Home / Berita / Tembaga Cair Memperpanjang Masa Kembang Biak Nyamuk

Tembaga Cair Memperpanjang Masa Kembang Biak Nyamuk

Tembaga sejak lama dikenal memiliki sifat antibakteri dan antivirus. Penelitian terbaru membuktikan tembaga cair konsentrasi rendah ampuh membunuh larva nyamuk ataupun memperpanjang siklus hidup nyamuk.

Nyamuk sebagai vektor penyakit berbahaya menjadi momok bagi manusia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, nyamuk menyebabkan jutaan kematian setiap tahun. Lebih dari setengah populasi dunia terancam oleh nyamuk sebagai vektor dan menularkan malaria, demam berdarah dengue (DBD), zika, chikungunya, demam kuning, dan penyakit lainnya.

Di Indonesia, misalnya, hampir setiap tahun DBD menyerang manusia dan merenggut banyak nyawa. Kementerian Kesehatan mencatat, kasus DBD di Indonesia pada 1 Januari-23 April 2020 mencapai 45.344 kasus dengan angka kematian 297 kasus (Kompas.id, 24/4/2020).

Di tengah ancaman itu, dunia juga tengah menghadapi tantangan dalam upaya pengendalian vektor. Semakin hari nyamuk semakin resisten terhadap insektisida. Padahal, penggunaan insektisida menjadi cara paling umum dilakukan dalam membasmi nyamuk.

WHO menyebut, resistensi telah terdeteksi pada semua spesies vektor utama dan untuk semua kelas insektisida. Dari 81 negara endemik malaria yang memiliki data untuk periode 2010-2018, resistensi nyamuk terhadap setidaknya 1 dari 4 kelas insektisida terdeteksi di 73 negara.

Pengendalian siklus hidup nyamuk menjadi cara alternatif dalam menjawab ancaman masalah resistensi tersebut. Cara ini juga dianggap lebih efektif dan efisien serta aman bagi manusia dibandingkan menggunakan insektisida.

Penelitian terbaru Mohamad Reza dan Cimi Ilmiawati dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, menemukan, tembaga cair (CuSO4) konsentrasi rendah atau kurang dari 1 ppm (part per million) atau bagian per juta (bpj) efektif dan efisien dalam pengendalian nyamuk. Hasil kajian dipublikasikan di jurnal Plos One pada 21 Mei 2020.

MOHAMMAD REZA UNTUK KOMPAS—Skema penelitian Mohamad Reza dan Cimi Ilmiawati dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, terkait efek tembaga cair kurang dari1 ppm terhadap larva nyamuk.

Dalam riset di laboratorium di Jepang itu, peneliti melakukan pengujian terhadap tiga spesies nyamuk, yaitu Aedes albopictus, Anopheles stephensi, dan Culex pipiens. Aedes albopictus adalah vektor penyakit demam berdarah, Anopheles stephensi menjadi vektor malaria, dan Culex pipiens merupakan vektor filariasis atau kaki gajah.

Empat puluh larva instar pertama dari tiap-tiap spesies nyamuk dimasukkan ke dalam air yang mengandung 0,15 ppm, 0,30 ppm, dan 0,60 ppm tembaga. Jumlah yang sama juga dimasukkan ke air tanpa tembaga sebagai kelompok kontrol.

Peneliti mengamati dan menghitung larva yang bertahan, pupa yang baru muncul, dan nyamuk dewasa setiap 24 jam serta menganalisisnya secara statistik dengan uji-t atau uji Mann-Whitney U. Perbedaan antarspesies dalam merespons perbedaan konsentrasi tembaga juga dianalisis.

Hasilnya, paparan tembaga 0,60 ppm menyebabkan tingginya tingkat kematian larva nyamuk setiap spesies. Larva Anopheles stephensi dan Culex pipiens yang terpapar 0,60 ppm tembaga menunjukkan mortalitas 100 persen dalam seminggu, sedangkan sejumlah kecil larva Aedes albopictus selamat.

Pada konsentrasi 0,30 ppm, tembaga membunuh setengah larva dari ketiga spesies nyamuk dalam tujuh hari. Sementara itu, pada paparan tembaga konsentrasi 0,15 ppm, sepertiga larva Culex pipiens mati, sedangkan pada dua spesies lainnya, terutama Anopheles stephensi, dampak tembaga terhadap mortalitas tidak signifikan jika dibandingkan kelompok kontrol.

Pupa mulai muncul pada hari kedelapan hingga kesepuluh, tergantung spesies nyamuk. Larva yang bertahan hidup dari paparan 0,15 dan 0,30 ppm tembaga menunjukkan waktu pupasi yang memanjang pada semua spesies dibandingkan dengan kelompok kontrol. Adapun larva Aedes albopictus yang selamat dari paparan 0,60 ppm tembaga tidak berubah menjadi pupa.

Pada paparan tembaga 0,15 ppm, pupa dari ketiga spesies yang bertahan bisa menjadi nyamuk dewasa tetapi secara statistik jumlahnya jauh lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol. Nyamuk dewasa dari semua spesies yang diamati muncul lebih lambat dibandingkan dengan kontrol dan bertahan hingga 22 hari pengamatan. Sementara itu, pada paparan tembaga 0,30 ppm, hampir tidak ada pupa dari semua spesies yang muncul sebagai nyamuk dewasa.

Siklus hidup
Reza menyebut, efek tembaga konsentrasi rendah memperpanjang siklus hidup nyamuk dua-tiga kali. Perpanjangan siklus terjadi pada siklus larva menuju pupa ataupun pupa menuju nyamuk dewasa. Paparan tembaga mengganggu sistem pencernaan larva sehingga menghambat asupan nutrisi. Efeknya, larva jadi kurang gizi dan butuh waktu lebih lama berkembang.

KOMPAS/KEMENTERIAN KESEHATAN—Data sebaran DBD per 21 April 2020.

”Kelompok kontrol dalam beberapa hari menjadi pupa dan pada hari ke-12 sudah menjadi nyamuk dewasa. Sementara nyamuk yang terpapar tembaga baru menjadi pupa setelah 20 hari dan butuh waktu seminggu hingga dua minggu menjadi nyamuk dewasa,” kata Reza, Kamis (4/6/2020).

Nyamuk dewasa yang selamat dari paparan tembaga konsentrasi rendah berukuran lebih kecil. Namun, efek tembaga tidak berpengaruh terhadap usia nyamuk dewasa. Efek paparan tembaga terhadap nyamuk hanya mempan pada fase larva. Jangka hidup nyamuk dewasa yang selamat dari paparan tembaga tidak berbeda dengan kelompok kontrol.

Penelitian ini merupakan yang keenam dilakukan Reza sejak 2012 terkait dampak paparan tembaga cair terhadap nyamuk. Temuan ini mengonfirmasi penelitian sebelumnya pada 2015-2016. Dalam penelitian lapangan di Painan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Reza menguji efek paparan tembaga 10 ppm terhadap nyamuk.

Dalam riset lapangan di Painan, larutan tembaga 10 ppm bisa memancing nyamuk bertelur di ovitrap. Telur-telur nyamuk bisa menetas tetapi tidak bisa bertahan. Namun, di beberapa wadah luar ruangan, tidak semua larva mati. Kondisi demikian terjadi karena berkurangnya konsentrasi tembaga akibat air hujan. Walakin, larva yang bertahan itu ukurannya kecil dan kurang motil.

Pemanjangan siklus hidup nyamuk akibat paparan tembaga cair konsentrasi rendah, kurang dari 1 ppm, bisa menjadi solusi alternatif dalam pengendalian nyamuk. Dengan siklus hidup yang lebih panjang, kemampuan nyamuk untuk berkembang biak akan melambat. Selama pemanjangan siklus itu, manusia bisa memotong transmisi penularan penyakit.

Reza berpendapat, penggunaan tembaga cair konsentrasi rendah efektif dan efisien dalam pengendalian nyamuk, terutama spesien Aedes. Nyamuk penular demam berdarah itu adalah spesies berkembang biak di air jernih. Spesies Aedes juga dikenal tahan terhadap insektisida baik dalam penyemprotan dalam ruangan maupun luar ruangan.

Tembaga cair juga mudah didapatkan. Di Indonesia, harga ecerannya relatif murah, sekitar 3 dollar AS atau Rp 42.000 (kurs dollar Rp 14.000) per kilogram.

Cimi menambahkan, dari sisi toksikologi lingkungan, penggunaan tembaga cair 0,15 ppm atau bahkan 0,60 ppm di dalam air juga aman bagi manusia. US EPA merekomendasikan 1,3 ppm sebagai batas aman konsentrasi tembaga dalam air minum. ”Pada kadar yang sangat rendah tersebut, tembaga cair juga tidak mengubah warna dan rasa air,” ujarnya.

Penggunaan tembaga cair konsentrasi rendah bisa diterapkan di bak-bak penampungan air, seperti bak mandi. Penggunaannya juga bisa diintegrasikan dengan sistem pipa air PDAM. Namun, pengaplikasian ini butuh penelitian lapangan lebih lanjut sebagai konfirmasi.

Ahli parasitologi serangga vektor Universitas Andalas, Adrial, mengatakan, temuan ini bisa menjadi alternatif lain dalam pengendalian nyamuk vektor di tengah ancaman resistensi nyamuk terhadap insektisida. Sebelumnya, beberapa riset membuktikan efek tembaga terhadap larva nyamuk tetapi dalam bentuk tembaga padat.

Sebagai langkah awal, kata Adrial, penggunaan tembaga cair untuk pengendalian larva nyamuk ini bisa dengan melakukan pengabdian masyarakat sebagai proyek percontohan. Selain untuk uji coba, langkah ini sekaligus untuk menyosialisasikan kepada masyarakat.

”Pemakaian tembaga cair konsentrasi rendah, saya rasa sangat bagus. Cuma, penggunaan tembaga ini belum familier di masyarakat, apalagi cair tembaga cair,” kata Adrial, yang juga Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran Unand.

Selama ini, masyarakat menganggap tembaga sebagai logam berat berbahaya karena termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) dan mencemari. Padahal, penggunaan tembaga cair dalam konsentrasi rendah aman bagi manusia dan bisa mengendalikan vektor. Ada nilai tambah yang belum diketahui masyarakat.

Terkait kemungkinan penerapan skala besar, seperti diintegrasikan dalam saluran pipa PDAM, Adril menyarankan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Sebab, air PDAM juga menggunakan kaporit. Perlu dikaji reaksi kimia yang muncul jika kaporit bertemu dengan tembaga cair.

Oleh YOLA SASTRA

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 22 Juni 2020

Share
x

Check Also

Diduga Kuat Covid-19 Bisa Menular Melalui Udara

WHO sedang mengkaji masukan sejumlah peneliti yang menyebutkan virus SARs-CoV-2, penyebab pandemi Covid-19, bisa menular ...

%d blogger menyukai ini: