Home / Berita / Bali Berada di Dua Sumber Gempa

Bali Berada di Dua Sumber Gempa

Riset Dasar Kebumian Masih Diperlukan
Beberapa temuan terbaru menunjukkan, potensi gempa di berbagai wilayah Indonesia lebih tinggi dari perhitungan sebelumnya. Selain Jakarta, kawasan yang berpotensi dilanda gempa dengan skala besar adalah sebelah utara Bali hingga utara Nusa Tenggara Timur.

“Selama ini ancaman gempa untuk kawasan Bali hingga Nusa Tenggara Timur terutama diperhitungkan berasal dari zona subduksi di sebelah selatan. Tetapi, hasil penelitian terbaru kami menunjukkan bahwa pergerakan di sebelah utaranya (back arc Bali-Wetar) ternyata lebih aktif. Jadi, Bali, Lombok, Sumba, Flores, dan Pulau Wetar dikepung dua sumber gempa aktif,” kata Irwan Meilano, ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung (ITB), di Jakarta, Rabu (21/10).

Kesimpulan itu, menurut Irwan, diperoleh setelah menganalisis data jaringan global positioning system (GPS) yang dipasang di kawasan itu dalam kurun 2007-2014. Dengan mengamati perubahan posisi GPS yang dicatatat secara berkala, diketahui pergeseran lempeng dan akumulasi energi yang jika terlepas bisa memicu gempa bumi.

Sebelumnya, pergeseran lempeng di kawasan utara Bali dan Nusa Tenggara itu diperhitungkan hanya sekitar 12 milimeter (mm) per tahun. “Namun, dari penelitian terbaru, kecepatannya ternyata rata-rata lebih tinggi hingga 1,5 kali dari perhitungan semula. Bahkan, ada beberapa lokasi yang kecepatan pergeserannya di atas 20 mm per tahun,” katanya.

Bumi-Bali-SelatanJika sebelumnya kawasan utara Bali diperhitungkan hanya bisa memicu gempa bumi dengan kekuatan maksimal magnitudo (M) 7,8, menurut Irwan, dengan data ini perhitungan itu harus direvisi. Potensi gempa dari utara Bali hingga Pulau Wetar bisa mencapai di atas magnitudo 8. “Jadi, Peta Gempa Indonesia memang mendesak direvisi,” katanya.

Berdasarkan data Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), setidaknya ada delapan gempa besar yang pernah terjadi di Bali sejak abad ke-19. Gempa paling tua yang tercatat terjadi pada 22 November 1815 dan 21 Januari 1917.

Dalam katalog gempa bumi Arthur Wichman (1919), disebutkan cukup rinci bahwa gempa pada tahun 1815 tersebut terjadi sekitar pukul 23.00. Gempa mengguncang kawasan pantai utara Bali dan menghancurkan banyak bangunan. Gempa yang sama juga memicu tsunami besar yang menewaskan setidaknya 1.200 warga Kerajaan Buleleng.

Revisi peta
Selain keaktifan zona gempa di utara Bali-Wetar itu, menurut Irwan Meilano, penelitian lain juga menemukan banyak potensi gempa yang lebih tinggi dari perhitungan sebelumnya. Sebagai contoh, penelitian Rahma Hanifa untuk desertasinya di Nagoya University (2014) menunjukkan bahwa potensi gempa di Selat Sunda bisa mencapai magnitudo 8,7 atau lebih tinggi daripada estimasi sebelumnya di Peta Gempa Indonesia yang hanya magnitudo 8,3.

Dalam Simposium Internasional tentang Bencana Kebumian dan Mitigasi Bencana di ITB pada Senin (19/10), Phil R Cummins dari Research School of Earth Sciences, Australian National University and Geoscience Australia, juga menemukan gempa bumi di atas magnitudo 8 yang pernah menghancurkan Jakarta pada tahun 1699.

“Banyak zona gempa sudah dipetakan. Namun, bagaimana mekanismenya belum diketahui rinciannya,” kata Irwan.

Penelitian dasar
Sebelumnya, dalam presentasi di ITB, Selasa (20/10), mantan Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono mengatakan, penelitian dasar tentang kebumian masih sangat diperlukan di Indonesia. Hal ini karena masih banyak sumber bencana yang belum dipetakan dengan rinci.

“Sayangnya, sekarang penelitian dasar justru tidak mendapat tempat. Lembaga riset pemerintah ataupun perguruan tinggi lebih banyak yang meneliti persoalan di hilir,” katanya. Saat ini, dana-dana untuk riset dasar untuk Badan Geologi dipotong hingga separuhnya.

Irwan menambahkan, skema pendanaan untuk riset dasar kebumian di perguruan tinggi juga cenderung semakin sulit mendapat tempat. “Misalnya, skema riset yang didanai LPDP (Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan) disebutkan yang akan didanai yang berkontribusi ke perekonomian,” katanya.

Menurut Surono, idealnya, riset dasar dilakukan sejalan dengan riset terapan. “Tanpa riset dasar, kita tidak akan bisa mengetahui sumber bencananya, dan itu berarti kita tidak akan bisa memitigasinya,” katanya.(AIK)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 Oktober 2015, di halaman 13 dengan judul “Bali Berada di Dua Sumber Gempa”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: