Home / Berita / Desa Kamanggih Melawan Gulita

Desa Kamanggih Melawan Gulita

Sembari menghangatkan sayur, Agustina R Hamapati (42) tersenyum lebar saat mengisahkan dirinya tak perlu lagi repot-repot mencari kayu bakar untuk memasak. Warna biru api dari kompor yang ia gunakan saat itu bukan dari elpiji, apalagi minyak tanah. Biru api itu dihasilkan dari biogas kotoran ternak di belakang rumahnya di Desa Kamanggih, Kecamatan Kahaungu Eti, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. “Listrik di rumah kami juga sudah menyala 24 jam,” kata Agustina saat dijumpai di rumahnya, pekan lalu.

Agustina adalah satu dari sekitar 1.900 warga Desa Kamanggih yang mulai merasakan nikmatnya mendapat pasokan listrik tanpa dibayangi pemadaman. Ia juga tak lagi repot mencari kayu bakar atau membeli minyak tanah untuk memasak. Sejak 2013, Desa Kamanggih sudah berdaya memenuhi kebutuhan listrik. Pada 2015, mereka mengenal biogas dari kotoran ternak sapi dan babi sebagai pengganti kayu bakar dan minyak tanah.

Kamanggih, yang bisa dicapai sekitar dua jam perjalanan menggunakan mobil dari Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur, adalah salah satu potret desa yang bisa disebut mandiri energi. Desa ini mendapatkan berkah dari aliran Sungai Mbaku Hau yang tak pernah kering. Dengan debit air 250 liter per detik, aliran air sungai menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik bagi warga Kamanggih.

Desa ini bukanlah satu-satunya yang memanfaatkan sumber energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan energi warga. Pada 2010, Pulau Sumba dipilih sebagai pulau ikonis untuk pengembangan energi terbarukan. Berdasarkan penelitian, potensi energi terbarukan di pulau ini mencapai 37 megawatt (MW) atau dua kali lipat dari proyeksi kebutuhan pada 2020.

Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 3051 K/30/MEM/2015 tentang Penetapan Pulau Sumba sebagai Pulau Ikonis Energi Terbarukan memperkuat rencana pemenuhan energi di pulau ini yang seluruhnya dari sumber energi terbarukan pada 2025. Pulau yang dihuni kurang dari 1 juta jiwa ini dilimpahi potensi energi terbarukan, seperti mikrohidro 15 MW, tenaga bayu (angin) 10 MW, tenaga surya 10 MW, biomassa 10 MW, dan biogas.

Koperasi
Kisah mandiri energi di Kamanggih bukanlah kisah kemudahan dalam semalam. Desa ini pernah mendapat bantuan mesin pompa air dan panel tenaga surya dari pemerintah dan salah satu donatur internasional pada 1999. Namun, dalam hitungan bulan, semua alat bantuan tersebut rusak dan terbengkalai.

“Tak ada pendampingan kepada kami untuk mengoperasikan dan merawat alat-alat bantuan tersebut. Semua bantuan itu menjadi percuma,” ujar Hinggu Panjanji, salah seorang tokoh Desa Kamanggih.

Perubahan di desa itu bermula dari penelitian Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka) serta Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA), kemitraan yang bertujuan mendorong pelaksanaan berbagai proyek pembangunan pada tingkat masyarakat akar rumput di beberapa negara. Rekomendasi Ibeka dan JICA saat itu adalah perlu dibentuk badan pengelola, yang akhirnya berupa koperasi.

Umbu, nama panggilan Hinggu Panjanji, menjabat sebagai Ketua Koperasi Serba Usaha Kamanggih yang didirikan pada 1999. Koperasi ini mengelola bantuan pompa air bersih dan panel tenaga surya dari Ibeka dan JICA. Puncaknya, pada 2011, warga Kamanggih bersama donatur, Hivos dan Ibeka, membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) di tepi Sungai Mbaku Hau.

PLTMH Mbaku Hau menghasilkan listrik 37 kilowatt (KW) atau melebihi kebutuhan listrik warga Kamanggih yang sebesar 28 KW. Kini, ada 235 keluarga yang menikmati listrik PLTMH Mbaku Hau itu. Untuk menikmati listrik, warga dipungut Rp 20.000 per bulan.

Joseph Daton Betan, operator di gardu Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), tampak tengah memeriksa kondisi mesin pembangkit tersebut, Rabu (13/9). PLTMH itu memanfaatkan aliran Sungai Mbaku Hau di Desa Kamanggih, Kecamatan Kahaungu Eti, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, untuk menghasilkan listrik. Pembangkit ini menghasilkan listrik berkapasitas 37 kilowatt yang cukup untuk menerangi 235 kepala keluarga di Desa Kamanggih.–KOMPAS/ARIS PRASETYO

“Kalau diberikan cuma-cuma alias gratis, tidak mendidik. Dengan adanya iuran, warga merasa ikut terlibat dan bertanggung jawab terhadap PLTMH Mbaku Hau,” kata Umbu.

Pada 2013, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) berminat membeli tenaga listrik yang dihasilkan PLTMH Mbaku Hau. Tahun itu juga ditandatangani perjanjian jual beli tenaga listrik antara koperasi dan PLN seharga Rp 475 per kilowatt jam (kWh). Artinya, PLN membeli tenaga listrik Rp 475 per kWh dari koperasi. Listrik dari PLTMH tersebut juga sudah terhubung dengan jaringan PLN.

Pendampingan
Panca Saktiyani, pegiat bidang sosial dari Ibeka, menuturkan, sebelum meluncurkan program pemanfaatan potensi lokal di bidang energi terbarukan, pihaknya lebih dulu terjun ke masyarakat di lokasi yang hendak dibangun pembangkit listrik energi terbarukan. Tujuannya untuk memetakan, khususnya aspek sosial. Kegiatannya meliputi sosialisasi program, menumbuhkan partisipasi masyarakat, dan yang terpenting adalah meraih dukungan pemerintah daerah setempat.

Gardu pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang memanfaatkan aliran Sungai Mbaku Hau di Desa Kamanggih, Kecamatan Kahaungu Eti, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, untuk menghasilkan listrik, Rabu (13/9). Pembangkit ini menghasilkan listrik berkapasitas 37 kilowatt yang cukup untuk menerangi 235 keluarga di Desa Kamanggih.–KOMPAS/ARIS PRASETYO

“Itu dimulai dengan menyosialisasikan program kepada warga. Jika diterima, langkah berikutnya adalah menumbuhkan partisipasi masyarakat agar program tersebut bisa berjalan mulus,” kata Panca yang hingga kini masih mendampingi masyarakat di Kahaungu Eti, terkait sejumlah program pembangunan pembangkit listrik dari energi terbarukan.

Menurut Panca, sosialisasi dan pendampingan sifatnya wajib agar program bisa berjalan. Masyarakat diberi pelatihan cara mengelola dan merawat mesin pembangkit. Masyarakat juga dilatih mengelola koperasi. Badan organisasi sangat penting untuk mengelola program secara lebih bertanggung jawab.

“Pendekatan semacam ini penting agar program bisa berjalan secara berkelanjutan. Butuh kesungguhan dan ketekunan. Bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, dalam mendampingi masyarakat sampai benar-benar mandiri,” ujarnya.

Apa yang terjadi di Kamanggih adalah potret sebuah keniscayaan. Dengan usaha yang sungguh-sungguh, masyarakat bisa mewujudkan kemandirian energi dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada.

Kisah ini dapat menjadi contoh mewujudkan cita-cita pemenuhan akses listrik bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama yang tinggal di desa-desa terpencil dan terluar. Sebab, saat ini masih ada 2.519 desa di seluruh Indonesia yang belum memperoleh akses listrik.(KORNELIS KEWA AMA/ARIS PRASETYO)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 September 2017, di halaman 1 dengan judul “Desa Kamanggih Melawan Gulita”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: