Home / Tokoh / Dendang Dokter Reiny

Dendang Dokter Reiny

Selalu ada alasan untuk datang kepada dokter Reiny. Demikian, diungkapkan pegawai kantor pusat Badan SAR Nasional. Jika pintu klinik gigi yang dikelola Reiny Agustina di Basarnas sedang buka, antrean pasien bakal segera mengular.

Reiny menjadi orang pertama yang merintis klinik gigi di kantor Basarnas sejak dua tahun lalu. Sebelumnya, ia bekerja sembilan tahun
di klinik gigi PT Garuda Indonesia yang letaknya bersebelahan dengan kantor Basarnas. Selain di Basarnas, Reiny juga praktik di RSIA Kemang Medical Care dan RS Siloam TB Simatupang serta menjadi edukator di Pepsodent Dental Expert Center.

Reiny memperlakukan pasien dengan lemah lembut. Ia sabar, tak hanya mendengarkan keluhan masalah gigi, tetapi juga curahan hati (curhat) dari anggota tim SAR. Wajahnya selalu takjub jika anggota SAR berkisah tentang proses penyelamatan di lapangan.

Sesi curhat itu sering kali terhenti tiba-tiba, bukan karena Reiny bosan, melainkan lebih karena pasien lain berteriak-teriak. ”Sambil melongok ke pintu, yang antre pada teriak, ’Gantian dong!’, ha-ha-ha…. Kalau luang, baru bisa curhat lama. Mereka hanya butuh teman ngobrol,” kata Reiny.

Selain wajahnya yang selalu riang dengan tawa renyah, Reiny gemar berdendang pada saat sedang merawat si pasien. Ia menyanyi dan terus menyanyi sampai kadang kala pasiennya terlelap.

Sambil merawat kanal akar gigi atau tambal gigi yang bisa memakan waktu lebih dari satu jam, ia menyanyikan lagu ”Unconditionally” dari penyanyi Katy Perry.

Reiny AgustinaSuara merdu, lembut, mengalun bersama senyum ramah di bibir. ”I will love you unconditionally. And there is no fear now. Let go and just be free….”

”Pekerjaan begini itu stres dari pagi sampai sore. Kalau saya sudah mulai lelah, otomatis saya release dengan nyanyi. Pasien sampai ketiduran. Orang sudah percaya, jadi terserah mau diapain. Musik membuat mereka tenang,” tambah Reiny.
Menolong penolong

Sebut saja nama dokter Reiny, maka seluruh pegawai kantor Basarnas pusat pasti mengenalnya.

”Digodain, sih, tapi yang lucu-lucu saja. Suka manggil, tapi enggak ada yang kurang ajar. Mereka tahu, kalau kurang ajar, mereka enggak bisa berobat. Entar malah disuntik. Bercandanya gitu,” ujarnya.

Ketika pertama kali membuka klinik di Basarnas, Reiny sempat terkejut menyaksikan kondisi gigi tim SAR yang ”hancur” dengan banyak gigi berlubang atau akar gigi yang dibiarkan membusuk. Hal sederhana seperti sikat gigi sering kali memang tidak menjadi prioritas ketika mereka bertugas di lokasi bencana.

Gigi anggota SAR yang berasal dari daerah juga banyak yang rusak karena pemakaian gigi palsu buatan tukang gigi. Awalnya, mereka masih menganggap bahwa kunjungan ke dokter gigi itu mahal. Seiring pemberian fasilitas klinik gigi gratis bagi karyawan, kesadaran menjaga kesehatan gigi makin tinggi.

Hanya dengan berbincang saja, Reiny dengan mudah bisa mendiagnosis kerusakan gigi yang dialami pasien. Napas pasien dengan karang gigi, misalnya, berbau amis akibat gusi yang bengkak.

Mayoritas anggota Basarnas mengeluhkan kerusakan gigi pada saat bertugas di kondisi ekstrem, seperti saat mendaki gunung atau menyelam ke dasar laut. Konsentrasi mereka untuk bekerja menyelamatkan orang atau mengambil korban bakal buyar akibat gangguan kecil seperti sakit gigi.

”Mereka saja mau nolong orang, enggak pernah tahu namanya. Yang penting selamat. Lalu, siapa yang nolong mereka kalau bukan tim medis? Kami maintain fisik dan psikologisnya. Bantu kesehatan dan bisa curhat itu meringankan moralnya. Mereka itu dekat banget dengan penyakit, ” ujar Reiny.

Bekerja mengambil korban di lokasi bencana yang kotor, penyakit-penyakit seperti herpes mudah sekali hinggap. Dengan daya tahan tubuh rendah, sariawan, karang gigi, hingga gangguan kesehatan rongga mulut biasanya akan bermunculan. Kuman-kuman itu bisa saja masuk ke pembuluh darah dan menjadi meningitis jika berhenti di otak atau menyebabkan masalah jantung.

Tak melulu soal kesehatan gigi, Reiny juga berinisiatif membuat dental record alias rekam gigi pasiennya di Basarnas. ”Inginnya di daerah itu ada medical check-up, ada dental record-nya. Karena mereka high risk, harus dilindungi dengan benar. Identifikasi mayat paling gampang, ya, dengan gigi. Paling keras,” kata Reiny.

Pertaliannya dengan Basarnas dimulai ketika ada pejabat Basarnas yang sering berobat ke klinik gigi PT Garuda Indonesia. Pejabat tersebut lantas mengajak Reiny merintis klinik gigi di Basarnas untuk melayani 400 anggota SAR di Basarnas pusat. Anggota SAR dari pelosok daerah juga sering kali memanfaatkan fasilitas klinik gigi gratis ketika mereka sedang bertugas di Jakarta.

Ajang relaksasi
Sebelum membuka klinik gigi di Basarnas pada 2012, Reiny menjalani praktik dokter gigi di kantor PT Garuda Indonesia sejak lulus kuliah tahun 2002. Selain ingin melayani, bekerja di Basarnas memberi keleluasaan waktu bagi Reiny untuk mengembangkan kariernya dengan turut praktik di banyak tempat berbeda.

Selain menjalani dua hari praktik di Basarnas, jadwal Reiny super padat dari Senin hingga Sabtu. Ia juga melayani pasien anak-anak dengan usia di atas enam tahun di rumah sakit ibu anak Kemang. Kasus gigi yang lebih kompleks biasa ditanganinya saat praktik di RS Siloam. Konsultasi gratis kesehatan gigi juga diberikan lewat klinik Pepsodent Dental Expert Center di mal Gandaria City.

Bekerja bagi Reiny justru menjadi ajang relaksasi. Ia begitu mencintai pekerjaan sehingga selalu kelihatan ceria dan segar ketika bekerja. ”Kenapa tempat praktiknya banyak? Bukan kejar setoran. Saya orangnya suka yang baru. Senang tempat baru dengan case beda,” katanya.

Kegemaran menjalani hal-hal baru dipupuk sejak ia masih kecil. Mengikuti sang papa yang bekerja di perbankan, Reiny hidup berpindah-pindah. Sejak lahir hingga usia dua tahun, ia tinggal di Jambi, lalu pindah ke Jakarta, Biak, Manado, Semarang, lalu kembali ke Jakarta saat duduk di bangku kelas II SMP.

Butuh perjuangan luar biasa untuk mulai ”menaklukkan” Jakarta. Ia baru bisa beradaptasi, mulai kenal dan merasa nyaman dengan kehidupan Jakarta, setelah menjalani masa kuliah di Universitas Trisakti. ”Intinya, dokter, kan, harus pelayanan. Jiwanya, kan, sebenarnya begitu. Saya suka pekerjaan saya,” kata Reiny.

Oleh: Mawar Kusuma

Sumber: Kompas, 4 Mei 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: