Home / Sosok / Azyumardi Azra; Memperkuat Fondasi Jalan Tengah

Azyumardi Azra; Memperkuat Fondasi Jalan Tengah

Jika bukan karena keteguhan hati, mungkin godaan gemerlap telah mengubah jalan hidupnya. Ajakan dari partai politik, misalnya, tak membuatnya tergoda. Maka, Azyumardi Azra, cendekiawan berusia 60 tahun itu, memilih dua jalan sunyi: mengabdi pada dunia keilmuan di kampus dan memberi pencerahan dalam lingkungan umat Islam.
”Pengabdian saya memang di UIN Syarif Hidayatullah. Saya tidak punya kantor di tempat lain secara permanen. Dunia kampus adalah dunia yang sepi, soliter, bukan dunia riuh-rendah. Di kampus saya bisa mengkritik secara obyektif. Kalau saya di struktur partai atau lainnya, mungkin saya tak obyektif dan ada konflik kepentingan,” kata Guru Besar Sejarah pada Fakultas Adab Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta di ruang kerjanya, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM), Kampus 2 UIN, Jalan Kertamukti, Ciputat, Tangerang Selatan, awal puasa pekan lalu.

Memang, setengah usia hidupnya (30 tahun) diabdikan di kampus tersebut, dan 18 tahun di antaranya di posisi struktural. Sebagai akademisi, posisi puncak di birokrasi kampus pun sudah diraihnya ketika menjadi Rektor UIN Syarif Hidayatullah selama dua periode, yaitu 1998-2002 dan 2002-2006. Sebelumnya, ia menjadi Pembantu Rektor I Bidang Akademik. ”Saat itu, saya diminta Pak Quraish Shihab (rektor periode 1992-1998) untuk menjadi PR I Bidang Akademik. Mulanya saya tolak karena saya lebih senang menjadi peneliti dan penulis. Tetapi, Profesor Quraish Shihab yakin, akhirnya saya terekrut menjadi PR I,” kata pria kelahiran Lubuk Alung, Padang Pariaman, 4 Maret 1955, ini. Bahkan, kemudian ia malah terpilih menjadi rektor tahun 1998.

Pada masa-masa itu keadaan politik dan ekonomi Indonesia tengah bergolak. Reformasi bergelora, mahasiswa turun ke jalan, dan rakyat berteriak akibat didera krisis ekonomi, sampai meletus kerusuhan Mei 1998. Saat gejolak itu, sewaktu menjadi PR I, Azra ikut mendampingi mahasiswanya ke gedung DPR di Senayan ketika tengah diduduki rakyat dan mahasiswa yang menuntut turunnya Presiden Soe- harto. Pada era reformasi ketika banyak partai tumbuh seperti cendawan di musim hujan dan banyak cendekiawan banting setir ke politik praktis, Azra tetap bertahan di kampus.

Membenahi UIN
Ia justru membenahi kampus agar benar-benar menjadi kawah candradimuka bagi tunas-tunas bangsa. Tekad itu sangat terbuka ketika ia menjadi rektor pada Oktober 1998. Di eranya, ia mengintensifkan dan sekaligus mengubah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) sesuai Keputusan Presiden RI Nomor 031 Tanggal 20 Mei Tahun 2002. ”Saya mengusahakan aktualisasi rektor-rektor pendahulu saya seperti Prof Harun Nasution (periode 1973-1984) dan Prof Quraish Shihab (periode 1992-1998) yang menginginkan IAIN menaikkan perannya lebih luas dalam kehidupan berbangsa,” kata Azra yang pernah menjadi dosen tamu di University of Philippines (1987) dan University of Malaya (1997) itu.

Bagi Azra, tak ada cara lain kecuali meningkatkan status ”institut” menjadi ”universitas”. Jadi, tidak hanya terbatas pada bidang agama. Namun, bagaimana mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum. Ahli agama memang dibutuhkan, tetapi juga diperlukan sekaligus ahli ekonomi atau ahli kesehatan, misalnya. Pada 2006, UIN Syarif Hidayatullah pun menjadi comprehensive campus. Artinya, institusi pendidikan agama yang juga dilengkapi fakultas ilmu umum, seperti fakultas kedokteran, fakultas kesehatan masyarakat, dan fakultas ekonomi. Tidak hanya itu, UIN Syarif Hidayatullah juga berbenah dalam lingkungan fisik. Kampus 2 pun dibangun. Jumlah mahasiswanya juga meningkat drastis, dari 4.000-an saat Azra mulai menjadi rektor hingga 24.000-an saat melepas jabatan rektor.

Rupanya Azra sangat menikmati jalan sunyinya di kampus. Ia memilih mundur sebagai Deputi Sekretaris Wapres Jusuf Kalla (2007). Kampus UIN selalu dirindukannya sejak menjadi PNS tahun 1985, setelah sekitar enam tahun (1979-1985) menjadi wartawan di majalah Panji Masyarakat. Baginya, dunia jurnalistik meninggalkan kesan mendalam: sebagai tempat proses intelektualitas dan sekaligus membangun jaringan. Dan setelah mendapat beasiswa, sepanjang 1986- 1992 ia menghabiskan waktu menimba ilmu di jenjang magister (Departemen Bahasa-bahasa dan Kebudayaan Timur Tengah) dan doktoral (Departemen Sejarah) di Columbia University, Amerika Serikat. Tahun 1992, Azra menyelesaikan studi doktoralnya dengan disertasi berjudul ”The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Networks of Middle Eastern and Malay Indonesia Ulama in the Seven- teenth and Eighteenth Centuries”. Disertasi itu sudah diterbitkan, bahkan di Australia, Belanda, dan Hawaii (AS).

Semasa kuliah di Columbia University itu, ia terus melahap ilmu pengetahuan, termasuk tanpa henti berburu buku. ”Waktu kuliah di Columbia University, saya suka membeli buku di emperan Broadway,” kata Azra yang hobi mengoleksi buku sejak masa kanak-kanak, seperti buku Tenggelamnya Kapal Van der Wijk karya Hamka atau Salah Asuhan karya Abdoel Moeis. Ketika kembali ke Indonesia, buku yang dibawanya sebanyak dua truk. ”Istri saya kaget waktu menjemput di Broadway, buku harus dibawa dengan dua truk,” ujar suami Ipah Farihah dan ayah empat anak (Raushanfikri Husada, Firman El-Amny Azra, Muhammad Subhan Azra, Emily Sakina Azra) itu. Kini, buku-buku itu menjadi koleksi perpustakaan pribadinya di sebuah ruko di kawasan Kampung Utan, Ciputat. Ada sekitar 18.000 judul.

Selain sebagai pemburu buku, Azra juga produktif menulis buku. Puluhan buku sudah ditulisnya, antara lain Islam dan Masalah-masalah Kemasyarakatan (1983), Mengenal Ajaran Kaum Sufi (1984), Agama di Tengah Sekularisasi Politik (1985), Perkembangan Modern dalam Islam (1985), Perspektif Islam di Asia Tenggara (1989), Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (1998 ), Teologi Kerukunan: Wacana Agama dalam Sejarah (1999), Islam Substantif (2000).

”Saya tengah memikirkan untuk menulis buku yang utuh, bukan kumpulan tulisan,” katanya.

Islam Indonesia yang ”wasathiyah”
Melihat hasil pikirannya dan juga ceramah-ceramahnya, Azra dikenal sebagai sosok cendekiawan Muslim yang pandangannya sangat toleran. Dalam berbagai kesempatan, ia selalu mempromosikan Islam Indonesia sebagai Islam wasathiyah (Islam jalan tengah yang toleran). Ketika menjadi pembicara dalam dua konferensi tentang hubungan Arabia-Asia dan Arabia-Asia Tenggara pada Januari 2015, misalnya, Azra menjelaskan Islam Indonesia bukan lahan subur bagi radikalisme. Menurut Azra, ortodoksi Islam Indonesia yang berakar pada teologi Asy’ariyah, fikih mazhab Syafi’i, dan tasawuf Ghazalian tak cocok dengan kelompok Salafis, Wahabi, Neo-Khawarij, dan jihadis. Sebab, aliran-aliran terakhir itu terlalu literal, kering, dan keras bagi banyak Muslim Indonesia yang senang mempraktikkan Islam berbunga-bunga (flowery).

Ia merasa perlu menjelaskan tentang Islam Indonesia. Sebab, pemahaman dan persepsi mengenai Indonesia dan Muslim sering salah. Banyak orang luar tidak tahu tentang Indonesia. Kalaupun tahu, sering kali persepsinya tidak akurat, bahkan sering didistorsi oleh kelompok-kelompok politik sayap kanan di Barat misalnya. Maka, baginya menjelaskan tentang Indonesia dan Islam lebih bersifat ideologis atau nasionalis. ”Saya merasa punya kewajiban tanggung jawab moral untuk menjelaskan Indonesia dengan keragamannya, dengan Pancasila-nya, dengan umat Muslim-nya yang menerima demokrasi, dengan Muslim-nya yang independen vis a vis negara,” ujar Ketua Yayasan Wakaf Paramadina tahun 2002 itu.

Baginya, Islam Indonesia adalah berkah dan anugerah serta memiliki keunikan. Aktualisasi Islam yang inklusif jarang ditemukan di dunia, kecuali di Indonesia. Islam Indonesia tidak memiliki peristiwa sejarah yang membebani. Konflik sekte-sekte di Indonesia terbilang baru dan tidak separah di negara-negara seperti Irak atau Pakistan. Islam di negara-negara Timur Tengah, Jazirah Arab, hingga Asia Selatan kurang toleran dan inklusivitasnya rendah. Yang menonjol justru sektarianismenya. Karena itu, ia merasa bahwa Islam wasathiyah itu yang harus diperkuat. Indonesia adalah bangsa majemuk. Berbagai etnik, agama, kultur menjadi pembidan terbangunnya bangsa ini.

Dalam konteks masyarakat plural, menurut Azra, seharusnya ditemukan berbagai kesamaan yang mesti ditonjolkan, bukan malah mencari perbedaan-perbedaannya. Apalagi di antara sekte-sekte itu lebih banyak kesamaan-kesamaannya ketimbang perbedaannya. Sayangnya, sekarang ini banyak kelompok, terlebih kelompok radikal, lebih melihat perbedaan-perbedaan. Apabila perbedaan-perbedaan yang muncul, konflik menjadi hal yang tak terelakkan. Apalagi konflik berbasis agama memiliki implikasi yang amat dahsyat dan daya destruktifnya sangat kuat.

Pandangan Azra itu tentu saja tidak diterima oleh sejumlah kelompok radikal. Maka, ancaman dan teror, seperti lewat SMS dan tuduhan macam-macam, menjadi hal biasa yang diterimanya. Ia kerap dianggap begitu lunak, liberal, atau pendukung Ahmadiyah atau Syiah, atau kelompok-kelompok minoritas lain yang sering mengalami tindakan diskriminatif dan kekerasan.

Cara pandang memang tidak selamanya sama. Saat menjadi Deputi Sekretaris Wapres Bidang Kesra tahun 2007, ia dituding berada di balik lemahnya aturan terhadap kelompok-kelompok minoritas tersebut. Baginya, berkontribusi bagi pembangunan bangsa yang plural ini adalah jalan penting yang mesti dititi. Terlebih sejak era reformasi, aparat hukum seperti polisi belum bisa menegakkan hukum sehingga banyak kelompok yang memaksakan dan melakukan kekerasan terhadap kelompok lain. Bahkan, tidak ada pejabat, mulai presiden, wapres, hingga menteri, yang mempersoalkan ketika ada kelompok yang mengusung bentuk negara di luar Pancasila. Baginya, Pancasila adalah solusi terbaik dalam membangun Indonesia yang majemuk.

Tidak mengherankan, ketokohannya pun dikenal luas, termasuk di panggung internasional. Ia memberi ceramah di sejumlah daerah dan negara.

Boleh jadi karena kontribusi dan reputasinya yang kuat dalam perdamaian umat manusia, ia kerap mendapat penghargaan dalam bidang politik dan demokrasi. Bahkan, Kerajaan Inggris memberi gelar Commander of the Order of British Empire (2010). Ia pun menjadi satu-satunya tokoh non Persemakmuran yang mendapat gelar bangsawan Sir.

Sampai kini kesibukannya hampir tidak pernah berhenti memberi pencerahan kepada banyak orang. ”Waktu saya malah lebih banyak di perjalanan,” kata cendekiawan yang pada Maret 2015 melepas jabatan Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah sejak 2006 itu.

Namun, tetap saja sinisme muncul. Ada yang menuding pula pemberian gelar prestisius itu tak lepas dari peran Azra yang sangat toleran pada kelompok-kelompok minoritas. Azra sendiri tak pernah ambil pusing dengan tudingan dan cap yang ditempelkan pada dirinya. ”Coba saja buka Google, itu macam-macam tentang saya. Ada sesat, pendukung Ahmadiyah, Syiah. Tetapi biarlah, itu risiko,” kata Azra yang kini menjadi Ketua Dewan Penasihat PPIM UIN Syarif Hidayatullah.

Apa pun tudingan dan ancaman terhadap dirinya, ia tetap teguh meniti jalan sunyinya di kampus untuk terus memperkuat fondasi jalan tengah.

56e7462881aa4978bb34d4375d6067baKompas/Hendra A Setyawan
————-
PROF DR AZYUMARDI AZRA, MA

LAHIR
Padang Pariaman, 4 Maret 1955

AGAMA
Islam

JABATAN
Ketua Dewan Pengawas PPIM UIN Syarif Hidayatullah

PENDIDIKAN
SD, Padang
PGAN, Padang (1975)
v
Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah (1982)
Magister pada Departemen Bahasa-bahasa dan Kebudayaan Timur Tengah Columbia University, AS (1988)
Program Doktoral pada Departemen Sejarah (MA kedua) Columbia University, AS (1989)
Program Doktoral pada Departemen Sejarah (MPhil) Columbia University, AS (1990)
Program Doktoral Columbia University, AS (1992)

Riwayat Pekerjaan
Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah
Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah
Dosen Fakultas Adab UIN Syarif Hidayatullah
Pemimpin Redaksi ”Studia Islamika”
Dosen tamu University of Philippines (1987)
Dosen tamu University of Malaya, Malaysia (1997 )
Wakil Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah
Wartawan ”Panji Masyarakat” 1979-1985)
Visiting Fellow pada Oxford Centre for Islamic Studies Oxford University (1994-1995)
Guru Besar Sejarah pada Fakultas Adab UIN Syarif Hidayatullah (1997)
Pembantu Rektor I UIN Syarif Hidayatullah (1998)
Rektor UIN Syarif Hidayatullah (1998-2006)
Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Kesejahteraan Rakyat (2007)
Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah (2006-2015)
Ketua Dewan Penasihat Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah (sejak Maret 2015)

Kegiatan Lain
Pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI)
Pengurus Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS)
Anggota Southeast Asian Studies Regional Exchange Program (SC Seasrep)
Anggota Dewan Redaksi ”Studia Islamika”
Anggota Dewan Redaksi ”Jurnal Ulumul Qur’an”
Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah (1979-1982)
Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Ciputat (1981-1982)
Anggota Toyota Foundation & The Japan Foundation (1998)
Ketua Yayasan Wakaf Paramadina (2002)
Anggota Dewan Penyantun International Islamic University Islamabad Pakistan (2004-2009)

Buku
Islam dan Masalah-masalah Kemasyarakatan (Pustaka Panjimas, 1983)
Mengenal Ajaran Kaum Sufi (Pustaka Jaya, 1984)
Agama di Tengah Sekularisasi Politik (Pustaka Panjimas, 1985)
Perkembangan Modern dalam Islam (Yayasan Obor Indonesia, 1985)
Perspektif Islam di Asia Tenggara (Yayasan Obor Indonesia, 1989)
Pergolakan Politik Islam (Paramadina, 1997)
Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Mizan, 1998)
Menuju Masyarakat Madani (Rosda Karya Bandung, 1999)
Islam Reformasi: Dinamika Intelektual dan Gerakan (Rajawali Pers Jakarta, 1999)
Renaisans Islam Asia Tenggara (Rosda Karya Bandung, 1999)
Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (Logos Ciputat, 1999)
Teologi Kerukunan: Wacana Agama dalam Sejarah (Paramadina Jakarta, 1999)
Islam Substantif (Mizan Bandung, 2000)

ISTRI
Ipah Farihah

ANAK
Raushanfikri Husada
Firman El-Amny Azra
Muhammad Subhan Azra
Emily Sakina Azra

–Mohamad Subhan SD–
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 Juni 2015, di halaman 34 dengan judul “Memperkuat Fondasi Jalan Tengah”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: