Home / Berita / Vaksin Perlu, Tapi Tes dan Pelacakan Harus Prioritas

Vaksin Perlu, Tapi Tes dan Pelacakan Harus Prioritas

Pemerintah diminta memprioritaskan peningkatan tes, lacak, dan isolasi yang menjadi kunci bagi pemutusan rantai penularan Covid-19. Apalagi sejauh ini kandidat vaksin Covid-19 masih dalam tahap uji klinis.

Penyediaan vaksin perlu dipersiapkan, namun hal ini tidak boleh melupakan upaya pengendalian penyebaran Covid-19. Saat ini pemerintah diminta memprioritaskan peningkatan tes, lacak, dan isolasi yang menjadi kunci bagi pemutusan rantai penularan.

“Saat ini yang mendesak adalah pencegahan dan pengendalian wabah agar tidak terus membesar. Langkah ini yang juga dilakukan negara lain seperti Selandia Baru dan Taiwan yang terbukti bisa mengendalikan wabah, jadi bukan kuratif,” kata epidemiolog Indonesia di Griffith University, Australia Dicky Budiman, dihubungi dari Jakarta, Senin (28/9/2020).

Menurut Dicky, tes, pelacakan kontak, dan isolasi, menjadi langkah dasar dalam memutus rantai penuaran. Oleh karena itu, pemerintah diminta fokus pada tiga hal ini dan tidak hanya bersemangat soal vaksin.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menyatakan, vaksin bukan peluru perak yang bisa menghenatikan pandemi. Belajar dari pandemi sebelumnya, tes, lacak, isolasi tetap harus dilakukan sekalipun ada vaksin.

“Saya khawatir ada yang salah persepsi sehingga tidak serius melakukan tes dengan masif. Adanya kasus terkonfirmasi yang tinggi tidak selalu buruk jika kita memiliki strategi yang tepat. Yang lebih berbahaya adalah ketika orang yang tertular tidak ditemukan, ini akan menyebabkan melonjaknya kasus pasien di rumah sakit dan kematian,” tuturnya.

Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 menunjukkan, angka kasus dan korban jiwa di Indonesia terus bertambah tinggi. Pada Senin, penambahan kasus mencapai 3.509 orang sehingga total kasus mencapai 278.722, sedangkan korban jiwa bertambah 87 orang sehingga total menjadi 10.473 orang.

Terus bertambahnya kasus ini belum diikuti peningkatan jumlah tes, yang rata-rata masih di bawah 30.000 orang per hari. Menurut laporan WHO pekan lalu, tes di Indonesia ini rata-rata baru separuh standar minimal 1 per 1000 per minggu. Sejauh ini baru empat provinsi yang sudah melebihi jumlah tes minimal, yaitu Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sumatera Barat, dan Papua.

Laporan WHO ini juga mencatat, tidak satu pun provinsi di Jawa yang menunjukkan penurunan setidaknya 50 persen untuk dalam tiga minggu sejak puncak terakhir. DKI Jakarta dan Jawa Tengah misalnya, terjadi penurunan kasus kurang dari 50 persen sejak puncak terakhir selama seminggu dari 7 sampai 13 September, sedangkan di Banten justru meningkat hampir dua kali lipat selama seminggu terakhir.

Perilaku masyarakat
Selain minimnya upaya tes, lacak dan isolasi, tingginya risiko penularan di Indonesia juga dipengaruhi oleh perilaku warga yang abai dengan protokol kesehatan. Survei Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilakukan pada 7-14 September menunjukkan, 17 persen dari 90.967 responden menyatakan sangat tidak mungkin atau tidak mungkin terinfeksi Covid-19.

Semntara yang mengatakan sangat mungkin tertular 19,3 persen, 34,3 persen cukup mungkin tertular, dan 29,4 persen mungkin tertular penyakit.

“Kita perlu lebih keras lagi meningkatkan atau menggencarkan mengenai pemahaman masyarakat tentang Covid-19 bahwa siapapun bisa terkena risiko, karena Covid-19 tidak mengenal umur, jenis kelamin, pendidikan, dan status sosial,” kata Kepala BPS Suhariyanto saat mempresentasikan surveinya di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Mereka yang mengatakan tidak mungkin tertular, menurut Suharoyanto, 33,69 persen berpendidikan sekolah dasar, 32,58 persen sekolah menengah pertama, 25,46 persen sekolah menengah atas atau kejuruan dan 13,41 persen mengenyam pendidikan diploma atau sarjana. Dengan menganggap tidak mungkin tertular, mereka cenderung abai protokol kesehatan.

Padahal, studi dari hasil pelacakan kontak yang dilakukan Direk Limmathurotsakul dari Universitas Mahidol, Thailand, dan Pusat Pengobatan Tropis dan Kesehatan Global, Universitas Oxford, Inggris menemukan efektivitas penggunan masker, cuci tangan, dan menjaga jarak di Thailand. Studi ini dipresentasikan dalam acara tahunan European Society of Clinical Microbiology and Infectious Diseases pekan lalu.

Mereka melakukan studi kasus-kontrol dengan 211 kasus dan 839 kontrol berdasarkan catatan pelacakan kontak dari Tim Surveilans dan Respon Cepat Pemerintah Thailand. Studi ini mencakup penyelidikan kontak dari tiga kelompok besar Covid-19 yang diidentifikasi di klub malam, stadion tinju, dan kantor perusahaan negara di Thailand.

Para peneliti menemukan bahwa memakai masker sepanjang waktu selama kontak bisa menurunkan risiko tertular Covid-19 hingga 77 persen. Studi juga menemukan, mereka yang selalu memakai masker juga lebih cenderung mempraktikkan jarak sosial.

Sementara menjaga jarak setidaknya 1 meter dari pasien Covid-19 mengurangi risiko infeksi hingga 85 persen dan membatasi kontak dekat dengan orang yang positif kurang dari 15 menit mengurangi risiko terinfeksi hingga 76 persen dibandingkan kontak lebih dari 15 menit. Sering mencuci tangan juga mengurangi risiko infeksi hingga 66 persen.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 29 September 2020

Share
%d blogger menyukai ini: