Home / Berita / 50 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Yogyakarta; Menghapus Kesan Jago Kandang

50 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Yogyakarta; Menghapus Kesan Jago Kandang

Boleh jadi, kaIau STT (Sekolah Tinggi Teknologi) Bandung 50 tahun silam tidak hijrah ke Yogyakarta, iklim pendidikan di Yogyakarta tidak seperti sekarang. Kesan ini bisa saja keliru, namun paling tidak harus diakui, keberadaan STTB yang kemudian jadi STT Yogyakarta sebelum menjadi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) adalah embrio UGM. Karena pada waktu hampir bersamaan, dua minggu setelah STTB hijrah, di Yogyakarta dibentuk universitas swasta, yaitu Balai Perguruan Tinggi (BPT) Gadjah Mada. Waktu itu STTB tidak menjadi bagian karena merupakan lembaga pemerintah dan merupakan perguruan tinggi negeri pertama di Yogyakarta.

Baru kemudian setelah BPT Gadjah Mada menjadi Universiteit Negeri Gadjah Mada (1949), STT Jogjakarta bersama Sekolah Tinggi Kedokteran yang hijrah ke Klaten, berstatus fakulteit dalam UGM. Oleh sebab itu, hijrahnya STTB ke Yogyakarta 17 Februari 1946 ditetapkan sebagai saat dimulainya pendidikan tinggi teknik di Yogyakarta yang tahun ini memasuki usia 50 tahun.

Jumat (15/3) ini seluruh bagian mulai menempati kompleks baru di Kampus UGM. Pada usianya ke-50, tampaknya semakin besar harapan masyarakat dan sivitas akademika agar FT UGM mampu mengembangkan diri. Soalnya, di tengah era yang butuh pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, karya ilmiah atau hasil penelitian FT UGM belum mamarakkan kegiatan yang terus meningkat. Bahkan banyak yang melihat FT UGM seolah ”tenggelam” tidak muncul ke permukaan. Seperti diungkap Ir Th Deddy Hardjono salah seorang alumnus yang kini bekerja sebagai konsultan di Jakarta, hasil penelitian FT UGM seolah masih berada di ”menara gading”.

BERBAGAI pendapat tentang FT UGM, terutama dari kalangan alumni, bisa saja benar. Paling tidak, seperti diakui Dekan FT UGM, Prof Dr Ir Sri. Harto Brotowiryatmo Dip. H atau mantan dekan yang kini menjabat Pembantu Rektor I UGM, Prof Boma Wikan Tyoso MSc PhD, wajar jika berbagai kergiatan FT UGM kurang dikenal karena kurangnya publikasi. Ditambah lagi dengan sikap ”low-profile” yang membuat prestasi prestisius FT UGM kurang banyak dikenal.

Jika di tingkat nasional, karya ilmiah FT UGM sudah menjadi keprihatinan, bisa dibayangkan bagaimana keadaannya di tingkat global? Prof Sri Harto sendiri mengakui kurangnya kepedulian menyebarluaskan hasil penelitian melalui media ilmiah bergengsi di luar negeri. Walau 53 persen dari 313 tenaga pengajar memegang ijazah S2 dan S3, hanya satu yang sudah mempublikasikan karya penelitiannya di luar negeri.

Padahal, ketika masih bernama STT Bandung atau kemudian STT Jogjakarta, berbagai prestasi melejit hingga ke luar negeri. Almarhum Prof Herman Johannes misalnya, sewaktu masih mahasiswa tahun 1940 empat karya ilmiahnya dimuat majalah spesialis De Ingenieur Nederlandsch Indie. Prof Hardjoso, yang kini guru besar pensiun pada tahun 1981 mengemukakan tentang teknologi tradisional dan teknologi pengairan lahan pasang surut yang dijadikan dasar pemanfaatan lahan pasang surut dewasa ini. Sedang teknologi tradisional menjadi mata kuliah di FT UGM.

Namun ini tidak berarti saat ini prestasi FT UGM tidak menonjol, Dr Ir Sunjoto misalnya, menghasilkan rancangan peresapan air yang membuatnya memperoleh penghargaan Kalpataru bulan Juni 1995 lalu. Bahkan menurut Prof Sri Harto, FT UGM punya produk teknologi unggulan yang baik, misalnya pengembangan software yang tidak kalah dibanding produk luar negeri. Seperti software untuk memantau suhu air laut di Teluk Jakarta, lebih unggul dibanding software sejenis dari Universitas New Orleans, AS. Hanya masalahnya, kelebihan itu tidak banyak diketahui orang.

Untuk pengembangan industri FT UGM banyak membantu walau lebih pada penelitian dan hasilnya tidak diekspos. Misalnya yang menonjol proyek pengembangan daerah pariwisata yang kemudian jadi pola pengembangan pariwisata daerah sehingga Konferensi Pariwisata Internasional sampai dua kali dilaksanakan di Yogyakarta. Juga Gubernur Bali kepada Mendagri merekomendasikan pola pengembangan daerah pariwisata yang dilakukan peneliti FT UGM.

925430_1409889699249512_755724897_nPERSOALANNYA kini, agaknya masyarakat ingin lebih jelas tahu prestasi FT UGM yang bukan saja mampu mengembangkan teknologi, tapi dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Ini diakui Prof Sri Harto sebagai tantangan, karena banyak hal masih memprihatinkan dalam perjalanan 50 tahun pendidikan tinggi teknik di Yogyakarta. Seperti dalam laporannya, Prof Sri Harto memprihatinkan masih banyaknya laporan penelitian yang belum diselesaikan tuntas oleh penelitinya. Sejak 1986/1987 sampai 1995/1996 tercatat 86 atau 15 persen penelitian yang belum diselesaikan tuntas. Sementara terasa menyakitkan komentar yang menilai peneliti Indonesia adalah peneliti ”jago kandang”. Oleh sebab itu FT UGM sejak 1 Januari lalu menyediakan insentif Rp 1 juta untuk setiap artikel ilmiah yang termuat dalam jumal ilmiah terseleksi di luar negeri. Perjalanan FT UGM, meski usia pendidikan tinggi teknik di Yogyakarta telah 50 tahun, harus diakui penuh hambatan. Pengembangan awal baru bisa dilakukan setelah ada bantuan UCLA (University California Los Angeles) tahun 1957-1966 berupa tenaga pengajar peralatan, buku dan beasiswa pendidikan lanjut untuk staf pengajar. Tapi itu pun, ujar Prof Boma, dalam pengembangan SDM baru hanya menambah pengalaman karena sifat pendidikannya nongelar.

Lalu setelah itu, selama sekitar 15 tahun FT UGM memasuki masa sulit sejak 1966. Dana terbatas, sementara pengembangan SDM dan peralatan belum berarti. Akibatnya banyak dosen keluar karena penghasilan tidak memadai. Pada waktu itu muncul gagasan reuni dan mengajak alumni menyumbang tenaga dan pikiran sehingga terbentuk Katgama (Keluarga Alumni Teknik UGM) yang kemudian menjadi Kagama Komisariat Teknik. Bantuan alumni, membuat banyak dosen bertahan dan ikut mengembangkan FT UGM dengan susah payah. “Bahkan ada alumni yangmembantu rumah untuk dosen,” kenang Prof Boma.

Baru kemudian tahun 1980 mendapat bantuan Program Pendidikan IX Bank Dunia sehingga sejak Agustus 1981 mulai mengirim tenaga pengajar ke luar negeri selain mendatangkan dosen tamu dan perencanaan pembangunan ruang kuliah, laboratorium di kompleks, baru.

Hasilnya baru dirasakan saat tenaga yang mengikuti pendidikan di luar negeri kembali mulai tahun 1986, sehingga dari segi tenaga baru dirasakan mantap tahun 1990-1993. Sekarang, dengan 313 tenaga pengajar yang sebagian besar bergelar S2 dan S3, pengembangan agaknya harus dimulai.

Pengembangan yang banyak diharapkan, pada puncaknya nanti ialah pemecahan FT UGM menjadi beberapa fakultas seperti dilakukan Fakultas Pertanian dan Kehutanan. Tapi pengembangan ini masih merupakan pemikiran yang belum tentu terwujud, apalagi masih ada kesan hal itu akan menghilangkan nama besar FT UGM.

Potensi menulis di jumal ilmiah internasional cukup besar, tapi perlu diperjuangkan karena perlu sponsor untuk membiayai presentasi. Apalagi presentasi di Iuar negeri butuh persyaratan yang tinggi. Selain itu, perlu jaringan kerjasama dengan mencari peluang. Sikap pasif seperti yang dilakukan selama ini harus diubah dengan lebih aktif mencari dan membina jaringan kerja sama itu.

Modal dasar saat ini cukup kuat, apalagi kualifikasi pendidik makin tinggi sehingga kualifikasi mahasiswa juga bertambah. Ini terlihat dari tulisan akhir mahasiswa yang cenderung dilakukan berdasar penelitian ketimbang berujud review atau studi literatur yang hamper tak pernah muncul lagi. Karena itu, masyarakat pantas berharap pada FT UGM di masa datang. (dth)

Sumber: Kompas, 15 Maret 1996

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: