Home / Artikel / Atom untuk Damai

Atom untuk Damai

Atom untuk Damai” ialah pemanfaatan tenaga nuklir (inti atom) untuk kesejahteraan manusia, sedangkan—sebaliknya—”Atom pour la Guerre” ialah penyalahgunaan nuklir untuk perang. Indonesia menerima ”Atom untuk Damai” dan menandatangani serta telah meratifikasi NPT (perjanjian non-proliferasi senjata nuklir) sehingga diterima menjadi anggota Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). September 2018 ini, Dubes RI untuk Austria dan Slovenia Darmansyah Djumala mengakhiri kedudukannya selama setahun sebagai Ketua Dewan Gubernur IAEA, mewakili kawasan Asia-Pasifik.

”Atom untuk Damai” juga mencakup penggunaan tenaga nuklir untuk membangkitkan daya listrik, tetapi Indonesia menempatkan PLTN sebagai pilihan terakhir. Baguslah bahwa Batan dan Inuki (Industri Nuklir Indonesia) selama ini— dan masih terus—bergiat di bidang produksi radioisotop dan aplikasinya dalam penelitian di berbagai bidang dan dalam proses-proses industri.

Radiasi nuklir juga dimanfaatkan dalam radiologi kedokteran dengan alat-alat fisika kesehatan/medis, baik untuk pemindaian (scanning), misalnya PET-scan dan MRI, maupun untuk terapi, seperti BNCT dan Gamma Knife. PET-scan memindai irisan jaringan organ tubuh manusia secara non-invasif dengan menggunakan penyinaran positron (elektron positif), sedangkan MRI menggunakan talunan (resonansi) magnetik inti untuk menampilkan citra jaringan itu sehingga dapat diketahui apakah jaringan tersebut sehat atau menampakkan penanda sel-sel kanker.

”Sebutir” proton bebas, di dalam medan imbas-magnetik luar, pusa-sudut spin-nya—dan karena itu juga momen dwikutub magnetik—mempunyai satu dari dua kiblat saja yang mungkin. Ini karena pencatuan ruang (kuantisasi spasial)-nya. Dalam NMR (talunan magnetik inti) foton diradiasikan saat terjadi transisi proton (atau neutron pun, meskipun nukleon ini netral) dari satu keadaan ke keadaan lain. Dan dalam MRI (pencitraan talunan magnetik) pancaran foton itu dimanfaatkan untuk memindai jaringan/organ tubuh pasien.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Edukasi Pemanfaatan Teknologi Nuklir Pengunjung yang berasal dari warga sekitar mengamati fasilitas kolam pendingin reaktor serbaguna Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong G.A. SIWABESY milik Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), Tangerang Selatan, Banten, Selasa (25/9/2018). Pengenalan teknologi nuklir untuk keperluan riset ini dimaksudkan untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai manfaat nuklir sebagai energi bersih yang mengutamakan faktor keamanan dan keselamatan lingkungan.

BNCT didasarkan pada tangkapan neutron (neutron capture) oleh inti atom boron, dan dipakai untuk menyinari sel-sel kanker dengan ”tembakan” yang akurat. Ada BNCT bikinan Sumitomo Heavy Industries (Jepang). Bagus sekali kalau usaha Inuki (di Pusat Studi Teknologi Akselerator, Yogyakarta) untuk membuat sendiri BNCT yang lebih ”ramping” berhasil, dan lebih kompetitif di pasar.

Juga ada ”pisau bedah gamma” (gamma knife), yakni irradiator bersumber radioisotop aktif-gamma, seperti Co-60, untuk terapi kanker otak. Sinar gamma-nya dapat menembus batok kepala sehingga tidak memerlukan pembedahan tengkorak. Dalam proses industri, radioisotop dapat dipakai sebagai perunut (tracer), sedangkan dalam pertanian irradiasi gamma dipakai untuk mencari mutan genetik yang menjadi tanaman pangan varietas unggul yang tahan hama, lebih pendek umurnya, dan hasil panenan lebih banyak.

Anti dan pro PLTN
Gerakan seperti yang dilakukan LSM Marem (Masyarakat Reksa Bumi) tidak anti-nuklir—apalagi anti-teknologi pada umumnya—tapi memang ”pro” keputusan Indonesia tentang PLTN sebagai pilihan terakhir. Seperti jelas dari namanya, ”Marem” ingin memelihara lingkungan hidup manusia, satwa, dan tumbuhan dari ancaman zat-zat radioaktif yang sedianya tak ada, atau sudah tidak ada lagi, tetapi menjadi ada (lagi) sebagai akibat pengoperasian reaktor fissi, terutama yang dipakai untuk membangkitkan daya termal dan listrik.

Dulu MANI (Masyarakat Anti Nuklir Indonesia) dan dari dulu sampai sekarang ”Marem”, tidak anti-teknologi nuklir untuk damai. Kecuali PLTN dengan reaktor fissi nuklir, yang dijadikan opsi terakhir, ”Marem” mau menerima teknologi nuklir, bahkan untuk pembangkitan listrik. Kalau Batan atau Inuki mau membuat baterai nuklir dengan mengonversi secara termo-elektrik tenaga termal dari peluruhan zat-zat radioaktif menjadi tenaga listrik, baik juga. Kita bahkan menantikan hadirnya PLT-fusi dengan fusi termonuklir deuteron-triton dalam lingkungan plasma yang dikungkung dengan ”botol” magnetik. ”Bahan bakar”-nya, deuteron— inti atom hidrogen yang terdiri dari satu proton dan satu neutron—jerah (abundant) sekali di alam.

Ada satu atom deuterium dalam setiap 6.700 atom hidrogen air lautan dan air tawar daratan. Triton (inti atom tritium, yakni isotop hidrogen dengan dua neutron selain satu protonnya) tidak terdapat di alam, tetapi dapat dibuat secara artifisial dengan mereaksikan lithium ((_3^6)Li) dengan neutron ((_0^1)n); yang menghasilkan triton ((_1^3)H) dan helium ((_2^4)He). Triton memang radioaktif, tetapi umur-paruhnya cukup pendek, 12,3 tahun.

Kalau sampai terjadi musibah kebocoran, plasma sangat panas dari reaktor fusi itu akan menjilat materi di sekelilingnya. Semua akan lebur dan bahkan menguap. Tetapi bersamaan dengan itu plasmanya mendingin, dan reaksi fusi-nuklirnya berhenti dengan sendirinya. Tidak terjadi ledakan dahsyat seperti bom-H. Kalau terhadap teknologi nuklir saja kita tidak anti, apalagi terhadap sains nuklir, seperti fisika dan kimia nuklir yang diajarkan di program S-1 FMIPA. Fisikawan Indonesia yang menggeluti bidang peringgan (frontier) ini, seperti F Zen (ITB), LT Handoko (LIPI), dan Terry Mart (UI), dapat memvalidasi hasil-hasil penelitian teoretisnya dengan menggunakan data eksperimental dari laboratoria akselerator besar di luar negeri.

Mereka, dan otak-otak Indonesia lainnya yang cemerlang, juga dapat ikut berkecimpung dalam eksperimen dengan menebeng di Tevatron (Fermilab, Batavia, Ill) atau di LHD (CERN, Geneva), Tujuannya ialah untuk mengejar nilai-nilai kebenaran (logis-empiris) dan keindahan (estetis). Menurut Edward Teller (”bapak” bom-H Amerika), sains membuka peluang dan menawarkan sejumlah alternatif, baru kemudian masuklah etika untuk menentukan yang mana di antara pilihan-pilihan itu yang terbaik dan boleh dikembangkan lebih lanjut menjadi teknologi yang menghadirkan kemaslahatan. Atom pour la Paix? Oui!

L Wilardjo Fisikawan

Sumber: Kompas, 23 Oktober 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Masa Depan Pendidikan Tinggi dan Universitas

Banyak ahli membayangkan sebuah dunia di mana universitas dan perusahaan bekerja sama untuk menata kembali ...