Home / Berita / Dosen Didorong Jadi Profesor

Dosen Didorong Jadi Profesor

Perguruan Tinggi Berikan Fasilitas untuk Pengajar Potensial
Perguruan tinggi di Indonesia mendorong para dosen berkualitas mencapai jenjang guru besar atau profesor. Salah satu caranya dengan memfasilitasi mereka membuat dan memublikasikan penelitian bermutu dalam jurnal ilmiah internasional.

Berdasarkan data Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristek dan Dikti) yang dipaparkan dalam Coffee Morning bertopik “Refleksi Satu Tahun Program dan Kinerja Kemristek dan Dikti” yang dihadiri Menristek dan Dikti Muhammad Nasir di Jakarta, Jumat (30/11), potensi bertambahnya guru besar atau profesor di Indonesia cukup besar. Hingga saat ini terdata 24.642 dosen berkualifikasi akademik S-3.

Ada lagi 2.631 calon doktor yang menjalani pendidikan dari beasiswa pendidikan pascasarjana dalam negeri. Namun, total jumlah profesor baru 5.133 orang, sedangkan pada tahun 2014 berjumlah 4.792 orang. Jumlah dosen tetap 187.475 orang dan dosen tidak tetap sebanyak 32.951 orang.

Rektor Universitas Sam Ratulangi, Manado, Ellen Kumaat mengatakan, dorongan untuk meraih guru besar harus datang dari diri dosen. “Kami dari pimpinan mendorong dosen yang sudah S-3 untuk memproses pengurusan guru besar. Pemenuhan angka kredit dari penelitian atau publikasi ilmiah memang menantang. Ini kami fasilitasi agar dosen berkarya,” katanya.

Sejak menjabat rektor satu tahun lalu, ujar Ellen, dirinya telah mengesahkan 15 guru besar. Ditargetkan, tiap tahun Universitas Sam Ratulangi bisa menghasilkan 15-20 profesor karena saat ini baru memiliki 83 guru besar.

Beberapa kendala
Selain kendala riset dan publikasi ilmiah, ketidaklinieran bidang pendidikan sebelum S-3 juga jadi masalah. “Ada dosen yang mengambil S-3 sekadar untuk memenuhi syarat, tanpa memperhatikan keselarasan. Padahal, untuk jadi guru besar keselarasan pendidikan S-1, S-2, dan S-3 serta karya ilmiah penting,” katanya.

Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rochmat Wahab mengatakan, kampusnya baru memiliki 60 profesor. Dia telah mengumpulkan 190 dosen berkualifikasi akademik doktor dan dipetakan berdasarkan angka kredit yang dikumpulkan. Ada potensi penambahan 27 guru besar dari doktor yang telah memiliki poin 750 atau lebih. Untuk menjadi guru besar dibutuhkan angka kredit mulai dari 850. Sebanyak 45 persen di antaranya berupa penelitian atau publikasi ilmiah. Ada 40 dosen yang memiliki angka kredit 550 atau lebih.

“Para doktor di UNY yang sudah hampir memenuhi syarat diutamakan. Ada dukungan agar mereka menulis karya ilmiah, termasuk yang terkendala karena bahasa Inggris. Ini butuh keseriusan supaya bisa lolos. Selain itu, terkadang dari tim penilai Kemristek dan Dikti juga punya penilaian yang berbeda sehingga perlu memahami tuntutan tersebut,” katanya.

Menurut Rochmat, sebagian dosen tidak tertarik menjadi guru besar karena lebih aktif dalam mengerjakan sejumlah proyek yang secara finansial juga menjanjikan. Padahal, pemerintah sebenarnya sudah mulai meningkatkan penghargaan kepada profesor. “Soal poin untuk pengabdian masyarakat juga kecil, mestinya ini bisa ditingkatkan pembobotannya,” katanya.

Perguruan tinggi swasta
Bagi Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Edy Suandi Hamid, perguruan tinggi swasta juga harus memikirkan peningkatan jumlah guru besar karena tuntutan persaingan dan peraturan. Kampus swasta perlu memberikan ruang bagi dosennya untuk meneliti dan memublikasikannya di jurnal ilmiah nasional dan internasional.

b7854ebc5a514354bd8225d4a019a12e“Standar untuk menjadi profesor juga harus sama. Saat ini muncul keluhan soal standar keprofesoran karena ada yang merasa begitu muda, ada yang merasa dipersulit. Apalagi, sekarang ada pejabat-pejabat atau orang yang punya pengaruh yang tiba- tiba jadi profesor,” kata Edy.

Pengurusan “online”
Menurut Ali Ghufron Mukti, Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Kemristek dan Dikti, kini proses pengajuan profesor dipermudah lewat layanan online. Namun, tetap mengutamakan mutu. Ada kepastian batas waktu 30 hari sejak diajukan perguruan tinggi ke Kemristek dan Dikti untuk penilaian, pemeriksaan, validasi, dan persetujuan. Untuk profesor yang sudah disetujui, ada tenggat 15 hari akan diumumkan.

Profesor harus unggul dalam keilmuan dan riset di bidangnya dengan bukti produktif dalam publikasi ilmiah di jurnal ilmiah internasional terindeks Scopus. Bukti lain, menulis buku-buku referensi. (ELN)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 31 Oktober 2015, di halaman 11 dengan judul “Dosen Didorong Jadi Profesor”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Balas Budi Penerima Beasiswa

Sejumlah anak muda bergerak untuk kemajuan pendidikan negeri ini. Apa saja yang mereka lakukan? tulisan ...

%d blogger menyukai ini: