan medis seperti obat dan alat kesehatan. Namun, perlu juga dengan memahami data yang berbasis riset dan ilmu pengetahuan.

Penyelesaian masalah endemi dan pandemi yang berbasis data dan riset juga pernah dilakukan saat terjadi pandemi kolera pada 1848. Saat itu, John Snow yang merupakan seorang dokter menggunakan data yang berbasis peta untuk melihat konsentrasi dari penderita kolera.

Apresiasi
Menteri Pendayagunaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Tjahjo Kumolo yang turut menjadi pembicara mengatakan, Kementerian PAN-RB berinisiatif memberikan apresiasi kepada inovator yang melakukan berbagai inovasi pelayanan publik dalam rangka penanganan Covid-19.

Kebijakan pemberian apresiasi tertuang dalam Keputusan Menteri PAN-RB Nomor 109 Tahun 2020. Dalam keputusan tersebut, tiga kategori yang menjadi target pemberian apresiasi yakni respon cepat tanggap, pengetahuan publik, dan ketahanan sosial. Adapun kriterianya ialah memiliki kebaruan, efektif, bermanfaat, dan dapat direplikasi.

Tjahjo menyatakan, adanya pandemi Covid-19 tidak boleh memengaruhi kinerja di internal Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk melayani publik. Sebaliknya, ASN dituntut tetap produktif dan inovatif namun tetap mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

“Untuk mendorong tumbuhnya ekosistem pengetahuan dan inovasi ini memang perananan pimpinan instansi kelembagaan sangat menentukan. Setiap pimpinan instansi khususnya kepala daerah harus membiasakan aparatnya bekerja menghasilkan terobosan dan inovasi baru,” katanya.

Akademisi dari Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) Yanuar Nugroho menegaskan, ekosistem pengetahuan dan inovasi sudah layak dan sepatasnya untuk mendapat tempat yang menonjol di Indonesia. Hal ini menjadi salah satu kunci untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju dalam sektor ilmu pengetahuan dan teknologi.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 23 Juni 2020

Share
x

Check Also

Diduga Kuat Covid-19 Bisa Menular Melalui Udara

WHO sedang mengkaji masukan sejumlah peneliti yang menyebutkan virus SARs-CoV-2, penyebab pandemi Covid-19, bisa menular ...

%d blogger menyukai ini: