Home / Berita / Cat Bertimbal; Pembatasan Tak Lindungi Anak

Cat Bertimbal; Pembatasan Tak Lindungi Anak

Regulasi bersifat sukarela agar produsen cat membatasi kandungan timbal pada cat enamel sebesar 600 bagian per juta belum melindungi anak-anak dari ancaman paparan logam berat. Tanpa langkah berani, masa depan jutaan anak-anak dihadapkan pada risiko berbagai gangguan terkait saraf dan perkembangan tubuh.

“Timbal seharusnya tak digunakan lagi. Pada periode kritis, jika anak-anak mengalami “interupsi” atau “gangguan”, bisa menyebabkan problem yang sifatnya permanen dan irreversible,” kata dokter spesialis anak Rachmat Sentika yang juga anggota Satuan Tugas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia, Senin (7/3), di Jakarta.

Ia bersama pembicara lintas pengampu kepentingan berbicara dalam diskusi bertajuk “Standar Nasional Indonesia (SNI) 8011:2014 tentang Cat Dekoratif Berbasis Pelarut Organik”, yang menetapkan standar kandungan timbal 600 bagian per juta (ppm) dalam cat enamel dekoratif berbasis pelarut organik.

172950_catbertimbalRachmat mengatakan, paparan timbal pada anak-anak bisa menyebabkan penurunan kecerdasan dan perkembangan tubuh. Hasil uji BaliFokus pada 2013 dan 2015 menunjukkan, kandungan timbal dalam cat enamel sangat tinggi, lebih dari 100.000 ppm. Cat enamel berwarna cerah banyak digunakan pada perabotan atau alat bermain anak-anak pendidikan usia dini dan taman kanak-kanak.

Gangguan kesehatan
Paparan terjadi ketika cat mengelupas atau aus menjadi debu yang terhirup atau terkonsumsi anak-anak. Timbal yang masuk ke organ tubuh akan menetap dan berpotensi menimbulkan gangguan karena berpengaruh pada saraf dan pembuluh darah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membatasi kandungan timbal dalam industri 90 ppm. Di dunia, Aliansi Global untuk Pengurangan Timbal pada Cat (GAELP) dan Strategic Approach to International Chemicals Management (SAICM) menargetkan negara-negara mewujudkan cat bebas timbal pada 2020

Terkait dorongan SNI ditingkatkan dan diwajibkan, Kepala Bidang Evaluasi dan kerja sama Penelitian Badan Standardisasi Nasional Bendjamin B Louhenapessy menjelaskan, Indonesia harus punya laboratorium uji dan lembaga sertifikasi. Kondisi industri dalam negeri dan nilai perdagangan ekspor-impor harus dipertimbangkan.

Ketua Asosiasi Produsen Cat Indonesia (APCI) Markus Winarto mengatakan tak masalah jika SNI diwajibkan. Kadar timbal berasal dari pigmen. Sebelumnya juga dari pengering. Produsen pigmen bertimbal telah beberapa tahun terakhir ini tak lagi beraktivitas.

“Namun, ada impor pigmen dari India dan Tiongkok (yang diduga mengandung timbal),” ujarnya. Jika SNI diwajibkan, produsen cat akan mengganti dengan pigmen organik yang harganya empat kali pigmen biasa. Akan tetapi, penggunaannya hanya sedikit pada takaran sehingga tak akan banyak menaikkan harga. (ICH)
————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Maret 2016, di halaman 13 dengan judul “Pembatasan Tak Lindungi Anak”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: