Home / Sosok / BJ Habibie: Semua demi bangsa dan Negara

BJ Habibie: Semua demi bangsa dan Negara

JAKARTA pertengahan pekan. Hujan lebat menyiram seluruh kota, menjadikan kemacetan arus lalu lintas di sepanjang Jalan Thamrin, semakin tidak tertolong. Namun suasana di Gedung BPPT jauh berbeda. Terasa senyap, dengan beberapa satpam masih berjaga di lobi. Hanya selebihnya, kesepian nampak di gedung jangkung ini karena hari sudah mulai bergulir sore, selepas jam kerja.

Tidak demikian halnya dengan situasi di puncak gedung, di lantai 24. Kesibukan masih belum berhenti. Ruang kerja Menristek dan juga Ketua BPPT Prof Dr Bachruddin Jusuf Habibie yang luas, tak kuasa untuk menampung seluruh kegiatannya. Telepon tetap berdering, sejumlah staf masih keluar masuk, membawa tumpukan surat untuk ditandatangani, sementara para office boy tetap sibuk menuang air minum bagi para tamu yang mengalir.

“…yah begini saban hari. Beliau datang sekitar pukul 09.00 pagi sampai nanti, pulang sekitar pukul sepuluh malam,” kata Drs Makmur Makka MA, sekretaris Habibie.”Olahraganya hanya berenang. Setiap pagi, Sebelum berangkat ke kantor, itu yang selalu dilakukannya…”

There are no angel among us. Tak ada malaikat di antara sesama manusia, kata orang bijak. Tentu tidak juga ada dalam diri Habibie, yang oleh teman dekatnya selalu dipanggil dengan nama Rudy. Bisa saja orang bingung melihat tingkah serta gagasannya, yang kadang memang datang amat mengejutkan. Hanya saja karena dia sudah lama menjadi tokoh serta pusat perhatian, maka segala sesuatu tentang Habibie selalu diterima dengan sarat kehati-hatian. Maka jadinya, citranya sering tampil dalam bayangan kabur, minimal menjadi kurang wajar. Agaknya hanya ada satu pilihan, kalau tidak dipandang sebagai malaikat penolong, dia selalu dinilai sebagai setan pengacau.

Bagaimanapun, Habibie hanya manusia lumrah, dengan segala plus minusnya. Ia punya impian, dia memiliki keinginan, dia bisa kecewa, dan dia bisa juga gelisah kalau apa yang dirasanya baik ternyata tak berhasil memperoleh tanggapan secara layak. Tetapi, baik kawan maupun lawan, semuanya pasti sependapat; ayah dua anak kelahiran Pare-pare (Sulawesi Selatan) 25 Juni 1936 dan suami dr Ainun Besari ini seorang pekerja keras, tekun, ulet, dan selalu konsisten dalam (upaya) menggolkan segala macam pikirannya.

Siang itu, meskipun kami baru pertama bertemu, ternyata Habibie bersedia menjawab semua pertanyaan dengan terbuka, dan nadanya cukup tulus. Habibie mengisahkan kedekatannya dengan Pak Harto, penghargaannya kepada Pak Dhar dan juga, bagaimana dulu dia menerima perintah dari Pak Harto untuk memimpin ICMI. Untuk bisa mencegah masuknya unsur luar (yang keras) ke dalam ICMI.

Untuk apa itu semua harus dia lakukan?

”Saya selalu ingat kepada pesan Pak Dhar (Soedharmono SH, mantan Wapres). Saudara Habibie, saudara itu rupanya dekat dengan Pak Harto. Dekatlah, manfaatkanlah kedekatan tersebut sebaik-baiknya untuk menguntungkan bangsa dan negara ini.”

Kemudian dengan cepat, tangan kirinya, tempat jam tangan dan sebuah gelang emas antirematik melekat, bergerak ikut-memberikan penegasan kepada kalimat yang dia ucapkan.

”Demi kepentingan bangsa dan negara. Nasihat itu diberikan tahun 1974. Syukur alhamdulillah, sampai sekarang saya bisa bertahan selama 22 tahun sembilan bulan, mendampingi Pak Harto. Nasihat itu yang selalu saya pegang. Demi kepentingan bangsa dan negara. Itu pegangan saya…”

LAHIR sebagai anak keempat dari delapan bersaudara, ayah Habibie perantau Bugis di Gorontalo (Sulut) bernama Alwi Abdul Djalil, terakhir menjabat selaku Landbouw Consulent. Pak Djalil masuk sekolah pertanian di Bogor (Jabar), ”Satu kelas dan satu bangku dengan Pak Kasimo,” kata Habibie mengenang. Hal ini diketahuinya ketika Habibie kebetulan berjumpa dengan IJ Kasimo, pendiri Partai Katolik Indonesia.

Karena bersekolah di Jawa, Pak Djalil kemudian bertemu calon istrinya, orang Yogya dengan nama RA Tuti Marini Puspowardojo, cucu dokter (mata) Jawa pertama, Tjitrowardojo.

”Maka dari garis ibu, Ilham (anak lelaki Habibie) adalah generasi kelima keluarga kami yang intelektual. Sedang kalau dilihat dari sudut agama, garis ayah, saya generasi ketujuh. Kakek-kakek saya memiliki pesantren besar…”

Dengan-memiliki latar belakang semacam ini, Habibie ternyata malah bisa memiliki cakrawala pergaulan bermasyarakat yang tidak eksklusif. Di sekolah menengah atas dia masuk SMA 1 Kristen di Dago, Bandung. Apakah dia lantas kecewa dan merasa sakit hati ketika Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) pada tahap pertama dulu belum ikut membubuhkan tanda tangan pada pernyataan bersama cendekiawan Indonesia.

”Sakit hati, kecewa,..untuk apa? Hanya sayang sekali, mengapa kesempatan sebaik itu harus disia-siakan.”

PENGALAMAN paling mengharukan yang pernah menimpa Habibie terjadi ketika pada suatu sore, saat bersujud dalam sholat isya, tiba-tiba ayahnya mengalami serangan jantung (1950). ”Saya persis berada di belakang beliau. Ibu saya waktu itu sedang mengandung delapan bulan. Tak ada laki-laki lain di rumah kami. Kakak tertua saya (Titi Sri Sulaksmi), lari menangis mencari pertolongan ke seberang jalan…”

Datanglah Overste Soeharto, Komandan Brigade Mataram, yang waktu itu sedang menumpas pembangkangan Kapten Andi Azis di Makassar (sekarang Ujungpandang). Selain bertetangga, karena kebetulan Pak Harto berasal dari Yogya, tentu saja lantas bisa akrab dengan keluarga Alwi Abdul Djalil.

Sayang sekali, nyawa Pak Djalil tak bisa diselamatkan. Pak Harto (kini Presiden Soeharto) sendiri yang turun tangan mengatupkan kelopak mata almarhum.

”Ibu saya menangis tak karuan menerima musibah tersebut. Langsung di depan jenazah ayah, saat itu juga beliau bersumpah, akan tetap meneruskan cita-cita ayah, membesarkan serta melanjutkan pendidikan semua anak-anaknya,” ujar Habibie. Nada kalimat Habibie kemudian berubah redup.

”Maka ketika saya mengucapkan pidato pengukuhan sebagai guru besar konstruksi pesawat terbang di ITB Bandung, ibu saya duduk paling depan dan menangis. Hari itu, beliau panen dua kali. Putranya yang dulu baru berusia 13 tahun (ketika ditinggalkan ayahnya) sudah bisa jadi profesor. Sedangkan adik saya Timmy (Suyatim Abdulrachman), yang dulu waktu ayah meningeal masih berada dalam kandungan bisa diwisuda sebagai insinyur,” katanya lanjut.

Inilah sebabnya antara lain, mengapa Habibie lantas bisa dekat dengan Pak Harto. “Sudah 46 tahun kami berkenalan”. Ia ingat ketika mendengar tentang meletusnya peristiwa G30S/PKI, ”…saya langsung menulis surat kepada Pak Harto, minta izin pulang ke Indonesia. Tetapi beliau menjawab lewat Mas Bono (Brigjen TNI Soebono Matovanni kakak ipar Habibie, staf Pak Harto), tunggu dulu. Belajarlah terus sampai nanti saya panggil.” Panggilan pulang dari Pak Harto akhirnya datang pada bulan Desember 1973, persis beberapa bulan sebelum Repelita II dimulai.

Nampaknya pengalaman paling membanggakan bagi Habibie adalah penentuan hari kebangkitan teknologi, ketika kapal terbang hasil rancangannya, Gatotkaca, berhasil mengangkasa.

“Ada lima milestones selama perjalanan bangsa Indonesia. Pertama, kebangkitan nasional yang dirintis oleh Budi Oetomo-nya dr Wahidin. Kedua, sumpah pemuda. Ketiga, proklamasi kemerdekaan Indonesia dari Soekarno-Hatta. Keempat, kebangkitan Orde Baru dipelopori oleh Pak Harto. Dan kelima kebangkitan teknologi. Kelima-limanya fakta, yang tak bisa dihapuskan dari catatan sejarah”.

Habibie melanjutkan,”Habibie sendiri, apalah artinya. Esok tak dipakai, juga tak ada masalah. Tetapi, menghapus kenyataan seperti itu, tak mungkin bisa dilakukan…” (Julius Pour)

Sumber: KOMPAS, SABTU, 2 NOVEMBER 1996

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Prof Soemantri, Ahli Darah Penjunjung Nilai Kemanusiaan Itu, Berpulang

Salah satu inisiasi Soemantri adalah memberi pelayanan transfusi darah bagi anak penderita talasemia dan hemofilia ...

%d blogger menyukai ini: