Home / Artikel / Waspadai Ledakan Penduduk di Masa Pandemi

Waspadai Ledakan Penduduk di Masa Pandemi

Bahaya ”baby boom” dewasa ini luar biasa karena komposisi demografi penduduk Indonesia sejak 1990-an berubah dibandingkan 1970-1990.

KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA–Ibu-ibu membawa anak balita ke Puskesmas Manamas di Kecamatan Nai Benu, Timor Tengah Utara, NTT, beberapa waktu lalu, untuk mendapatkan makanan tambahan dari puskesmas.

Hari ini seluruh perhatian tercurah pada penanganan pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia. Akan tetapi, kalau kita tidak waspada, sembilan bulan dari sekarang kita akan dikejutkan kembali oleh masalah baru yang sama gawatnya, yaitu ledakan penduduk (baby boom).

Ledakan penduduk sekarang akan jauh lebih hebat dari ledakan penduduk 1960-an tatkala anak-anak muda kembali dari pengungsian setelah keadaan Indonesia dirasa aman ditinggalkan Belanda dan Jepang yang menjajah bangsa ini selama ratusan tahun.

Jumlah anak muda laki-laki dan perempuan dewasa ini berkisar 2-3 kali tahun 1960 karena sejak kita berhasil mengerem laju pertambahan penduduk lewat program KB tahun 1970, tingkat kelahiran pada 1990 sudah turun lebih dari 50 persen. Namun, anak-anak di bawah usia 15 tahun tumbuh subur, mengubah struktur penduduk, sehingga jumlah anak muda hasil ledakan penduduk 1960 sampai 1970 menjadi jauh lebih besar dan tumbuh dengan tingkat kematian yang lebih rendah.

Akibatnya, jumlah penduduk usia di atas 15 tahun membengkak dengan sangat besar. Begitu juga jumlah penduduk lanjut usia menjadi lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan tahun 1970. Sebentar lagi hasil Sensus Penduduk 2020 akan memberikan angka pasti. Tetapi akan jadi tak akurat kalau kita tak waspada karena sembilan bulan dari sekarang terjadi ledakan penduduk yang baru.

Kenapa ledakan penduduk baru ini lebih berbahaya? Kita semua bergerak cepat dan menganjurkan kepada semua penduduk, tua-muda, laki-laki- perempuan, bahwa salah satu upaya mencegah menjalarnya Covid-19 adalah tinggal di rumah, rajin mencuci tangan dengan sabun, memelihara jarak, dan tak bergerombol.

Tinggal di rumah dan memelihara jarak bisa dilakukan dengan baik, tetapi bagi suami istri muda tidak mungkin semua bisa kalau malam tiba harus menyediakan dua tempat tidur terpisah, atau ”terpaksa” tidur pada dua tempat tidur berbeda. Pada awal tidur, kalau tempat tidurnya besar, bisa terpisah, tetapi pasti tidak lebih dari satu bantal sehingga tidak memenuhi syarat.

Pasangan muda yang ikut KB biasanya menggunakan pil KB. Kalau suplai pil KB habis, karena takut keluar rumah atau pergi ke klinik/rumah sakit sebab khawatir terpapar virus korona, kemungkinan hamil akan sangat tinggi. Pil KB sekarang ini kandungan hormonnya rendah sehingga terlambat 1-2 hari memiliki kemungkinan bisa hamil relatif tinggi. Berbeda dengan pil KB sebelum 1950 yang kandungan hormonnya tinggi sehingga terlambat lebih dari dua hari masih aman.

Bagi peserta KB dengan suntik atau spiral tak menjadi masalah karena terlindung jauh lebih aman dibandingkan pengguna pil atau kondom, atau yang menggunakan pencegahan secara natural dengan memperhatikan masa subur melalui sistem kalender. Pada waktu belum ada virus korona, semua bisa dikontrol karena suami atau istri atau kedua-duanya bekerja sehingga setelah pulang kerja biasanya capai dan dengan sadar bisa tahan untuk tidak berhubungan badan sehingga posisi tidur tak jadi masalah.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA—Suasana pelayanan KB metode kontrasepsi jangka panjang yang diberikan oleh petugas BKKBN bagi warga Distrik Arso, Selasa (19/12/2019), di Posyandu Bina Ria Sejahtera Arso VII, Kabupaten Keerom, Papua.

Dampak berkelanjutan
Virus korona memang berbahaya, tetapi begitu bisa ditangani, virus itu akan mati atau lenyap dari peredaran. Namun, bahaya ledakan penduduk tidak bisa dihentikan rentetan dampaknya. Setelah ledakan kelahiran bayi, akan terjadi ledakan kebutuhan sekolah, ledakan kebutuhan lapangan kerja, dan akhirnya ledakan peningkatan berbagai kebutuhan yang makin tinggi sehingga bisa terjadi rentetan akibat yang berkelanjutan dari baby boom pascapandemi.

Bahaya baby boom dewasa ini luar biasa karena komposisi demografi penduduk Indonesia sejak 1990-an berubah dibandingkan 1970-1990. Tahun 1970 jumlah terbesar ada pada anak di bawah 15 tahun sehingga meskipun ada baby boom, adalah berasal dari pasangan muda yang relatif kecil jumlahnya hingga mudah dikendalikan. Baby boom masa lalu bisa diatasi melalui pengendalian penduduk yang sistematis, yakni program KB yang efektif.

Karena komposisi penduduk mengalami pembengkakan pada penduduk usia muda dan jumlah anak mudanya sangat besar, ledakan yang sekarang akan jauh lebih dahsyat. Di era modern dewasa ini, pengguna kontrasepsi spiral dan suntik relatif rendah sehingga peserta KB relatif belum stabil dan tingkat kelahiran terakhir menurun bukan karena penggunaan kontrasepsi semata, tetapi karena wanita bekerja di luar rumah. Keharusan tinggal di rumah membuat risiko lonjakan angka kelahiran dari kelompok muda ini menjadi sangat besar.

Ini menjadi tantangan bagi Kepala BKKBN. Kepala BKKBN perlu memberi petunjuk tegas agar petugas lapangan KB, bidan, dan pemimpin kelompok KB di desa-desa ”mengirim bola” mengembangkan pendekatan ”ojek” mengantar suplai pil KB dan kondom kepada para peserta KB pil dan kondom yang tersebar di desa-desa.

Kelompok akseptor yang marak di masa lalu, posdaya atau pos KB desa, harus disegarkan dan digerakkan untuk mengantar pil KB atau kondom kepada pasangan usia subur muda. Marilah kita lakukan usaha ini seperti semua pihak berlomba mengantar masker kepada penduduk desa guna mencegah penularan korona.

(Haryono Suyono, Mantan Menko Kesra/Taskin/Kepala BKKBN)

Sumber: Kompas, 9 Mei 2020

Share
x

Check Also

Catatan 75 Tahun Pendidikan

Untuk 25 tahun ke depan, penentu kebijakan dan masyarakat perlu lebih mampu mengendurkan hasrat penyeragaman ...

%d blogger menyukai ini: