4 Profesor Termuda di Dunia, Ada 2 dari Indonesia

- Editor

Rabu, 6 April 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menjadi seorang profesor tentu bukan perkara mudah. Di Indonesia syarat pengajuan profesor diatur dalam PermenpanRB no 46. Selain tingkat pendidikan hingga Doktor atau S3, orang tersebut juga harus memiliki pengalaman kerja sebagai dosen paling singkat hingga 10 tahun.

Namun bagaimana dengan gelar profesor di dunia? Di luar negeri gelar profesor bisa didapatkan apabila orang tersebut memiliki kemampuan akademis yang sangat mumpuni untuk menyandang gelar tersebut dan beberapa persyaratan lainnya yang mirip dengan Indonesia.

Tahukah detikers, jika ada beberapa orang yang berhasil menjadi profesor di usia yang masih sangat muda, siapa saja mereka?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Profesor Termuda di Dunia
1. Alia Sabur
Mengutip dari detik News, Alia Sabur berhasil meraih gelar profesor ketika usianya baru 19 tahun. Menurut Guinness Books of Records ia merupakan profesor termuda sepanjang sejarah.

Kecerdasan Alia memang luar biasa. Ia dapat berbicara dan membaca ketika berusia 8 bulan. Ia juga menyelesaikan pendidikan SD pada usia 5 tahun.

Alia lalu masuk kuliah pada usia 10 tahun. Sehingga pada umur 14 tahun Alia mendapatkan gelar sarjana sains dalam bidang matematika aplikasi dari University of Stony Brook.

Alia kemudian melanjutkan S2 di University of Drexel dan meraih gelar M.S dan Ph.D dalam sains dan teknik. Alia sempat mengajar di Konkuk University pada tahun 2008.

Tidak hanya pandai di bidang akademik, Alia juga pandai memainkan alat musik dan memiliki sabuk hitam di olahraga taekwondo.

2. Erik Demaine
Erik Demaine merupakan seorang pria asal Kanada. Ia menunjukkan kejeniusannya sejak berusia 7 tahun. Saat berusia 12 tahun ia berpetualang ke Amerika Utara bersama ayahnya dan juga mengikuti sekolah jarak jauh.

Erik mendapatkan gelar sarjananya dari Dalhousie University di Kanada saat berusia 14 tahun. Ia berhasil menjadi profesor termuda di universitas top dunia Massachusetts Institute of Technology (MIT) saat berusia 20 tahun.

Melansir dari blog resminya, saat ini Erik juga mengajar jurusan ilmu komputer di MIT. Demaine tertarik meneliti algoritma, geometri, dan komputasi dalam game. Uniknya Erik memiliki hobi di bidang seni seperti teater, sulap, origami, dan juggling.

3. Nelson Tansu
Profesor termuda selanjutnya berasal dari Indonesia, ia bernama Nelson Tansu. Melansir dari buku Ilmuwan Indonesia Gapai Citamu, Terangi Negerimu karya Aisyah Khoirunnisa, Nelson Tansu lahir di Medan, Sumatra Utara pada tanggal 20 Oktober 1977.

Dia adalah anak kedua di antara tiga bersaudara pasangan Iskandar Tansu dan Lily Auw. Nelson berasal dari keluarga yang mengutamakan pendidikan.

Nelson berhasil menempuh pendidikan di Universitas Wisconsin Madison, Amerika Serikat melalui jalur beasiswa. Nelson juga berhasil diangkat sebagai profesor muda di universitas tempat ia menuntut ilmu, sebelum usia 25 tahun.

Nelson sendiri telah menciptakan dua penemuan besar untuk masyarakat luas. Salah satu penemuannya dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan untuk membuat laser dan lampu LED. Penggunaan teknologi LED dapat menghemat energi yang sangat besar.

4. Agus Pulung Sasmito
Agus Pulung Sasmito berasal dari Wonosobo. Ia berkuliah di Universitas Gadjah Mada jurusan Teknik Fisika. Ia meraih gelar sarjana pada tahun 2005. Kemudian pada tahun 2006 ia mendapatkan beasiswa di National University of Singapore (NUS) dan mengambil jurusan teknik mesin.

Tahun kedua berkuliah, ia ditawari oleh pembimbingnya untuk melanjutkan jenjang doktoral tanpa menyelesaikan jenjang magister. Program ini dinamakan direct PhD.

Lalu ia melanjutkan ke jenjang professorship dan menjadi pengajar serta peneliti di McGill University pada tahun 2013 saat berusia 32 tahun.

Nah itulah deretan profesor termuda di dunia. Semoga kisahnya dapat menginspirasi detikers ya!

Anatasia Anjani

Sumber: detikEdu, Selasa, 22 Mar 2022

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 82 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru