Dampak Kesadaran Lingkungan Internasional terhadap Pembangunan Indonesia

- Editor

Jumat, 5 Januari 1990

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gerakan Pengurangan Sampah
Pengurangan sampah plastik agar menjadi gerakan bersama-sama sehingga menjadi kebiasaan hidup masyarakat. Menyongsong peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 21 Februari mendatang sejumlah pihak menyuarakan kembali gerakan ini. Salah satunya Kampanye Satu Pulau Satu Suara Bersama Pemerintah Stop Pencemaran Sampah Plastik di Laut, Jumat (9/2) di Jakarta. Kegiatan mereka akan dipusatkan di Bali pada 23 dan 24 Februari 2018 ini. Tampak (kiri ke kanan)  Rika Anggraini (GM Corporate Affairs and Sustainability The Body Shop Indonesia), Melati Wijsen (Co-Founder of Bye Bye Plastic Bags & Satu Pulau Satu Suara (One Island One Voice), Suzy Hutomo (aktivis lingkungan Founder SustainableSuzy.com dan Executive Chairwoman The Body Shop Indonesia), dan Saras Dewi (Dosen Ilmu Filsafat Lingkungan Universitas Indonesia) membawa tulisan yang memberikan tips kegiatan yang bisa mengurangi timbulan sampah.

Kompas/Ichwan Susanto (ICH)
09-02-2018

Gerakan Pengurangan Sampah Pengurangan sampah plastik agar menjadi gerakan bersama-sama sehingga menjadi kebiasaan hidup masyarakat. Menyongsong peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 21 Februari mendatang sejumlah pihak menyuarakan kembali gerakan ini. Salah satunya Kampanye Satu Pulau Satu Suara Bersama Pemerintah Stop Pencemaran Sampah Plastik di Laut, Jumat (9/2) di Jakarta. Kegiatan mereka akan dipusatkan di Bali pada 23 dan 24 Februari 2018 ini. Tampak (kiri ke kanan) Rika Anggraini (GM Corporate Affairs and Sustainability The Body Shop Indonesia), Melati Wijsen (Co-Founder of Bye Bye Plastic Bags & Satu Pulau Satu Suara (One Island One Voice), Suzy Hutomo (aktivis lingkungan Founder SustainableSuzy.com dan Executive Chairwoman The Body Shop Indonesia), dan Saras Dewi (Dosen Ilmu Filsafat Lingkungan Universitas Indonesia) membawa tulisan yang memberikan tips kegiatan yang bisa mengurangi timbulan sampah. Kompas/Ichwan Susanto (ICH) 09-02-2018

KESADARAN lingkungan di seluruh dunia kini ma-in meningkat. Ini terutama nampak dengan nyata di Amerika Serikat dan Eropa. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam bidang lingkungan makin banyak, makin vokal dan makin aktif. Di antara mereka, banyak yang bersifat internasional. Ada LSM yang sangat militan, misalnya Green Peace, yang tidak gentar melakukan aktivitas yang nekat dan berbahaya. Aktivitas mereka pun makin banyak dan terdapat di kalangan yang amat luas: tua dan muda, mahasiswa dan guru besar, swasta dan pegawai negeri, wanita dan laki-laki. Caranya amat beraneka: tulisan dan ceramah di media massa cetak dan elektronik; penerbitan buku dan pamflet; iklan di surat kabar, radio dan TV; pengumpulan tanda tangan; berbagai jenis demonstrasi. Kegiatan itu ada yang bersifat nasional dan ada yang internasional; ada yang rasional dan dilandasi oleh ilmu pengetahuan yang mutakhir, tetapi tidak kurang pula yang sifatnya emosional, tanpa atau kurang memperhatikan kaidah ilmiah.

Di negara maju, kesadaran yang makin meningkat itu disebabkan oleh makin dirasakan-nya dampak kerusakan ling-k ungan terhadap kehidupan mereka yang makmur, aman, dan nyaman. Misalnya, limbah industri yang beracun telah bocor dan merernbes ke permukiman, sehingga penduduknya harus diungsikan, seperti telah terjadi di Amerika Serikat dan Negeri Belanda. Pencemaran udara telah mengganggu kesehatan mereka, rnenurunkan hasil pertanian, merusak berpuluh juta hektar hutan, dan mematikan plankton dan ikan di beribu danau.

Pencemaran zat radioaktif dari kebocoran atau kecelakaan PLTN yang sangat menakutkan, telah mereka alami di Amerika Serikat dan Eropa. Demikian pula kecelakaan industri telah terjadi, misalnya lepasnya dioksin yang sangat beracun di Italia. Monumen besar yang bersejarah dan sangat berharga juga mengalami kerusakan oleh pencemaran udara. Rekreasi mereka pun terganggu oleh pencemaran lingkungan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lubang ozon pun telah terjadi dan mengancam kesehatan umat manusia, antara lain bertambahnya penyakit kanker kulit. Kerusakan lapisan ozon itu disebabkan oleh gas CFC, yang banyak digunakan dalam industri untuk pembuatan karet dan plastik busa, untuk aerosol dan untuk mesin pendingin. Gas CFC itu lepas ke dalam atmosfer dan naik sampai ke stratosfer. CFC itu bersama CO2, metan dan,ozon (dalam troposfer) menaikkan efek rumah kaca dan dapat menyebabkan naiknya suhu permukaan bumi, yaitu pemanasan global.

Dikhawatirkan, hal ini akan mengubah iklim sedunia dan rnenaikkan permukaan laut. Dampaknya terhadap kesejahteraan manusia akan sangat besar. Misalnya, daerah pertanian utama di Amerka Serikat akan menderita kekurangan air; New York, sebagian dari pantai Florida, dan seluruh negeri Belanda akan terancam terendam air laut.

Tidaklah rnengherankan, di negara maju itu aktivitas lingkungan makin rneningkat.

Tanggapan politik di negara maju
Perkembangan gerakan lingkungan itu tidak lagi dapat diabaikan oleh para politisi. Mereka menyadari, bahwa mereka akan kalah dalam pemilihan, apabila tidak memihak pada lingkungan. Thatcher dulu terkenal bukan pendukung lingkungan. Konon, beberapa tahun yang lalu ia tak mau menerima Komisi Sedunia tentang Lingkungan dan Pembangunan (World Commission on Environment and Development). Tetapi pada akhir-akhir ini ia nampak makin condong pada lingkungan. Pers menyebutnya sebagai the greening of Margaret Thatcher (penghijauan Margaret Thatcher, karena hijau merupakan simbol lingkungan). Sampai-sampai tidak lama yang lalu Thatcher mengorganisasi sebuah konferensi internasional tentang lingkungan.

Pada waktu pemilihan presiden di Amerika Serikat, para penasihat Bush pun menasihatkannya untuk mengibarkan bendera lingkungan. Setelah Bush menjadi presiden, karena reaksinya yang lamban dan dingin terhadap pencemaran minyak di Alaska, yang disebabkan oleh tanker Exxon Valdez, Bush mendapat kritik yang tajam. Untuk memperbaiki citranya itu dalam pertemuan puncak tujuh negara indifstri maju bulan Juni tahun yang lalu, Bush pun tampil sebagai pendekar lingkungan nomor wahid.

Di Jerman, Partai Hijau pun makin maju dan tidak dapat lagi diabaikan. Untuk keperluan politik dalam negerinya, Austria dalam bulan September tahun yang lalu telah pula menyelenggarakan konferensi internasional tentang hutan tropik. Jepang, karena tekanan internasional yang sangat kuat, juga berusaha untuk menampakkan dirinya makin hijau, meskipun nampaknya masih dilakukannya dengan sangat berat hati. Dalam pemilihan umum di negara bagian Tasmania, Australia, “partai hijau” telah meraih suara yang cukup besar.

Daftar contoh dapatlah dibuat amat panjang dan meliputi boleh dikata semua negara maju. Kesimpulan umum yang dapat diambil ialah, bahwa lingkungan telah menjadi “komoditi” politik yang sangat hangat, yang tidak dapat diabaikan oleh para politisi untuk mendapatkan kemenangan dalam pemilihan yang akan datang. Mereka tidak cukup hanya bersuara saja sebagai pendekar lingkungan, melainkan harus juga bertindak, baik dalam arena politik dalam negeri maupun luar negeri.

Para anggota Kongres di Amerika Serikat dan parlemen di banyak negara pun seolah-olah berlomba untuk mengajukan usul undang-undan yang melindungi lingkungan, misalnya makin ketatnya baku mutu pencemaran oleh industri dan kendaraan bermotor serta persyaratan lingkungan yang makin berat pada bantuan luar negeri.

Dunia usaha di negara maju
Dunia usaha di negara maju tidak luput pula dari tekanan gerakan lingkungan. Industri kendaraan bermotor telah menginvestasikan beratus juta dollar AS untuk dapat mengurangi pencemaran udara, karena makin ketatnya undang-undang lingkungan. Para pengusaha tidak pula dapat menentang lagi, untuk secara bertahap mengurangi produksi dan penggunaan CFC serta menggantinya dengan zat lain yang tidak merusak lapisan ozon, meskipun ini akan mengakibatkan pengeluaran biaya yang . amat besar.

Pada bulan Maret tahun lalu tanker Exxon Valdez milik Exxon kandas di lautan Alaska. Sekitar 11 juta gallon (hampir 50 juta liter) minyak bocor ke laut. Lebih dari 1 milyar dollar I AS dikeluarkan oleh Exxon untuk membersihkan pencemaran itu, untuk menjaga “citra lingkungan”-nya dan untuk menghindari diseretnya perusahaan itu ke meja hijau. Namun meskipun ia telah mengeluarkan biaya pembersihan yang sangat besar itu, ia mungkin masih akan diseret ke pengadilan. Karena tekanan yang makin berat itu, dunia usaha juga berusaha untuk menampakkan dirinya sebagai pelindung lingkungan.

Pada lain pihak, dunia usaha juga menemukan, bahwa lingkungan dapat digunakannya sebagai alat promosi dagang. Iklan dagang bermunculan yang menyatakan, bahwa produk mereka adalah environment friendly, milieu vriendelijk, dan Umwelt fruendlich, yang semuanya berarti “bersahabat pada lingkungan” atau “tidak merusak lingkungan”. Produk mereka, seperti tas belanja, dicap “tidak merusak lingkungan” dan “dapat didaur-ulang”; kertas toilet tidak lagi berupa putih bersih, melainkan kelabu kotor dan dicap “tidak diputihkan dan tidak mencemari lingkungan”. Produk yang “bersahabat dengan lingkungan” itu ternyata lebih laku.

Di Jerman Barat, gerakan itu telah diformalkan dengan label “bidadari biru” (blue angel). Label itu diberikan pada produk yang pada waktu pembuatan, pemakaian dan pembuangan setelah dipakai, tidak mencemari lingkungan. Label itu tidak diberikan secara gratis, dan baru diberikan setelah pemeriksaan yang seksama. Banyak pengusaha berusaha untuk mendapatkan label tersebut, karena dengan label itu produknya makin laku. Gerakan bidadari biru ini sedang menyebar ke negara lain di Eropa Barat dan mungkin akan menjadi label resmi, yang dikeluarkan oleh ME (Masyarakat Eropa).

Jelaslah, para pengusaha ingin mendapatkan keuntungan dari gerakan lingkungan dalam persaingan dagangnya.

Badan internasional pun, seperti Bank Dunia dan Asian Development Bank, berusaha untuk menciptakan citra lingkungan yang baik, karena tekanan yang bertubi-tubi dari LSM, masyarakat umum, dan dunia ilmu pengetahuan. Ber-bagai aturan mereka ciptakan, agar mereka tidak dituduh “mendukung perusakan lingkungan”.

Dampak terhadap pembangunan Indonesia
Kesadaran lingkungan di negara maju dan gerakan lingkungan yang menyertainya, mempunyai dampak besar terhadap pembangunan Indonesia. Apabila kecenderungan yang sekarang terjadi terus berlanjut, dampak itu pun akan makin berat. Dampak itu dapat berasal dari protes dan gangguan terhadap jenis pembangunan tertentu, usaha ekspor kita, dan arus bantuan luar negeri. Beberapa contoh.

Kekhawatiran terhadap terjadinya kenaikan efek rumah kaca dan pemanasan global sangatlah mendalam. CO2 merupakan salah satu gas rumah kaca yang penting. Hutan melalui fotosintesis mengikat CO2 dan karena itu merupakan endapan CO2. Penebangan hutan mengurangi luas endapan ini. Lagi pula penebangan hutan yang disertai dengan pembakaran hutan dianggap sebagai sumber emisi CO2 yang penting. Berdasarkan alasan itu, yang sebenarnya secara ilmiah belum terbukti, terjadilah gerakan anti-kayu tropik. LSM memboikot pembongkaran kayu tropik dari kapal di beberapa pelabuhan, mendesak pemerintahnya untuk melarang impor kayu tropik, menaikkan pajak impor, dan melakukan kampanye untuk tidak meng-gunakan kayu tropik. Demonstrasi pun dilakukan di kedutaan besar, misalnya KB Malaysia. Kiranya dapat dipastikan, demonstrasi di KBRI pun akan terjadi.

Beberapa waktu yang lalu Scotch Paper telah mundur dari rencana pembuatan pabrik di Irian Jaya. Walaupun alasan pemasaran yang dikemukakannya, namun kiranya tekanan LSM tidaklah dapat dipungkiri. Scotch Paper tidak ingin mengambil risiko rnukahya tercoreng dengan tuduhan sebagai perusak lingkungan, yang akan membahayakan pemasaran global produknya.

Dengan makin dirasakannya, dampak global pencernaran, makin keras pula desakan un tuk mem berlakukan polluter pay principle (prinsip si pencemar membayar). Dengan prinsip ini, mereka dapat membenarkan tarif impor yang tinggi bagi produk yang proses produksinya mencemarkan lingkungan. Biaya impor yang lebih tinggi itu juga mereka rasakan lebih adil dalam persaingan dengan produk mereka sendiri, yang dalarn proses produksinya harus mengeluarkan biaya pengendalian pencemaran.

Bidadari biru” akan merupakan pula ancaman bagi kita, jika ia terus meluas, apalagi jika menjadi label resmi ME. Dengan kondisi industri kita yang masih mempunyai tingkat pencemaran yang tinggi, sulitlah bagi produk industri kita untuk mendapatkan label “bidadari biru” itu. Ia akan mempersulit daya saing kita di pasaran Eropa.

Bantuan luar negeri akan makin banyak mempunyai persyaratan lingkungan. Negara peminjam dan badan luar negeri akan makin berhati-hati untuk rnemberikan dana untuk jenis proyek yang banyak mendapat kritik, misalnya bendungan dan proyek yang memerlukan penebangan hutan. Bantuan untuk proyek demikian itu akan makin sulit untuk didapat. Mereka tidak ingin dituduh oleh para pemilih di negaranya sebagai pendukung perusakan lingkungan.

Sebagian dari gerakan itu memanglah tidak rasional, tidak ilmiah dan bahkan emosional. Sebagian ditunggangi pula oleh kepentingan komersial. Namun tidak kurang pula jumlahnya yang murni. Betapapun, gerakan lingkungan itu adalah nil. Usaha harus kita lakukan untuk menangkalnya. Untuk itu, suka atau tidak suka wawasan lingkungan dalam pembangunan haruslah kita intensifkan. Menghangatnya lingkungan ini hams pula kita gunakan sebagai kesempatan, dan kita manfaatkan untuk meningkatkan pembangunan kita, sehingga kita tidak kehilangan momentum pembangunan kita. Saya percaya, ini dapat kita lakukan.

Otto Soemarwoto, Direktur Lembaga Ekologi Unpad, Bandung, dan guru besar.

Sumber: Kompas, 5 Januari 1990

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Menghapus Joki Scopus
Kubah Masjid dari Ferosemen
Paradigma Baru Pengendalian Hama Terpadu
Misteri “Java Man”
Empat Tahap Transformasi
Carlo Rubbia, Raja Pemecah Atom
Gelar Sarjana
Gelombang Radio
Berita ini 1 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 20 Agustus 2023 - 09:08 WIB

Menghapus Joki Scopus

Senin, 15 Mei 2023 - 11:28 WIB

Kubah Masjid dari Ferosemen

Jumat, 2 Desember 2022 - 15:13 WIB

Paradigma Baru Pengendalian Hama Terpadu

Jumat, 2 Desember 2022 - 14:59 WIB

Misteri “Java Man”

Kamis, 19 Mei 2022 - 23:15 WIB

Empat Tahap Transformasi

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB