Capung Kendeng Penanda Air Kehidupan

- Editor

Jumat, 3 Januari 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

CAPUNG teman anak-anak. Setiap kali melihat capung, mereka berlarian ingin menangkapnya. Ada yang menggunakan tangan, ada pula yang memakai tas plastik, dan ada juga yang menjeratnya dengan getah nangka yang lengket.

Capung mengajari anak-anak mengenal alam. Capung memancing anak-anak bermain di luar rumah, menyusuri pematang sawah, berkubang di air, dan bersentuhan dengan rimbunnya dedaunan.

Namun, kini capung tak mudah dilihat dan didapat. Capung telah pergi dari depan halaman rumah, sawah, dan aliran-aliran sungai kecil. Dan, tak banyak lagi anak-anak yang mengikat ekor capung dengan seutas tali untuk diadu ketinggian terbangnya dengan capung lain.

Sungguh jauh berbeda dengan di Pegunungan Kendeng Utara, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Pegunungan dengan bebatuan kapur dan karst itu masih lestari menjadi tempat tinggal capung. Masyarakat lereng pegunungan menyebut Kendeng sebagai omah kinjeng atau rumah capung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Di sawah-sawah memang sulit sekali melihat capung. Kalaupun ada, cuma satu sampai dua ekor, tak sebanyak dulu. Yang masih banyak justru di mata air-mata air dan sejumlah aliran sungai di lereng Pegunungan Kendeng Utara,” kata Sugiyono (60), warga Desa Karangrowo, Jekenan, Pati.

Setidaknya ada 30 spesies capung ditemukan di dua desa di kaki Pegunungan Kendeng Utara itu. Dari 30 jenis capung itu, tiga di antaranya endemik Jawa, yaitu Ghompidia javanica, Rhinocypha fenestrata, dan Nososticta insignis. Rhinocypha fenestrata merupakan salah satu capung endemik Jawa langka.

Itu berdasar penelitian capung Indonesia Dragonfly Society (IDS) dan Yayasan Masyarakat untuk Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, dan Perdamaian Indonesia (YSI) Area Jawa Tengah, 8-11 Desember 2013.

Pendataan dilakukan di Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, dan Desa Brati, Kecamatan Kayen, Pati. Kedua desa itu kawasan yang diincar investor semen dan masuk peta potensi bahan baku semen. Penelitian itu bertujuan mendata capung Jawa, melihat tingkat kebersihan air, dan keragaman vegetasi.

Lewat temuan keragaman spesies capung itu, kondisi perairan di dua desa di kaki Pegunungan Kendeng Utara itu masih baik. ”Apabila di daerah itu tidak lagi ditemukan capung, masyarakat sekitar harus berhati-hati. Itu tandanya air sudah tercemar dan ekosistem capung terganggu,” kata Ketua IDS Wahyu Sigit Rahadi.

Pada buku Naga Terbang Wendit (2013) yang disusun IDS, capung atau Ordo odonata merupakan serangga terbang pertama di dunia. Capung muncul sejak zaman Karbon (360-290 juta tahun lalu) dan bertahan hingga sekarang. Capung tersebar di wilayah berair, seperti pegunungan, sungai, rawa, danau, sawah, dan pantai.

Namun, seiring berkembangnya pencemaran air di tempat-tempat yang menjadi habitat capung, capung kian terpinggirkan dan terjauhkan dari manusia. Capung tak lagi mudah ditemui di persawahan, kolam, dan sekitar sungai di perkotaan.

Wahyu mengatakan, air rumah capung banyak tercemar. Sawah-sawah banyak menggunakan pestisida sehingga menyebabkan capung dan nimfa capung tak bisa hidup.

Saluran-saluran irigasi di sawah tak lagi terbuat dari tanah, tetapi beton sehingga capung tidak bisa meletakkan telur-telurnya. Selain itu, di sawah-sawah sekarang tidak lagi terdapat bilah-bilah bambu yang merupakan tempat bertengger capung.

Capung merupakan predator serangga, seperti nyamuk, wereng, lalat, kepik daun, kutu daun, dan jentik-jentik nyamuk. Semakin banyak capung di sawah akan membuat serangga atau hama padi semakin sedikit.

”Sayang, kultur pertanian tumpang sari yang dahulu pernah ada berangsur-angsur pudar. Dahulu, di sawah petani juga menanam kacang panjang dengan bilah-bilah bambu. Namun, sekarang sebagian besar hanya hamparan sawah,” kata Sigit.

Bioindikator
Di tengah dunia yang sedang digerogoti pencemaran air, capung bisa menjadi bioindikator. Artinya, capung menjadi indikator air bersih dan lingkungan sehat karena kehidupan capung tak dapat dipisahkan dengan air.

Sebelum menjadi capung dewasa, capung hidup sebagai serangga air selama beberapa bulan, bahkan tahun. Sebagian besar dari bakal capung itu tak mampu hidup tanpa air bersih, sedangkan sebagian kecil mampu toleran air yang tidak bersih.

Menurut Sigit, hal serupa bisa terjadi pula di Pegunungan Kendeng Utara. Jika mata air tempat tinggal capung tercemar, capung meninggalkannya. ”Dari 30 jenis capung yang ditemukan dalam penelitian di Kendeng, 8 jenis di antaranya capung yang nimfanya sensitif pencemaran. Bila air itu tercemar, nimfa capung mati,” katanya.

Di Kendeng, mudah-mudahan capung tetap bertahan seiring keberlanjutan lingkungan. (HENDRIYO WIDI)

Sumber: Kompas, 4 Januari 2014

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 30 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB