Home / Profil Ilmuwan / Abdul Muhari; Memburu Jejak Tsunami Sendai

Abdul Muhari; Memburu Jejak Tsunami Sendai

Ketika orang berbondong-bondong meninggalkan Sendai yang porak poranda dilanda tsunami, Abdul Muhari (34) memilih kembali ke kota di timur Jepang itu. Bagi lelaki asal Bukittinggi, Sumatera Barat, ini, minggu-minggu pertama setelah tsunami amat penting untuk memahami karakter bencana yang mematikan itu.
Dengan memahami karakter tsunami, Muhari berharap menemukan cara mengurangi dampak bencana di masa depan. Oleh karena itu, dia menolak dievakuasi dari Sendai. Beberapa saat setelah tsunami pada 11 Maret 2011, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jepang berupaya mengevakuasi warga negara Indonesia di kawasan bencana, mulai Fukushima, Sendai, hingga Iwate.

Muhari dan keluarga sempat dilaporkan hilang. ”Jaringan seluler saat itu susah digunakan,” kisahnya.

Ketika Muhari dapat dihubungi, pihak KBRI mengirim orang untuk menjemputnya. Namun ia menolak. Istrinya pun mendukung, bertahan di Sendai walau situasi tak menentu.

”Riset saya tentang tsunami. Saat terjadi tsunami, ini kesempatan saya memperoleh data,” katanya. Saat itu, dia adalah mahasiswa doktoral tahun kedua di Tohoku University, Sendai. Bidang studinya tsunami engineering dengan pembimbing Prof Fumihiko Imamura, ahli tsunami mumpuni.

Tiga kali perwakilan Perhimpunan Pelajar Indonesia Sendai yang diutus KBRI mendatangi apartemen Muhari. Terakhir, mereka mengatakan tak bisa pergi kalau masih ada orang Indonesia di Sendai. ”Saya mengalah karena evakuasi dibatalkan jika ada orang tertinggal. Saya tak bisa mengorbankan teman-teman.”

Setiba di Tokyo, ia berniat bertahan beberapa waktu untuk kembali ke Sendai. ”Namun, pihak kedutaan melarang. Secara politik, respons pemerintah dalam mengevakuasi warganya sangat baik, bahkan ada warga Malaysia yang minta dievakuasi KBRI. Tetapi, bagi saya pribadi, secara keilmuan, ini merugikan.”

Muhari pun ke Indonesia. Hari kelima pascatsunami, ia mengirim e-mail kepada Imamura, minta izin kembali ke Sendai. Namun, Imamura memintanya tak kembali. Makanan, air, dan gas masih langka. Apalagi dampak kebocoran reaktor nuklir di Fukushima belum bisa diprediksi. Dua hari kemudian, ia kembali mengirim e-mail , tetap dijawab agar tak kembali. Pada akhir minggu kedua, ia diizinkan ke Sendai. ”Sensei (guru) bilang silakan kembali, tetapi universitas tak menjamin keselamatan.”

Ia nekat ke Sendai dan terlibat survei ke kawasan bencana. Hampir setiap hari ia menelusuri daerah bencana yang porak poranda. ”Kami berkejaran dengan militer. Jika mereka bergegas membersihkan puing dan mencari korban, kami menelusuri daerah bencana, mencatat jejak tsunami. Jika kami terlambat sehari saja, jejak tsunami setinggi 28 meter di Onagawa (Miyagi) tak tercatat. Jejak itu berupa kain yang tersangkut di pohon di bukit. Sehari setelah kami datang, jejak itu telah dibersihkan.”
Riset bencana

Pengalaman di daerah bencana berarti penting karena Muhari menemukan desain tsunami deck, yaitu struktur rangka baja yang diintegrasikan dengan jembatan penyeberangan sebagai tempat evakuasi tsunami. Desain ini dipublikasikan dalam jurnal internasional dan diterakan dalam disertasinya.

Gagasan tentang tsunami deck diperoleh Muhari melihat banyak jembatan penyeberangan tetap berdiri meski bangunan di sekitarnya ambruk. Ia lalu menyurvei jembatan penyeberangan di daerah terlanda tsunami. Dari 68 jembatan penyeberangan, yang hancur total 2, rusak berat 8, sisanya utuh. Ia pun menemukan fakta, warga selamat karena naik ke jembatan penyeberangan.

Kenapa jembatan penyeberangan bertahan dari tsunami, padahal jembatan beton hancur? Ia menyimpulkan, jembatan penyeberangan berdimensi tiang baja relatif kecil memiliki daya tahan lebih dibandingkan jembatan beton berdimensi lebih besar. ”Makin besar dan masif permukaan konstruksi, makin besar beban yang diterima saat tsunami. Jembatan untuk mobil biasanya juga ada ruang yang menjadi perangkap udara sehingga mudah terangkat diterjang gelombang tsunami,” katanya.

Ia mendapat gagasan mengoptimalkan jembatan penyeberangan sebagai tempat evakuasi dari tsunami. Ia menambah luasan jembatan penyeberangan dan menyesuaikan ketinggiannya sesuai dengan simulasi peta landaan tsunami di daerah itu. ”Dari berbagai simulasi dan data lapangan, jembatan penyeberangan akan hancur jika dilanda tsunami hingga 1,5 kali tinggi konstruksinya.”

Salah seorang profesornya menyarankan Muhari mematenkan desain tsunami deck. Namun, ia urung melakukannya. ”Pertimbangan waktu itu, tak etis menerima royalti di bidang bencana. Saya juga khawatir ide ini sulit diterapkan orang lain, padahal tujuannya mengurangi risiko bencana. Yang penting, ide ini sudah diakui di jurnal internasional.”

Tsunami deck membuatnya ditawari bekerja sebagai peneliti di Tsunami Engineering Laboratory International Research Institute of Disaster Sciences (IRIDeS) Tohoku University begitu menyelesaikan program doktornya. Pengalaman ini berharga, ia berkesempatan mempelajari bagaimana Jepang merehabilitasi kota pascatsunami.

Oktober 2011 Muhari mempresentasikan gagasannya dalam forum yang digelar Japan Society of Civil Engineers. Pemerintah Jepang menerapkan ide ini di sejumlah kota yang rentan tsunami, salah satunya Shizuoka. ”Saya terlibat proses awalnya. Untuk teknis supervisi dipegang sempai (senior) saya di Tohoku.”

Gagasan Muhari menurut rencana juga diterapkan di Padang. ”Ide tsunami deck saya paparkan di depan wakil wali kota, akademisi, dan praktisi kebencanaan di Padang dalam forum kerja sama riset Indonesia-Jepang. Berbeda dengan di Shizuoka, penerapan tsunami deck di Padang tanpa supervisi kami.”

Berdasarkan Masterplan Tsunami 2012 dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, pemerintah berencana membangun sejumlah bangunan evakuasi tsunami, salah satunya di Padang. Anggaran yang disiapkan untuk merealisasikannya hingga beberapa tahun ke depan sekitar Rp 16 triliun.

Namun, menurut Muhari, upaya pengurangan risiko tsunami di Indonesia banyak yang harus dibenahi. Proyeknya sering latah, meniru negara maju, tanpa didahului riset. Misalnya, bangunan evakuasi tsunami harusnya memperhitungkan potensi ketinggian tsunami di daerah itu, jumlah penduduk dan kecenderungan pergerakan warga saat bencana, hingga detail desainnya. ”Tak bisa asal jiplak karena itu site specific, bergantung karakteristik bahaya dan aspek sosial masyarakat. Tak bisa satu tipe digunakan seragam di beberapa tempat.”

Riset kebencanaan untuk memahami proses alam yang berpotensi menimbulkan bencana dan mekanisme bagaimana kerusakan dapat terjadi saat bencana. Tanpa riset memadai, bencana yang berkali-kali terjadi tak akan menjadi pelajaran bagi perbaikan mitigasi bencana.

Oleh: Ahmad Arif
————————————————————
Abdul Muhari
Lahir: Bukittinggi, 3 Januari 1979
Pendidikan:

  • S-1 Teknik Kelautan ITB (2003)
  • S-2 Teknik Sipil ITB (2006)
  • Program Doktoral Tsunami Engineering di Tohoku University, Jepang (2012)

Pekerjaan:

  • Peneliti di Tsunami Engineering Laboratory International Research Institute of Disaster Sciences Tohoku University, Jepang (2012-kini)
  • Peneliti tsunami pada Direktorat Kelautan, Pantai, dan Pulau-pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan (2004-kini)

Sumber: Kompas, 16 Agustus 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mengenang Sediono MP Tjondronegoro dan Reforma Agraria

Sebagai intelektual Tjondronegoro istimewa karena mampu menjelaskan sebab-sebab struktural dan politik agraria dari kemiskinan agraria ...

%d blogger menyukai ini: