Home / Tokoh / Agung Dhamar Syakti; Mengurai Limbah Minyak, Memulihkan Ekologi

Agung Dhamar Syakti; Mengurai Limbah Minyak, Memulihkan Ekologi

Limbah tumpahan atau ceceran minyak di sekitar kilang ataupun areal tambang minyak bumi tak hanya mencemari ekosistem air di sekitarnya. Biota laut yang menjadi sumber pangan manusia pun menjadi berbahaya untuk dikonsumsi akibat residu zat-zat pencemar. Bencana ekologi itu dapat ditanggulangi dengan teknologi sederhana.

”Setiap aktivitas pertambangan, termasuk minyak bumi, berpotensi mencemari lingkungan sekitarnya. Itu hukum alam yang tak bisa disangkal,” kata Dr Agung Dhamar Syakti, SPi, DEA (38), peneliti di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Jawa Tengah, yang mengembangkan teknologi bioremediasi.

Untuk penelitian yang dimulai tahun 2006 itu, Agung mengambil sampel di Laguna Segara Anakan yang menjadi muara sejumlah sungai di Cilacap, seperti Donan, Citanduy, dan Cibeureum. Daerah muara sungai itu, menurut Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Cilacap Tukiman, pada awal 1970-an menjadi salah satu daerah tangkapan nelayan karena kaya ikan, terutama jenis blamah.

Waktu itu, satu perahu dalam sehari menghasilkan 5-7 kuintal. Namun, sejak 1975 atau setelah pembangunan kilang industri minyak di Cilacap dan industri lain di sekitar kawasan ini, ikan blamah mulai menghilang.

Hasil uji sampel yang dilakukan Agung bekerja sama dengan sejumlah peneliti Université Paul Cézanne Aix-Marseille, Perancis, tempat dia menjadi peneliti tamu, mendapati indikasi limbah berbahaya di Laguna Segara Anakan. Mereka menemukan banyak biota laut di kawasan yang memisahkan daratan Cilacap dan Pulau Nusakambangan itu mengandung hidrokarbon dan senyawa berbahaya lain.

Agung, yang juga dosen Program Studi Ilmu Kelautan dan Perikanan pada Fakultas Sains dan Teknik Unsoed, mengatakan, limbah berbahaya itu mengendap dalam tubuh biota laut dan berbahaya jika dikonsumsi manusia.

Mereka mengambil sampel kerang totok untuk mengetahui kandungan limbah dalam spesies yang hidup di lumpur Segara Anakan. ”Di laguna itu semua limbah masuk, limbah domestik dan limbah industri.”

Perairan selatan Kabupaten Cilacap pernah tercemar parah pada 1999. Saat itu, kapal tanker MT King Fisher (berbendera Malta) kandas di perairan ini dan menumpahkan sekitar 4.000 barrel minyak mentah jenis attaka. Akibatnya, biota laut di sekitarnya mati tercemar minyak.

Mikroba pengurai
Dampak pencemaran itu secara meluas bisa dilihat 30 tahun sesudahnya. Dampak itu bisa lebih cepat tampak jika kualitas ekosistem menurun karena limbah rumah tangga.

Dari polutan sisa ceceran minyak bumi yang diambil di sekitar Segara Anakan, Agung mencari tahu bakteri apa yang ada di dalamnya sebagai aktor bioremediasi. Jika bisa hidup dalam ceceran polutan, bakteri tersebut bergantung pada senyawa hidrokarbon.

Berdasarkan hasil penelitiannya, didapati 200 bakteri pada ceceran minyak tersebut. Jasad renik itu tumbuh dan membangun sel dari minyak yang memiliki senyawa hidrokarbon. Koloni bakteri itu memakan dan mengurai minyak.

Dia juga ”berburu” bakteri khusus yang bertugas mengurai senyawa karbon paling toksik, yakni poliaromatik. Senyawa ini merupakan zat kimia yang bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) dan mutagenik (mendorong mutasi genetik). Hasilnya, ditemukan enam jenis yang bertahan pada senyawa poliaromatik.

”Bakteri ini yang dicari karena tak hanya mampu mengurai minyak, tetapi lebih khusus lagi, senyawa karbon paling berbahaya,” kata Agung yang antara lain menulis buku Agen Pencemaran Laut, IPB Press, 2012.

Dalam proses fisiologisnya, mikroorganisme tersebut mengurai komponen minyak bumi karena punya kemampuan mengoksidasi hidrokarbon. Hidrokarbon menjadi donor elektron sehingga bakteri memiliki energi untuk hidup dan berkembang biak.

Selanjutnya, bakteri-bakteri itu ditaruh dalam lemari es pada kondisi beku. Bakteri tersebut dititipkan di laboratorium Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). ”Di sana ada nitrogen cair sebagai media penyimpannya,” kata Agung.

Agar dapat dimanfaatkan sewaktu- waktu, bakteri itu harus dibiakkan lagi setiap tiga bulan. Bakteri yang disimpan dalam nitrogen cair dapat bertahan hingga dua tahun.

Keenam bakteri yang dikembangbiakkan itu mampu mendegradasi senyawa hidrokarbon dalam limbah lumpur minyak bumi sebesar 80 persen dari konsentrasi awalnya. Syaratnya, ada perlakuan khusus antara lain pupuk yang mengandung nitrogen dan fosfor.

Murah dan ramah lingkungan
Bakteri yang disimpan itu adalah bakteri lokal yang cocok dengan lingkungan tropis. ”Jika ada kasus pencemaran minyak, bakteri tersebut secara mudah bisa dibiakkan dan digunakan untuk mengurai limbah minyak,” kata dia.

Menurut Agung, pada kasus minyak tumpah, terdapat lebih dari 40.000 senyawa hidrokarbon. Senyawa tersebut sebetulnya bisa diurai oleh bakteri yang hidup di dalamnya. Dengan perlakuan terukur, lingkungan dapat kembali seperti sediakala. Kuncinya pada persoalan menciptakan lingkungan yang paling optimal bagi perkembangbiakan bakteri pengurai limbah minyak bumi.

Dari hasil riset di Aceh, dia mendapati penguraian minyak bumi pada limbah dengan volume 6.000 meter kubik menghabiskan waktu 8-18 bulan.

Agung tak sekadar melakukan riset, tetapi juga menjawab kebutuhan penyehatan lingkungan dari pencemaran minyak. Dia meyakini pengolahan limbah berbahaya dapat dilakukan dengan mikroorganisme melalui teknologi bioremediasi.

Industri perminyakan bukannya tak memiliki pengolahan limbah. Namun, teknologi yang digunakan dinilai Agung cukup mahal dan memakan waktu. Adapun bioremediasi adalah teknologi ramah lingkungan dan berbiaya murah, karena menggunakan bakteri yang ada di alam.

Dia mencontohkan, penanganan limbah dengan teknologi yang lazim dipakai industri butuh biaya berkisar 200-600 dollar AS atau jauh lebih mahal ketimbang dengan bioremediasi 50-200 dollar AS untuk ukuran 1 meter kubik. Biasanya, produk akhir proses bioremediasi berupa CO2 dan H2O sehingga meminimalkan hasil samping lain yang berpotensi menjadi pencemar baru.

Bagi dia, sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai ilmuwan yang menggeluti bidang bioteknologi lingkungan untuk menjawab problematika di lapangan. Dia berharap, teknologi ini dapat diaplikasikan pada industri perminyakan dalam negeri.

Agung Dhamar SyaktiMelalui bioremediasi, Agung membuktikan, setiap lingkungan menyimpan plasma nutfah yang mampu mengembalikan keseimbangan ekosistemnya sendiri. Peran manusia sebatas membantu prosesnya.
—————————————————————————
Agung Dhamar Syakti
? Lahir: Indramayu, 27 Oktober 1975
? Istri: Santi
? Anak:
– Agsanshina Raka Syakti
– Aghistira Alraya Syakti
– Aghastraja Marssea Syakti
– Agragasan Dewara Syakti
? Pekerjaan: Dosen Program Studi Ilmu Kelautan dan Perikanan Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto
? Pendidikan:
– S-1 Ilmu Kelautan Universitas Riau
– S-2  Environment Toxicology University of Aix Marseille II,  Perancis
– S-3 Analytical Chemistry University of Aix Marseille III, Perancis
? Organisasi:
– Indonesian Chemical Society
– Indonesian Society for Bioprocessing Engineering
– Indonesian Oceanographer Association
– French Chemical Society
– Association Francophone d’Ecologie Microbienne-France
– Avenir Indonésie

Oleh: Gregorius Magnus Finesso

Sumber: Kompas, 19 Juni 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Sudirman; Membebaskan Dusun dari Kegelapan

Pada Maret 2003, Sudirman (41) sudah siap membangun rumah permanen. Sebanyak 50 zak semen sudah ...

%d blogger menyukai ini: