Home / Sosok / Abdul Aziz Adam Maulida; Guru Cacing untuk Kelestarian Alam

Abdul Aziz Adam Maulida; Guru Cacing untuk Kelestarian Alam

CACING bukan sekadar bisnis. Cacing itu kehidupan. Cacing meski relatif tidak kelihatan di mata manusia, tetapi selalu setia menjaga alam. Demikian prinsip Abdul Aziz Adam Maulida (39), peternak cacing yang berasal dari RT 007 RW 004 Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur.Adam adalah seorang inisiator peternak cacing jenis lumbricus di Kota Malang. Pria lulusan S-1 Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Jawa Timur, tersebut sekarang memiliki 600 meter persegi kandang cacing. Dari peternakan itu, dia bisa memproduksi cacing sebanyak 3-4 ton per bulan.

Harga jual cacing tersebut sekitar Rp 50.000 per kilogram. Pasar utamanya sekarang adalah wilayah Jawa Timur dan Bali. Bahkan, rumah Adam pun kini bisa dikatakan menjadi sentra cacing lumbricus di Jawa Timur.

Lewat cacing pula Adam yang semula hanya ”orang biasa” belakangan ini berubah menjadi mentor bagi sekitar 1.500 peternak cacing binaan yang tersebar di Bali dan Jawa Timur. Setiap Sabtu, Adam dan tim juga rutin menularkan ilmu bagi 40-50 calon peternak baru cacing di sekolah cacing yang dia dirikan.

Dalam berbagai kesempatan, Adam pun sering dipanggil oleh pemerintah untuk menularkan ilmu kepada berbagai elemen masyarakat. Adam seakan menjadi guru tentang cacing lumbricus.

Peran suami Heny Nurahmania ini bermula pada 18 Agustus 2010. Ketika itu, Adam memulai usaha beternak cacing. Awalnya sama sekali tidak terlintas di benak Adam mengenai usaha beternak cacing ini. Waktu itu, sarjana Teknik Industri tersebut memutuskan keluar dari perusahaan kertas terkemuka di Jawa Timur karena sesuatu hal.

Sejak saat itu, Adam memutuskan untuk beternak belut. Pada waktu itulah dia baru tahu kalau makanan belut adalah cacing. Selama sekitar setahun beternak belut, usaha Adam relatif gagal terus-menerus. Adam merasa telah gagal total. Saat itu yang tersisa hanya sekitar 6 kilogram cacing pakan belut.
Kertas dan besi bekas

Merasa gagal dalam bidang peternakan, Adam kemudian mencoba peruntungan lain. Dia berjualan kertas dan besi-besi bekas. Namun, 6 kilogram cacing sisa makanan belut yang dimilikinya tetap dia pelihara.

Bagi Adam, cacing-cacing itu adalah makhluk hidup sehingga harus dipelihara dan diberi makan apa pun kondisinya saat itu. Tak disangkanya, cacing yang semula hanya dipelihara tanpa tujuan tersebut justru terus berkembang.

Pada Agustus 2010 pula Adam mencoba menyetor cacing ke pemancingan yang ada di sekitar rumahnya. Rupanya cacing-cacing itu laku dijual dengan harga Rp 40.000 per kilogram. Bahkan, pemancingan-pemancingan lain pun membutuhkannya. Kebutuhan cacing bagi pemancingan-pemancingan itu sebanyak 5-10 kg per minggu.

Sejak saat itulah Adam mulai serius beternak cacing. Apalagi pada Juli 2011 ada permintaan cacing dari Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur. Dia diminta untuk menyuplai cacing bagi kebutuhan pakan indukan ikan sekitar 1 ton per bulan. Usaha cacing Adam pun semakin berkembang. Ketika itu harga cacing sudah naik menjadi Rp 50.000 per kilogram.

Januari 2013, saat kebutuhan cacing terus meningkat, Adam mulai mengajak kerabat dan teman-temannya untuk turut serta beternak cacing. Awalnya ternak cacing menjadi barang yang dianggap aneh bagi sebagian orang. Namun, ketika mereka tahu bahwa usaha ini menguntungkan, orang- orang pun mulai tertarik untuk mengikuti jejak Adam.
Sekolah cacing

Pada Juli 2013 Adam resmi membuka kelas cacing di rumahnya. Kelas cacing inilah yang kemudian menjadi cikal bakal sekolah cacing yang sekarang diikuti oleh puluhan orang dari sejumlah wilayah setiap minggunya.

”Beternak cacing itu sebenarnya gampang asal kita mau telaten dan serius. Hal yang saya tekankan kepada binaan adalah agar mereka tidak semata-mata beternak cacing, lalu sudah puas dengan keberhasilan menjual cacing,” katanya.

Adam mengatakan, ”Tidak sekadar seperti itu yang saya ajarkan. Saya tekankan kepada mereka bahwa cacing bisa menjadi awal berbagai hal, seperti awal peternakan, perikanan, dan pertanian. Ternak cacing ini harus mendasari peternakan, perikanan, dan pertanian yang ramah bagi alam. Ini demi masa depan kita semua.”

Lewat cara tersebut, Adam berusaha mengajarkan bahwa ternak cacing adalah stimulan awal untuk usaha yang lebih besar dan berbasis keorganikan. Dia juga mengajarkan bahwa kotoran dan sisa ternak cacing pun bisa dijadikan pupuk kompos untuk menggenjot produksi pertanian (menggantikan pupuk kimia). Cacing pun bisa menjadi pakan sehat bagi ternak ayam atau bebek karena nonkimiawi.

”Intinya, cacing ini hanya fondasi awal. Masyarakat harus punya banyak usaha yang berbasis cacing. Tujuannya, agar secara perlahan kita bisa kembali pada kehidupan yang lebih sehat tanpa bahan-bahan kimia,” kata Adam.

”Kita bisa meninggalkan bahan-bahan kimia yang membahayakan tubuh dan alam ini. Semuanya butuh proses, tetapi harus dimulai saat ini juga dan dari diri kita sendiri,” ujar pria yang mendapat penghargaan sebagai aktivis penggiat lingkungan dari Wali Kota Malang pada 2013.

Adam sudah memulai upaya kembali ke alam yang sehat bersama sekitar 1.500 binaannya. Dia juga mendirikan Komunitas Pengusaha Pertanian Organik Terpadu (KP2OT) Kota Malang untuk menggencarkan usaha-usaha kembali ke keorganikan.

Komunitas inilah yang mengajarkan upaya kembali ke organik kepada lebih banyak orang, juga menyediakan bibit, mengadakan pembinaan dan supervisi, hingga membuka pasar.

Peran Adam tidak hanya sampai di sini. Dia mulai bisa mengajak tetangga di sekitar rumahnya di RW 004 untuk beternak cacing. Kini, RW 004 Kelurahan Sukun dikenal sebagai kampung cacing karena banyak ditemukan peternak cacing lumbricus di kawasan ini.

Upaya Adam memperkenalkan cacing pun secara perlahan mengubah perilaku masyarakat setempat untuk hidup bersih dan sehat. Sebab, masyarakat pun tidak lagi membuang sampah organik ke sungai. Sekarang sampah organik disetor kepada para peternak cacing untuk dijadikan pakan cacing.

Abdul Aziz Adam MaulidaWarga RW 004 Kelurahan Sukun sekarang sudah jarang membuang kulit pisang, ampas kelapa, dan sisa makanan ke sungai. Mereka memilih menyerahkannya kepada tetangga yang mulai beternak cacing. Tanpa sadar, Adam pun mendorong warga untuk berperilaku hidup bersih dan menjaga lingkungan. Melalui cacing, Adam berusaha mengajak orang kembali menjaga alam.
—————————————————————————
Abdul Aziz Adam Maulida
? Lahir: Malang, Jawa Timur, 22 Maret 1975
? Pendidikan: S-1 Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
? Istri: Heny Nurahmania
? Anak: Ramza Abdul Jabbar
? Penghargaan: Penghargaan aktivis penggiat lingkungan  dari Wali Kota Malang, 2013

Oleh: Dahlia Irawati
Sumber: Kompas, 19 April 2014
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Prof Soemantri, Ahli Darah Penjunjung Nilai Kemanusiaan Itu, Berpulang

Salah satu inisiasi Soemantri adalah memberi pelayanan transfusi darah bagi anak penderita talasemia dan hemofilia ...

%d blogger menyukai ini: