Home / Tokoh / Eko Cahyono; Menghidupkan Perpustakaan dan Penulisan

Eko Cahyono; Menghidupkan Perpustakaan dan Penulisan

Sejak sekitar 16 tahun lalu, Eko Cahyono bergelut dengan perpustakaan. Jatuh bangun telah dia alami, mulai dari memanfaatkan tali rafia untuk memajang majalah sampai beberapa kali harus sewa tempat. Setelah perpustakaannya berjaya, kini lelaki berusia 34 tahun tersebut lebih fokus pada kegiatan literasi atau penulisan.

Pada Selasa (27/5) siang, misalnya, Eko dengan ramah mempersilakan setiap tamunya masuk ke Perpustakaan Anak Bangsa miliknya. Perpustakaan itu berada di tengah kampung di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Sambil sibuk membenahi buku-buku, dia berusaha menanggapi santai setiap keinginan yang dilontarkan tamunya. Pertanyaan mereka beragam, mulai tentang koleksi buku sampai berbagai hal yang berhubungan dengan aktivitas di dalam perpustakaan.

Dengan jumlah buku sekitar 40.000 buah, Eko menyebut apa yang dia miliki itu bukan sebuah perpustakaan, melainkan gudang buku. Meski demikian, semua buku itu tertata rapi di rak kayu yang menempel di ruang berukuran sekitar 6 meter x 12 meter.

Sementara di dekat ruang tamu yang terletak di depan ruang perpustakaan itu, masih ada beberapa kardus berisi buku-buku dari salah satu pabrik rokok di Malang, Jawa Timur (Jatim). Buku-buku itu rupanya belum sempat ditata di rak.

Koleksi Perpustakaan Anak Bangsa bisa dikatakan relatif lengkap. Ada majalah Intisari dan sejumlah majalah lain terbitan tahun 1963. Ada pula berbagai komik lawas, kamus dan tesaurus universal, hingga Wall Chart of World History, buku sepanjang 4,57 meter yang berisi sejarah dunia yang disebut-sebut belum tentu ada di perpustakaan besar sekalipun.
Dijadikan buku

”Sekitar setahun terakhir ini saya lebih berkonsentrasi pada penulisan. Tamu yang datang ke perpustakaan saya minta untuk menulis. Temanya apa saja, bisa berupa artikel, puisi, resensi dari buku yang mereka baca, sampai naskah novel dan cerita pendek. Nanti hasil tulisan mereka itu saya jilid menjadi buku,” ujar Eko yang siang itu tengah menunggu calon penyumbang buku dari Sidoarjo, Jatim.

Hasilnya, ada 20-an jilid buku. Dari jumlah tersebut, 3 jilid di antaranya merupakan kumpulan puisi, 2 jilid berupa resensi, dan 3 jilid berisi cerpen. Meski isi buku-buku tersebut merupakan hasil tulisan pengunjung, yang awalnya terkesan ringan dan lucu, lama-kelamaan ada pula pengunjung yang menghasilkan tulisan inspiratif.

Eko mencontohkan salah satu buku yang berjudul Ibu. Buku ini berisi tulisan dari 56 pengunjung, dengan rentang usia mulai 8 tahun sampai 48 tahun. Tulisan dalam buku ini berbicara tentang sosok seorang ibu di mata mereka.

”Dulu, saya yakin semua orang pasti suka membaca. Sekarang saya tahu bahwa mereka ternyata juga senang menulis. Jadi, siapa pun yang datang ke sini (perpustakaan) saya minta untuk menulis. Tulisan mereka lalu saya cetak dan dijilid menjadi buku. Kita melayani orang membaca itu baik, tetapi apa hasil dari membaca itu? Inilah yang perlu diwujudkan,” tutur dia.

Selama ini Perpustakaan Anak Bangsa beroperasi selama 24 jam. Sepanjang waktu itu pula Eko tinggal di bangunan tersebut. Dengan demikian, kapan pun pengunjung bisa datang, termasuk bila mereka ingin menginap di tempat ini.

Bahkan, Eko juga menyediakan ruang tamu, yang terletak di depan bangunan perpustakaan, untuk pengunjung dari luar daerah yang ingin menginap. Mereka datang antara lain dari Kediri, Surabaya, Banyuwangi, dan Jakarta.

Setiap hari sedikitnya 100 pengunjung yang datang ke perpustakaan ini. Mereka berasal dari beragam lapisan masyarakat, mulai siswa sekolah sampai mahasiswa. Bahkan, warga Desa Sukopuro yang sebagian besar petani pun memanfaatkan Perpustakaan Anak Bangsa untuk menambah wawasan mereka.

”Biasanya warga datang (ke perpustakaan) mulai pukul 15.00 sampai sekitar pukul 22.00 atau selepas pulang dari bekerja di sawah,” kata dia.
Kondisinya menyedihkan

Menurut Eko, hampir 99 persen sekolah memiliki perpustakaan, tetapi sekitar 90 persen di antaranya bisa dikatakan tidak berjalan. Kecuali di sekolah favorit, kondisi perpustakaan sekolah pada umumnya menyedihkan.

Ini antara lain bisa dilihat dari koleksi bukunya yang relatif usang, tidak lengkap, dan prosedur peminjamannya pun berbelit. Kondisi tersebut jauh berbeda dengan Perpustakaan Anak Bangsa, yang bisa diakses siapa pun, pada setiap waktu, dan secara cuma-cuma.

Dia pun senang karena dalam empat tahun terakhir ini banyak bermunculan perpustakaan desa yang baru. Mereka adalah teman-teman Eko yang ingin mendirikan perpustakaan di daerah masing-masing, setelah melihat kesuksesan dari Perpustakaan Anak Bangsa. Jumlahnya puluhan perpustakaan dan tersebar di sejumlah daerah. Di Malang, misalnya, jumlahnya mencapai 36 perpustakaan.

”Awalnya mereka bilang ingin membuka perpustakaan, tetapi mereka tidak memiliki buku. Maka, saya beri sekitar 300-600 buku. Jika dalam perjalanan perpustakaan itu mereka perlu buku lagi, akan saya beri lagi,” kata dia.

”Dari sekitar 40.000 buku yang saya miliki, sebagian sudah dibagikan ke perpustakaan-perpustakaan yang lain. Di sini tinggal sekitar 20.000-an buku. Saya pikir, percuma di sini buku menumpuk, tetapi di perpustakaan lain membutuhkan,” ungkap Eko.

Lelaki tamatan SMAN 1 Tumpang, Malang, ini bercerita, awalnya dia membuka taman bacaan tahun 1998. Ada dua hal yang melatarbelakanginya, yakni dia senang membaca dan prihatin kala melihat ada anak muda yang tak bisa membaca lantaran tidak sekolah.

Ketika itu, Eko sudah memiliki buku dan majalah, maka dibuatlah taman bacaan kecil-kecilan. Dia memanfaatkan halaman rumah orangtua untuk memajang majalah. Dari tahun 1998 sampai 2007 dia beberapa kali menyewa rumah agar perpustakaannya tetap beroperasi.

Tahun 2007, tak ada rumah yang disewakan, maka Eko menyewa tanah dan membuat rumah bambu untuk perpustakaan. Upaya itu berjalan sampai 2011, sebelum ada donatur perusahaan dan perorangan yang menyumbang dana untuk pengadaan lahan sebagaimana yang dia manfaatkan kini.

Eko CahyonoEko bertekad terus mengembangkan perpustakaan. Belakangan ini, dia juga kerap diundang menjadi pembicara dan mendapatkan puluhan penghargaan dari sejumlah kegiatan.

Dia yakin, selain memberi tambahan wawasan, banyak inspirasi bisa diperoleh masyarakat dari membaca. Eko mencontohkan beberapa rekannya berhasil mengembangkan wiraswasta lantaran sebelumnya membaca buku yang menginspirasi.
—————————————————————————
Eko Cahyono
? Lahir: Malang, Jawa Timur, 28 Maret 1980
? Pendidikan:
– SD Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, lulus 1992
– SMPN 1 Tumpang, Kabupaten Malang,  1995
– SMAN 1 Tumpang,  1998
? Penghargaan antara lain:
– Nugra Jasadarma Pustaloka dari  Perpustakaan Nasional,  2010
– Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kreatif Rekreatif dari Kementerian Pendidikan Nasional, 2011
– SATU Indonesia Awards,  2012

Oleh: DEFRI WERDIONO

Sumber: Kompas, 6 Juni 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: