Home » Sejarah Universitas

Unhas 50 Tahun; Memperbaiki Citra sebagai Tempat Tawuran Mahasiswa

11 September 2006 1,101 views No Comment

Tawuran dan demonstrasi boleh dikata sudah hampir menjadi “tradisi” rutin tahunan di Universitas Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, beberapa tahun terakhir.

Setiap bulan September, yang bersamaan dengan masa orientasi penerimaan mahasiswa baru, tawuran pasti terjadi. Ironis. Tawuran itu justru berlangsung menjelang atau sesudah peringatan diresmikannya Universitas Hasanuddin (Unhas) pada 10 September 1956 oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Tawuran kerap berakhir dengan baku lempar batu, senjata tajam, hingga aksi perusakan fasilitas kampus. Tawuran juga menyebabkan korban luka dan bahkan meninggal.

Tak urung Rektor Unhas Prof Dr Idrus Paturusi, yang baru beberapa bulan menjabat rektor, dibuat bingung. Mengembalikan citra Unhas yang telanjur negatif itu tentu tak semudah membalikkan telapak tangan.

Saking ramainya tawuran dan demonstrasi ini, masyarakat lebih tahu tawuran di Unhas ketimbang keberhasilan yang pada saat sama sebenarnya juga dilakukan oleh orang Unhas lainnya. “Orang-orang Unhas yang berprestasi akhirnya tenggelam dengan berita dan kehebohan tawuran,” ujar Idrus.

Padahal, hasil penelitian kultur jaringan tanaman kentang yang dilakukan Prof Dr Ir Baharudin, misalnya, bahkan sudah dikembangkan, yaitu bekerja sama dengan industri.

Penelitian pembuatan kapsul berisi ekstrak ikan gabus yang bermanfaat memberikan nutrisi dan protein bagi tubuh dilakukan Dr dr Puji Astuti Taslim.

Ada lagi penelitian tentang vegetasi kawasan karst Bantimurung yang dilakukan Amran Ahmad, dosen Jurusan Kehutanan, yang akhirnya membuat pemerintah menempatkan kawasan ini sebagai taman nasional.

Baru-baru ini Prof Syansuddin Ahsan, Dekan Fakultas Peternakan Unhas, juga mendapatkan penghargaan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk kategori pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah melalui program penerapan dan kemanfaatan iptek daerah.

Idrus mengakui, tak mudah mengubah dan menghilangkan tawuran ini, terlebih di kampus tempat mahasiswa merasa bebas berekspresi, punya kemerdekaan melakukan banyak hal. Tak heran, ketika dipercaya menjabat Rektor Unhas, Idrus menjadikan tawuran sebagai persoalan bersama yang perlu segera dicari solusinya.

Menghapus tradisi orientasi penerimaan mahasiswa baru agaknya jawaban awal dari kebijakan menghapus tradisi kekerasan itu. Setelah berbicara dengan wakil Badan Eksekutif Mahasiswa dari tingkat paling bawah hingga atas, serta berbagai kalangan lainnya, keputusan meniadakan orientasi penerimaan mahasiswa baru pun diterapkan sejak September ini.

Namun, belum lagi masalah kekerasan rampung, mencuat lagi kasus yang cukup mencoreng nama Unhas sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di kawasan timur Indonesia, yaitu korupsi.

Terakhir adalah kasus dugaan korupsi dana penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp 500 juta di Program Pascasarjana Nonreguler Fakultas Hukum yang diduga melibatkan sejumlah nama besar dan pejabat maupun mantan pejabat di Fakultas Hukum Unhas. Tak hanya Fakultas Hukum, kasus yang sama juga diduga terjadi di semua fakultas di Unhas yang diduga merugikan negara Rp 69,84 miliar.

Idrus mengatakan banyak hal yang perlu dibenahi di kampus ini. Kesejahteraan dosen, kelengkapan fasilitas kuliah, suasana kampus yang nyaman, adalah beberapa masalah yang perlu mendapatkan perhatian.

Usia yang ke-50 ini seharusnya menjadikan civitas akademika Unhas lebih dewasa, lebih bijak, lebih cerdas, dan mau melakukan introspeksi.

Selamat ulang tahun.… (Reny Sri Ayu Taslim)

———-

Konflik, Kalla Malu kepada Presiden dan Menteri

cropped-unhas2Wakil Presiden Jusuf Kalla mengaku kerap terganggu dan malu kepada menteri dan juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena seringnya terjadi perkelahian dan konflik di lingkungan Universitas Hasanuddin, Makassar.

Kalla sebagai alumnus Unhas pantas terganggu dan juga malu mendapati kenyataan tidak pernah redanya konflik itu, terlebih setelah konflik bersenjata di Nanggroe Aceh Darussalam antara Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka diselesaikan oleh tiga orang Makassar alumnus Unhas. Ketiga orang itu adalah Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid Awaludin, Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Farid Husein, dan dirinya sendiri.

“Tidak ada konflik di Indonesia yang tidak diselesaikan orang- orang Unhas. Tetapi, di Unhas sendiri, konflik dan perkelahian tidak pernah selesai,” ujarnya dalam sambutan peringatan Dies Natalis Ke-50 Tahun Unhas di Makassar, Sabtu (9/9).

Ungkapan perasaan Kalla itu ditanggapi beragam oleh undangan yang sebagian besar alumus Unhas. Ada yang diam tertunduk, ada pula yang tertawa. (inu)

Sumber: Kompas, 11 September 2006

Share

Leave a comment!

You must be logged in to post a comment.