Home / Artikel / Ekonomi Digital

Ekonomi Digital

Istilah unicorn, tol langit, dan industri 4.0 mengemuka dalam debat calon presiden dan wakil presiden beberapa waktu lalu. Bagaimana sebenarnya konteks dalam perekonomian kita? Mengingat perubahan revolusioner ini melanda perekonomian global. Krisis besar 2008 merupakan tonggak penting revolusi industri.

Pertama, hampir semua negara maju mengalami pengempisan siklus ekonomi akibat krisis dan diyakini satu-satunya cara keluar dari jebakan itu melalui inovasi teknologi. Mereka sudah memasuki fase masyarakat menua, sehingga tenaga kerja tak lagi mampu mendongkrak produktivitas. Kedua, masyarakat cenderung tak lagi percaya pada lembaga formal, khususnya sektor keuangan. Orientasi inovasi mengarah pada pola relasi (ekonomi) yang lebih informal, tanpa perantara, atau menghindari fungsi intermediasi.

Penelitian kecerdasan buatan dimulai sejak 1950-an, namun perkembangan pesat baru terjadi kurang dari 10 tahun terakhir. Mulai 2011, perkembangan kecerdasan buatan dinamis, menyangkut banyak aspek seperti data raksasa, machine learning, dan deep learning. Sophia, salah satu robot terpintar saat ini diperkenalkan pertama kali ke publik pada 2016 oleh Hanson Robotics, perusahaan berbasis di Hongkong.

Pada September 2008, terbit sebuah paper mengenai Bitcoin oleh seseorang yang mengaku bernama Satosi Nakamoto. Sebagai produk keuangan, hingga kini Bitcoin masih terus diperdebatan, tak ada konsensus global. Namun, teknologi yang dipakai Bitcoin, yaitu blockchain, telah diakui sebagai penemuan revolusioner yang dianggap setara dengan penemuan komputer. Bisa dibayangkan, blockchain akan mengubah lanskap semua bidang, tak hanya sektor keuangan. Pada 2015, pasar keuangan terbesar AS, Wall Street, mengumumkan telah mengadopsi blockchain. Setelah itu, banyak institusi, baik pemerintah maupun swasta, berlomba-lomba mengadopsi teknologi pencatatan ini.

Implikasi pada kita
Mungkin kita berpikir, implikasi perubahan revolusioner pada kita masih akan jauh. Di situlah letak masalahnya. Berbagai penemuan memang masih pada fase inkubasi dan belum memasuki fase komersialisasi, namun perkembangannya lebih cepat dari dugaan. Maka, upaya menyiapkan diri harus dipercepat.

Revolusi industri 4.0 merupakan pertemuan aspek fisik, digital, dan biologi (kecerdasan) yang menghasilkan inovasi yang belum pernah ada sebelumnya. Dukungan teknologi penyimpanan awan, internet untuk semua, dan prosesor komputer supercepat menciptakan ekosistem yang memungkinkan akselerasi penemuan pada hampir semua hal nyaris tanpa batas.

Baru-baru ini, Jepang mempelopori inisiatif pemanfaatan teknologi bagi peningkatan kualitas hidup manusia dan masyarakat, atau yang dikenal sebagai konsep Masyarakat 5.0. Kemajuan teknologi diarahkan untuk memperbaiki sektor kesehatan, lingkungan hidup, energi, dan kesejahteraan masyarakat secara luas. Dalam bahasa universal, teknologi harus mampu meningkatkan kemampuan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Pada 2014, Perdana Menteri Shinzo Abe mencanangkan robot sebagai pilar utama strategi pertumbuhan Jepang dengan semboyan “make Japan competitive again”. Anggaran 22 miliar dolar AS dialokasikan hingga 2020, lengkap dengan cetak biru pengembangan robot selama 5 tahun serta pendirian lembaga yang bertanggung jawab mengkoordinasikan implementasi program.

Bagaimana dengan kita? Potensi sektor digital di Indonesia besar, namun perlu upaya lebih sistematis dalam mengadopsi teknologi untuk meningkatkan produktivitas perekonomian domestik. McKinsey&Co dalam laporan yang terbit Agustus 2018 memperkirakan, pasar dalam jaringan di Indonesia akan tumbuh delapan kali lipat pada 2017 hingga 2022, dari 8 miliar dolar AS menjadi 55 miliar dollar AS-65 miliar dollar AS. Rata-rata pengeluaran individu akan meningkat dari 260 dollar AS setahun pada 2017 menjadi 620 dollar AS pada 2022. Situasi ini mirip dengan pengalaman China pada 2010-2015.

Sementara itu, Frost & Sullivan dalam laporan yang terbit 2018 memperkirakan, pangsa pasar pinjaman tanpa perantara akan mencapai 150 juta pada 2021, sementara pasar e-dagang mencapai 130 miliar pada 2020. Laporan ini juga menyitir target pemerintah mendigitalisasi 8 juta unit Usaha Kecil dan Menengah (UKM) hingga 2020, sebagai bagian dari peningkatan nilai UKM menjadi 10 miliar dollar AS.

Frost & Sullivan memperkirakan, pasar TV berbayar akan meningkat dari 758 juta dollar AS pada 2017 menjadi 4,9 miliar dollar AS pada 2022. Sementara, pasar asuransi akan meningkat dari 3,1 juta dollar AS menjadi 138 juta dollar AS pada periode yang sama. Layanan pendidikan dan kesehatan berbasis aplikasi diproyeksikan meningkat 8 dan 11 kali dalam 5 tahun mendatang. Perihal transaksi uang elektronik, Bank Indonesia mencatat lonjakan dari 2012 dengan transaksi Rp 1,97 triliun menjadi Rp 47,2 triliun pada 2017.

Sebagai pangsa pasar sektor digital, Indonesia sangat menjanjikan. Laporan Hootsuite and We Are Social Januari 2019 menunjukkan, 56 persen penduduk Indonesia merupakan pengguna internet, sementara jumlah pendaftar telpon seluler 133 persen dari total populasi. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terjadi peningkatan 13 persen dalam penggunaan internet dan 15 persen dalam pengunaan sosial media. Waktu yang dihabiskan mengakses internet setiap hari sebanyak 8 jam 36 menit.

Tentu kita tak bisa puas hanya sebagai pasar karena pada dasarnya teknologi digital mampu berfungsi dalam dua hal. Pertama, meningkatkan produktivitas tiap sektor, termasuk usaha kecil dan mikro serta sektor informal. Kedua, mampu mengintegrasikan ke dalam mata rantai produksi dengan nilai tambah lebih tinggi. Teknologi berfungsi menciptakan ekosistem secara utuh.

Pada fase ini, ada dua hal yang mendesak dilakukan. Pertama, pemetaan menyeluruh potensi ekonomi berbasis digital sekaligus fondasi kelembagaannya agar tidak ditangani secara parsial. Gejala tak adanya koordinasi sudah nampak, jangan dibiarkan berlarut. Kedua, penyiapan sumber daya manusia melalui kerja sama pemerintah, dunia usaha, dan sektor swasta, baik melalui pendidikan vokasi maupun sertifikasi.

Harapannya, akan lebih banyak usaha rintisan yang nilainya lebih dari 1 miliar dollar AS atau unicorn dari Indonesia. Tak terbatas pada empat saja, yaitu Gojek (9,5 miliar dolar AS), Tokopedia (7 miliar dolar), Traveloka (4,1 miliar dolar), dan Bukalapak (1 miliar dolar).

Di satu sisi, adopsi teknologi akan membunuh kesempatan kerja. Namun, dengan perencanaan yang baik, di sisi lain juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru dengan terbukanya akses. Proyek Palapa Ring yang direncanakan selesai pada tahun ini harus segera difungsikan sebagai tol langit.

Sinkronisasi kerangka regulasi dan kelembagaan untuk menyinergikan kebijakan di berbagai sektor berbasis digital amat mendesak dilakukan.

A Prasetyantoko, Pengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta

Sumber: Kompas, 26 Maret 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tantangan Kelola Riset dan Inovasi

Inovasi selalu multipihak dan bertahapan jamak. Ia tak pernah akan bisa dipaksa, tetapi prosesnya bisa ...

%d blogger menyukai ini: