Home / Profil Ilmuwan / Adi Utarini Merintis Jalan bagi Dunia untuk Basmi Penyakit Demam Berdarah

Adi Utarini Merintis Jalan bagi Dunia untuk Basmi Penyakit Demam Berdarah

Adi Utarini dan tim membuka jalan bagi dunia untuk memberantas penyakit demam berdarah dengue (DBD). Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada ini memimpin proyek riset untuk melawan nyamuk pembawa virus DBD dengan nyamuk yang dikembangkan di laboratorium.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Prof Adi Utarini di ruang kerjanya di FK-KMK UGM Yogyakarta. Ia menerima Habibie Award 2019 untuk Bidang kedokteran dengan menerapkan teknologi nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia untuk mengatasi DBD.

Utarini yang akrab disapa Uut menjabat sebagai Project Leader for World Mosquito Program (sebelumnya bernama Eliminate Dengue Project Yogyakarta) mulai 2013 hingga saat ini. Uut memimpin keseluruhan riset transdisipliner ini mulai aspek perencanaan dan pelaksanaan penelitian, hingga menjalin hubungan dengan para pemangku kepentingan utama tingkat nasional. Ia melibatkan 100 orang ilmuwan Indonesia dengan latar belakang keilmuan yang berbeda dalam penelitian ini.

Riset terkait DBD yang dilakukan WMP Yogyakarta ini didanai Yayasan Tahija bekerja sama dengan Pusat Kedokteran Tropis FK-KMK UGM. Tim riset memberantas nyamuk Aedes aegypti yang menjadi vektor virus DBD dengan nyamuk sejenis yang mengandung bakteri Wolbachia.

Wollbachia merupakan nama bakteri alami. Sekitar 70 persen serangga seperti kupu-kupu dan lalat buah memiliki bakteri Wolbachia. Awal pengembangan teknologi Aedes aegypti ber-Wolbachia dilakukan di Australia. Wolbachia dimasukkan ke telur nyamuk pembawa DBD. Telur nyamuk ber-Wolbachia dari Australia itu kemudian dikembangbiakan di Indonesia. Selanjutnya, Aedes aegepty ber-Wolbachia itu disebarkan agar kawin dan menulari Aedes aegypti lokal yang belum terinfeksi bakteri.

Proses untuk sampai tahap itu tidak mudah. Uut dan tim harus membuat nyamuk ber-Wolbachia yang mirip dengan nyamuk lokal agar mau kawin. Memasuki masa akhir riset, terlihat intervensi Wolbachia pada nyamuk Aedes aegypti dapat mengurangi kasus demam berdarah.

–Peneliti di World Mosquito Program di Yogyakarta yang dipimpin Prof Adi Utarini menyiapkan telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia yang siap dilepaskan ke lingkungan. Nyamuk ber-wolbachia untuk memasmi penyakit DBD secara alami. KOMPAS

“Untuk menyimpulkan seberapa besar dampak nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia dapat menurunkan penyakit DBD, baru diketahui tahun depan. Bukti ilmiahnya sangat kuat. Jadi, kami optimistis dengan hasilnya,” jelas Uut di Yogyakarta, Rabu (27/11/2019).

Dalam skala riset yang dilakukan dengan prosedur seideal mungkin, hasilnya sejauh ini terbukti baik. Hasil sementara menunjukkan teknologi ini bekerja. Di wilayah yang disebar Aedes aegypti ber-Wollbachia, angka kejadian DBD lebih rendah 74 persen dibandingkan wilayah kontrol.

Menurut Uut, pelepasan nyamuk ber-Wolbachia merupakan intervensi lingkungan. Hal ini menjadi keberhasilan teknologi ini. “Dengan intervensi lingkungan, nyamuk pembawa DBD ber-Wolbachia kalau menggigit manusia enggak akan kena DBD,” kata Uut yang juga seorang pianis.

Perilaku masyarakat untuk mencegah DBD sendiri, lanjut Uut, tetap dipertahankan, seperti memberantas sarang nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan, maupun memakai obat antinyamuk.

Penelitian istimewa
Uut mengaku dirinya bukanlah ahli nyamuk, melainkan ahli dalam kebijakan kesehatan masyarakat. Dulu orang kebijakan berpikir mulai masuk jika riset sudah selesai. Namun, Uut menerapkan strategi yang berbeda. Ia telah berkomunikasi dengan berbagai pihak sejak awal penelitian.

Bagi Uut, riset untuk memberantas DBD bersama WMP Yogyakarta ini istimewa. Pertama, riset ini berpeluang untuk diterapkan hingga jadi kebijakan. Selain itu, melalui riset ini Indonesia bisa memberikan sumbangsih pada dunia untuk pencegahan DBD. Sampai saat ini, negara-negara di wilayah tropis, termasuk Indonesia, terus bergulat dengan DBD setiap tahun. Indonesia tercatat berada di urutan kedua sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi setelah Brasil.

Selama ini, upaya pemberantasan DBD seperti pengasapan/fogging, pemberantasan sarang nyamuk, 4M Plus (menguras, mengubur, menutup, dan memantau tempat yang potensial sebagai tempat nyamuk), belum membuahkan penurunan penderita DBD secara signifikan. Riset pemberantasan DBD dengan intervensi nyamuk ber-Wolbachia bisa menjadi salah satu solusi yang alami.

Alasan lainnya, ujar Uut, riset ini didukung oleh dana dari dalam negeri, yakni Yayasan Tahija. “Ini sumber kebanggaan, dibiayai filantrofi Indonesia dan ini sampai tuntas hingga hasil akhir. Ini yang membuat kami antusias,” ujar Uut yang sebelumnya fokus pada riset penyakit TBC dan malaria.

Uut turun tangan di sepanjang perkembangan riset, termasuk ikut menyosialisasikan riset ini ke Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Ombudsman, bahkan Kepala Kepolisian Daerah. Ia pun mesti sabar untuk turun langsung ke masyarakat yang sempat menolak pelepasan nyamuk ber-Wolbachia di daerah mereka.

“Soalnya teknologi ini kan membasmi DBD dengan melepaskan nyamuk pembawa DBD yang sudah ber-Wolbachia. Padahal, masyarakat justru takut dengan nyamuk DBD supaya tidak terkena DBD. Jadi masyarakat harus diberikan pengertian sehingga mau terlibat dan merasa memiliki nyamuk Wolbachia,” kata Uut yang November lalu mendapat penghargaan Habibie Award 2019 Bidang Kedokteran.

Uut juga ikut merelakan tubuhnya digigit nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di laboratorium entomologi WMP Yogyakarta. Bersama peneliti lain yang terlibat, mereka bergiliran memberi makan nyamuk dengan darah mereka. Semua mereka lakukan demi membuka jalan pemberantasan DBD yang sudah banyak makan korban.

Musik
Di tengah ketekunan menuntaskan penelitian yang bermanfaat global itu, Uut tetap menikmati kesukaannya pada musik klasik. Ia sering terlibat pertunjukan konser piano klasik. Ia punya band semasa SMA yang kembali aktif main bersama yakni Surya Kartika Enterprise dengan aliran Art Rock. Bahkan, Uut juga menggelar konser amal untuk mendukung program kesehatan di Yogyakarta.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Prof Adi Utarini, ilmuwan yang juga musisi, memimpin penelitian nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia untuk mengatasi penyakit DBD.

Di suatu sore, Selasa (26/11/2019), Uut tampil dalam konser bertajuk An Afternoon Concert di aula Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM). Penampilan istimewa dipersembahkan UUt yang berduet piano dengan ilmuwan Belgia Prof Jef Van den Ende membawakan komposisi Franz Schubert, Fantaisie op.130 dan Johannes Brahms, Hungarian Dance no.1, Allegro. Penonton yang memenuhi aula FK-KMK terpukau dengan sajian konser piano klasik yang disajikan Uut bersama sejumlah mahasiswa/alumni dan dosen tamu dari Belgia.

Ketekunan bermusik klasik dari masa kecil hingga saat ini ikut menempa Uut untuk punya daya tahan dan konsistensi dalam jangka panjang, termasuk dalam melaksanakan riset besar.

Adi Utarini

Lahir: Yogyakarta, 4 Juni 1965

Pendidikan:
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (1989)
Master of Science dalam Kesehatan Ibu dan Anak dari University of College London (1994)
Master of Public Health dari Umea University, Swedia (1998)
Doctor of Philosophy dari Umea University, Swedia (2002)
Guru Besar UGM diperoleh Juni 2011

Pengalaman kerja, antara lain:
Wakil Dekan Penelitian, Pengabdian pada Masyarakat, dan Kerjasama di FK-KMK UGM (2012-2016)
Editor Utama The Journal of Hospital Accreditation (sejak 2018)
Anggota Dewan Riset Nasional (2015-saat ini)
Ketua Minat Utama Magister Manajemen Rumah Sakit, Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UGM (2003-2012)
Anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia
Pengurus Perhimpunan Dokter Manajemen Medik Indonesia
Pendiri Indonesia Healthcare Quality Network dan Badan Mutu Pelayanan Kesehatan Yogyakarta

Penghargaan:
Habibie Award Bidang Kedokteran dan Bioteknologi Tahun 2019.
Penghargaan Penelitian Kolaboratif Terbaik Bidang Eksakta Universitas Gadjah Mada
Penghargaan Kesetiaan 25 Tahun terus menerus kepada UGM tahun 2015,
Penghargaan Satya Lencana Karya Satya XX tahun 2014

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU

Sumber: Kompas, 31 Desember 2019

Share
x

Check Also

Retno Wahyuningsih dan Mimpi Besar Peneliti Penyakit Jamur

Riset yang dilakukan Retno bersama ahli lainnya akan mengubah manajemen penanganan TBC dalam jangka panjang, ...

%d blogger menyukai ini: