Home / Berita / Terobosan Pembelajaran Jarak Jauh Terus Digali

Terobosan Pembelajaran Jarak Jauh Terus Digali

Implementasi pembelajaran jarak jauh tidak mudah dilakukan. Berbagai terobosan dilakukan untuk mengatasi hambatan-hambatan belajar dari rumah.

Guru SD Al Azhar 15 Pamulang, Tangerang Selatan, Banten menjelaskan pelajaran melalui teleconference kepada para siswanya saat menggelar kegiatan belajar mengajar secara daring, Selasa (17/3/2020).

Terobosan pembelajaran jarak jauh terus digali metodenya agar pas dan sesuai dengan kondisi siswa. Meski demikian, semua pihak perlu menyadari bahwa pandemi Covid-19 adalah situasi darurat sehingga sekolah maupun guru diminta tidak memaksakan penuntasan kurikulum.

Mulai Senin (13/4/2020) Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI) menayangkan konten program Belajar dari Rumah. Program ini rencananya berjalan sampai tiga bulan ke depan.

Stefani, siswa kelas 8 SMP asal Pondok Benda, Pamulang, Tangerang Selatan, menceritakan, gurunya tetap memberikan materi pengajaran beserta tugas di Google Classroom meskipun dia mengikuti konten program Belajar dari Rumah TVRI. Akibatnya, perhatian dia terpecah.

“Aku suka konten pelajaran yang disiarkan di TVRI. Akan tetapi, penyiaran konten itu bertabrakan dengan tugas dari guru,” ujar dia saat dihubungi Senin (13/4/2020), di Jakarta.

Menurut Stefani, dia sudah mengikuti PJJ selama sebulan. Selama kurun waktu tersebut, dia pernah mendapat tugas dari materi baru yang belum dijelaskan oleh guru sehingga dia kebingungan mengerjakan. Dia juga pernah mendapati gurunya sudah menaruh arahan pelajaran di Google Classroom. Isi arahannya adalah meminta siswa lebih banyak membaca buku mata pelajaran lalu mengerjakan tugas.

Sementara terkait pulsa paket data, dia mengaku tidak ada persoalan. Hal itu dikarenakan orang tuanya memasang wi-fi di rumah.

Rosi, karyawan swasta sekaligus ibu rumah tangga di Yogyakarta, mempunyai seorang anak laki-laki yang duduk di kelas 2 SD. Anaknya telah mengikuti PJJ selama tiga minggu. Selama PJJ, dia mengaku tidak bisa fokus mendampingi anak belajar karena dia pun harus bekerja.

Dia mengetahui informasi program Belajar dari Rumah LPP TVRI dari Whatsapp Group wali murid dan media sosial. Kemarin, anaknya menonton konten Sahabat Pelangi. Kendati kontennya bagus, anaknya merasa durasi siar konten terlalu cepat sehingga susah mencatat materi.

Ida Ayu Suastini, warga desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mengaku senang dengan adanya konten program Belajar dari Rumah di LPP TVRI. Materi hari pertama kemarin adalah cerita keseharian dan cara berinteraksi dengan sesama. Materi seperti itu cocok buat anaknya yang baru duduk di kelas 1 SD.

“Ada beberapa penggalan cerita yang mengajak anak mengembangkan pola pikir atau daya nalar. Dengan kata lain, anak diajak membangun kesadaran dari sebuah kejadian,” ujar Ida.

Dia menyarankan kepada LPP TVRI ataupun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menambah durasi siar. Misalnya, satu jam. Ketika durasi ditambah, asumsi dia adalah anak menjadi lebih fokus dan konsentrasi.

Guru SMPM SATAP 11 Batu, Sidengreng Rappang, Sulawesi Selatan, Supriadi, menceritakan, sebelum pusat mengembangkan program Belajar dari Rumah di LPP TVRI, di Sulawesi Selatan, beberapa radio lokal telah bekerja sama dengan dinas pendidikan provinsi untuk menyiarkan materi PJJ. Hal ini bersifat melengkapi dan menyiasati model pengajaran metode daring yang dilakukan guru lainnya, seperti melalui aplikasi Zoom dan Cisco Webex. Dinas pendidikan provinsi menyusun jadwal pembelajaran sampai narasumber. .

“Tantangannya adalah tetap ada guru dan siswa yang kesulitan mengakses. Hal itu utamanya dialami oleh mereka yang tinggal di pedesaan dan memiliki keterbatasan peralatan media komunikasi,” kata dia.

Terima laporan
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti mengatakan, pihaknya mengapresiasi terobosan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk mengatasi persoalan – persoalan yang muncul selama PJJ. Misalnya, platform Rumah Belajar, Guru Berbagi, diperbolehkannya dana bantuan operasional sekolah (BOS) untuk mensubsidi beban pulsa seluler, penerbitan Surat Edaran Mendikbud No 4/2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19, dan program Belajar dari Rumah di LPP TVRI.

Namun, masih ada persoalan inti PJJ yang belum terpecahkan secara optimal. Sejak 16 Maret sampai 9 April 2020, KPAI menerima sekitar 213 pengaduan PJJ baik dari orang tua maupun siswa. Pengaduan tersebut dikelompokkan menjadi lima jenis persoalan. Permasalahan pertama yaitu penugasan yang terlalu berat dan waktu pengerjaan yang pendek. Kedua, banyak tugas merangkum bab dan menyalin soal di buku.

Ketiga, jam belajar kaku mirip dengan jam sekolah normal. Keempat, siswa tidak memiliki pulsa seluler yang melimpah untuk mengikuti PJJ dengan metode daring. Aduan permasalahan ini terutama datang dari siswa yang orang tuanya berlatar belakang pekerja upah harian. Persoalan kelima, sebagian siswa tidak memiliki gawai pribadi sehingga siswa kesulitan ujian daring yang akan dilaksanakan akhir April – Mei 2020.

Sekitar 60 persen dari total pengadu berasal dari provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Para pengadu tersebut datang dari sekolah- sekolah di bawah Kemdikbud dan Kementerian Agama.

Di beberapa wilayah, dinas pendidikan dan kantor wilayah agama dikabarkan tetap melakukan tekanan terhadap guru untuk menyelesaikan capaian kurikulum seperti kondisi normal. Akibatnya, ada potensi guru menekan siswa. Ada juga beberapa guru yang tetap diminta lapor ke dinas selama PJJ.

“Padahal, pandemi Covid-19 merupakan kondisi darurat. Ada potensi durasi PJJ diperpanjang sebab kasus Covid-19 masih terus naik. Kami berharap, pemerintah segera menyusun kurikulum dalam situasi darurat,” kata Retno.

Dia mengakui, di Surat Edaran Mendikbud No 4/2020 telah menyebut belajar dari rumah dilaksanakan tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas atau kelulusan. Akan tetapi, pada praktiknya tidak demikian.

Dengan adanya peraturan khusus tentang kurikulum dalam situasi darurat, dia berharap dinas pendidikan dan sekolah lebih tersadarkan. Implementasi kurikulum dalam situasi darurat mirip saat ini mirip ketika terjadi gempa Palu dan Lombok beberapa waktu lalu. Pada saat bencana itu, pemerintah pusat segera mengeluarkan kebijakan dan panduan.

“Sebelum ada bencana, sejauh mana materi pelajaran diajarkan. Nah, materi tersebut yang dipakai sebagai bahan untuk ujian kenaikan kelas. Kalau ada panduan khusus, bukan sekadar surat edaran, kami yakin dinas dan guru cepat mematuhi,” kata dia.

M Ari Widowati, Direktur Program PINTAR Tanoto Foundation, berpendapat, kondisi setiap orang tua siswa pasti berbeda-beda. Realitas ini perlu menjadi perhatian sekolah dan guru selama menggelar PJJ. Komunikasi antara sekolah dan orang tua harus terjalin optimal.

“Sekolah perlu mengetahui peran orang tua dengan berbagai kondisinya untuk bisa mendukung anaknya bisa belajar dari rumah,” ujar dia.

Ari menjelaskan, Tanoto Foundation telah merilis panduan PJJ bagi orang tua dan siswa. Untuk orang tua, panduannya diberi nama MIKIR. MIKIR kepanjangan dari membuat jadwal dan aturan bersama, ide kegiatan, komunikasi positif, ingatkan waktu dan introspeksi, serta refleksi dan relasi.

Sementara untuk siswa, panduan PJJ diberi nama MANTUL. MANTUL kepanjangan dari motivasi diri, atur waktu, mengerjakan tugas dan hobi, tanya orang, ulang materinya lagi, serta lanjutkan dan perbaiki.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Siswa kelas 2 di SD Al-Bayan Islamic School, Kota Tangerang, Banten, mengerjakan tugas dari guru saat belajar di rumah (home learning), Selasa (17/3/2020).

Televisi kabel
Ketua Dewan Pengawas LPP TVRI, Arief Hidayat Thamrin, saat dihubungi terpisah, menyampaikan, ada permintaan Kemdikbud untuk tidak menayangkan konten program Belajar dari Rumah secara beraliran langsung (streaming). Hal ini dikarenakan sejak awal konten didesain bukan untuk disiarkan secara daring, tetapi untuk media televisi terestrial.

“Konten program Belajar dari Rumah juga diperbolehkan disiarkan di TV kabel, seperti Indihome,” kata dia.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud Hilmar Farid menyampaikan, konten program Belajar dari Rumah di LPP TVRI dikerjakan secara daring. Dengan kata lain, bahan konten diperoleh dan diproduksi secara daring dari berbagai sumber Kemdikbud.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud, Supriano, saat membuka acara Diklat Daring Masif dan Terbuka (Didamba) bagi Guru Ilmu Pengetahuan Alam Angkatan 2, Senin (13/4/2020), mengajak lebih banyak guru berkontribusi di platform Guru Berbagi. Di platform ini, guru satu dengan lainnya bisa saling berbagi pengalaman PJJ sampai materi rencana pelaksanaan pembelajaran. Sejak diluncurkan awal April 2020, sudah ada ribuan pengakses platform itu.

Didamba Guru Ilmu Pengetahuan Alam Angkatan 2 diikuti sekitar 935 orang guru. Jika 50 persen dari peserta tersebut berpartisipasi di platform Guru Berbagi, dia menilai hal itu positif.

“Kendati ada pandemi Covid-19, anak-anak tetap harus diberikan kesempatan belajar dengan berbagai cara sesuai kondisi mereka,” kata dia.

Oleh MEDIANA

Editor: ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 14 April 2020

Share
x

Check Also

Instrumen Nilai Ekonomi Karbon Diatur Spesifik

Pemerintah sedang menyusun peraturan presiden terkait instrumen nilai ekonomi karbon dalam. Ini akan mengatur hal-hal ...

%d blogger menyukai ini: