Home / Berita / Benarkah Bumi Tengah Memulihkan Diri di Tengah Pandemi?

Benarkah Bumi Tengah Memulihkan Diri di Tengah Pandemi?

Persepsi bahwa bumi sedang memperbaiki diri di tengah pandemi Covid-19 kerap dijumpai di media sosial. Namun, tampaknya kondisi yang digambarkan tersebut tidak terjadi.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Pemandangan salah satu sudut Ibu Kota di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (1/4/2020). Sepinya aktivitas warga karena pembatasan sosial di lingkungan perkantoran, sekolah, dan tempat hiburan membuat lengang sebagian besar kawasan Ibu Kota. Hal ini membuat langit Jakarta relatif lebih sering cerah dengan tingkat polusi yang rendah.

”Ada hal positif dari Covid-19, planet Bumi sedang memperbaiki diri.”

Persepsi semacam itu kini sering dijumpai di media sosial di tengah merebaknya pandemi Covid-19. Namun, tampaknya kondisi yang digambarkan tersebut tidak terjadi. Pembatasan sosial yang dilakukan beberapa pekan diyakini tidak akan dapat memulihkan bumi begitu saja.

Emisi gas karbon dioksida (CO²) memang menunjukkan penurunan akibat pandemi Covid-19. Produksi emisi China—negara penyumbang emisi karbon terbesar di dunia—dilaporkan turun hingga 25 persen selama Februari lalu akibat berhentinya roda ekonomi sebagai imbas penutupan wilayah (lockdown).

Namun, segala penurunan emisi yang diakibatkan perlambatan ekonomi dunia secara drastis ini dinilai masih belum berpengaruh signifikan menghambat pemanasan global yang kian parah. Jalan menuju mengobati perubahan iklim masih sangat panjang.

Berdasarkan analisis dari Carbonbrief.org, pandemi Covid-19 diperkirakan akan menyebabkan penurunan setidaknya 4 persen emisi gas rumah kaca dunia selama 2020 ini. Penurunan sebesar ini setara dengan sekitar 1.600 juta ton CO².

Sementara hasil analisis dari The Guardian juga menunjukkan bahwa emisi CO² berpeluang merosot hingga 5 persen (sekitar 2,5 juta ton CO²) pada 2020 akibat Covid-19.

CARBONBRIEF.ORG–Estimasi penurunan emisi gas CO² akibat pandemi Covid-19.

Hasil penelitian Center for Research on Energi and Clean Air (CREA) menunjukkan bahwa emisi CO² China paling tidak turun 25 persen selama bulan Februari 2020 atau setara penyusutan 200 juta ton CO² dibandingkan dengan 2019.

Apabila terjadi, prediksi ini menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 akan berkontribusi terhadap penurunan emisi CO² terbesar sepanjang sejarah. Krisis finansial global 2008–2009 saat itu hanya menyebabkan penurunan emisi 1,4 persen.

Kendati tampaknya signifikan, penyusutan ini dikhawatirkan tidak berdampak serius pada upaya dunia mengurangi polusi untuk memotong tingkat pemanasan global.

”Emisi karbon global harus turun sedikitnya 6 persen setiap tahun selama 10 tahun ke depan untuk dapat menekan pemanasan global tidak lebih dari 1,5 derajat celsius,” menurut Simon Evans, deputi editor Carbonbrief.org, pekan lalu.

Evans mengatakan, analisis yang disusunnya tersebut masih merupakan estimasi kasar berdasarkan data yang terbatas dan sangat bergantung pada bagaimana penyebaran Covid-19 dan langkah yang diambil oleh berbagai pemerintahan di dunia.

Bukan ”dampak positif”
Melihat proyeksi ini, Fatih Birol, Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), meminta seluruh pihak untuk tidak ”merayakan” penurunan emisi CO² ini sebagai dampak positif pandemi Covid-19.

”Penurunan ini terjadi karena anjloknya ekonomi yang membuat ribuan orang kehilangan penghidupan mereka, bukan hasil dari kebijakan lingkungan yang dibuat pemerintah mana pun,” kata Fatih. IEA adalah sebuah lembaga antarnegara yang dibentuk oleh negara-negara anggota OECD (Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi).

Geliat ekonomi dunia melambat drastis pada tiga bulan terakhir akibat pandemi Covid-19. Pabrik harus menghentikan produksinya, maskapai pun mendaratkan pesawat-pesawat mereka.

REUTERS/FRANCOIS LENOIR–Pesawat milik maskapai Brussels Airlines dan TUI terlihat di Bandara Internasional Zaventem dekat Brussels, Belgia, 19 Maret 2020, setelah pemerintah negara tersebut memutuskan melakukan penutupan wilayah (lockdown) demi mencegah penyebaran virus korona jenis baru penyebab Covid-19.

Sejumlah bank memprediksi produk domestik bruto (PDB) China anjlok 40 persen, Amerika Serikat terancam drop 30–50 persen hingga pertengahan tahun ini, dan PDB Inggris berpeluang menyusut 25 persen.

Washington Post melaporkan, lebih dari 17 juta warga negara AS telah kehilangan pekerjaannya dalam periode tiga pekan terakhir.

Klimatolog Texas Tech University Climate Science Center, Katharine Hayhoe, mengatakan kepada CBC bahwa secara jangka panjang penyusutan emisi CO² yang terjadi akibat Covid-19 tidak akan berpengaruh secara jangka panjang.

Hal ini karena besarnya kandungan gas CO² yang sudah terakumulasi dalam atmosfer bumi atau atmospheric CO² concentration.

GLOBAL CARBON PROJECT–Pertumbuhan atmospheric CO² concentration per tahun. Atmospheric CO² concentration tahunan mengacu pada jumlah emisi karbon dioksida yang tertinggal di atmosfer.

”Konsentrasi CO² atmosfer adalah kumulasi dari seluruh emisi karbon manusia selama berabad-abad terakhir. Menghilangkan emisi selama beberapa bulan tidak akan benar-benar memiliki dampak yang nyata,” kata Hayhoe.

Pandangan serupa juga diyakini oleh Direktur Riset Centre for International Climate and Environmental Research (CICERO) Glen Peters. Berdasarkan kalkulasinya, penurunan emisi karbon dioksida secara ekstrem hingga 10 persen pada 2020 juga tidak akan secara signifikan mengurangi kadar gas tersebut di atmosfer.

Peters mengatakan, penurunan 10 persen emisi akan menyebabkan pertumbuhan tahunan atmospheric CO² concentration dari 19 menjadi 17 juta ton CO² per tahun. ”Ini jumlah yang tidak ada pengaruhnya. Masih dalam rentang simpangan natural,” kata Peters.

Efek ”rebound”
Peters mengatakan, secara historis, penurunan tingkat emisi memang hanya bisa dipicu oleh peristiwa berskala global, seperti Perang Dunia I dan pandemi flu Spanyol 1918, Great Depression AS pada 1930-an, krisis minyak timur tengah 1973-1980, hingga krisis finansial global pada 2008.

GLOBAL CARBON PROJECT/WASHINGTON POST–Grafik pertumbuhan emisi karbon sejak 1900 hingga 2018.

Namun, emisi CO² selalu meningkat drastis pascaperistiwa tersebut. Pulihnya tingkat emisi juga diperkirakan dapat terakselerasi dengan strategi pemberian stimulus pertumbuhan ekonomi yang diadopsi oleh banyak negara.

China, contohnya, malah mempermudah perizinan pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara. Analis CREA, Lauri Myllyvirta, mengatakan, hal ini dilihat oleh pemerintah tingkat provinsi di China sebagai salah cara langkah untuk meningkatkan investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, Myllyvirta mengatakan, notulen rapat dari Partai Komunis China pada akhir Maret lalu menunjukkan bahwa ada sejumlah target yang harus diraih oleh Pemerintah China, antara lain, pertumbuhan PDB dan penanganan Covid-19 yang efektif. Untuk itu, sebuah stimulus ekonomi akan disiapkan.

”Akan tetapi, dokumen notulen itu tidak menyebut apa pun mengenai stimulus yang memperhatikan lingkungan atau iklim,” kata Myllyvirta.

CARBONBRIEF.ORG–Perbandingan konsumsi batubara oleh enam pembangkit listrik batubara utama China periode 2014-2020. Pada hari ke-60, konsumsi batubara China mulai normal setelah menurunnya kegiatan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Selain itu, menurut Myllyvirta, tingkat emisi dan konsumsi China telah kembali normal setelah penambahan libur Imlek guna memperlambat penyebaran Covid-19. Hal ini terlihat pada tingkat konsumsi batubara di enam PLTB utama China yang kembali normal. Bahkan, polusi nitrogen dioksida (NO²) yang dihasilkan kendaraan bermotor juga sudah kembali normal.

Untuk itu, Badan Energi Internasional (IEA) berharap, negara-negara menggunakan momentum pemberian stimulus sebagai pemicu penerapan kebijakan proenergi terbarukan.

AFP/STR–Foto udara yang diambil pada 7 April 2020 ini menunjukkan kereta cepat di Wuhan, China, bersiap untuk segera beroperasi setelah selama lebih dari dua bulan dihentikan karena Wuhan dikarantina total akibat pandemi Covid-19.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan, investasi skala besar pada pengembangan dan penerapan energi terbarukan, seperti tenaga matahari, tenaga angin, hingga penangkap karbon, perlu menjadi pusat kebijakan pemerintah.

Hal ini dapat memberikan dua keuntungan sekaligus, yakni simulasi pertumbuhan ekonomi dan mengakselerasi transisi menuju energi terbarukan.

”Transisi menuju energi terbarukan tidak akan berdampak sementara. Hal ini dapat memberikan perubahan yang besar ke masa depan umat manusia,” kata Birol.

Oleh SATRIO PANGARSO WISANGGENI

Editor: KHAERUDIN KHAERUDIN

Sumber: Kompas, 14 April 2020

Share
x

Check Also

Pergeseran Kutub Bumi Bisa Jauh Lebih Cepat di Sekitar Khatulistiwa

Dalam 30 tahun terakhir, pergeseran kutub magnet Bumi dianggap makin cepat. Nyatanya, pergeseran kutub magnet ...

%d blogger menyukai ini: