Home / Berita / Teknologi Transportasi; ITS Kembangkan Mobil Multiguna Pedesaan

Teknologi Transportasi; ITS Kembangkan Mobil Multiguna Pedesaan

Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Jawa Timur, mengembangkan mobil multiguna pedesaan. Mobil ini didesain untuk memiliki empat fungsi, yaitu pengangkut penumpang, pengangkut barang, mesin produksi, dan kios toko berjalan. Tahun 2016, mobil ini direncanakan sudah dapat diproduksi massal.

”Mobil ini akan sangat berguna karena di Indonesia banyak pedesaan yang membutuhkan,” kata Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta di Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Selasa (1/7). Ia juga berharap mobil tersebut dapat segera diproduksi massal.

Mobil multiguna ini menggunakan mesin hibrid berkapasitas 650 cc dengan bahan bakar bensin dan biogas. Keistimewaan mobil ini adalah bagian belakang yang dapat diganti sesuai kebutuhan, seperti bak truk yang dapat diganti. Komponen bagian belakang dilengkapi tuas pengunci di kedua sisi mobil sehingga mudah dilepas-pasang.

Jika akan digunakan untuk mengangkut penumpang, di bagian belakang mobil dipasang kabin lengkap dengan dua bangku seperti angkutan umum. Apabila akan digunakan untuk kios berjalan, tinggal dipasang kabin berbentuk kios lengkap dengan meja dagang yang dapat dijulurkan ke luar.

multiguna ITSPara petani di desa juga dapat menggunakan peralatan pengolah hasil pertanian pada bagian belakang. Mesin pengolah itu digerakkan memanfaatkan daya dari mesin mobil. Sementara mobil berhenti, mesin mobil tetap dinyalakan untuk menggerakkan alat pertanian itu.

Koordinator peneliti kendaraan multiguna ITS, Agus Sigit Pramono, mengatakan, mobil tersebut dikembangkan mulai tahun 2012. Beberapa komponen, seperti kemudi, suspensi, dan sistem rem, masih harus impor, tetapi komponen lain sudah dapat dibuat sendiri. Total penggunaan bahan baku dalam negeri sudah mencapai 80 persen.

Siap massal
Menurut Agus, pembuatan mobil dilakukan melalui konsorsium yang, antara lain, terdiri dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, PT INKA, dan PT Railindo. Selain itu, ITS sudah menjalin kerja sama dengan sejumlah industri kecil dan menengah di Jawa Timur.

”Jadi, sekarang sudah ada jaringan untuk mempersiapkan produksi massal,” katanya.

Mobil multiguna ini pernah diproduksi PT INKA dan pernah dijual ke Makassar pada tahun 2011 sebanyak 45 unit masing-masing seharga Rp 60 juta. ”Kini, ITS mengembangkan lagi menjadi lebih baik dan besar,” kata Corporate Secretary PT INKA Suryanto.

Suryanto mengatakan, mobil ini tepat dijual melalui koperasi desa. Dengan demikian, masyarakat pedesaan tidak kesulitan untuk memperoleh mobil ini dengan menggunakan pinjaman lunak. Jika nanti dipasarkan, mobil ini diperkirakan dijual seharga Rp 70 juta per unit. (DEN)

Sumber: Kompas, 3 Juli 2014

—————

Menristek Dukung Mobil Multiguna Pedesaan Buatan ITS

Menristek Gusti Muhammad Hatta mendukung pengembangan lebih lanjut dari mobil multiguna pedesaan buatan ITS bersama konsorsium ABG (akademisi-bisnis-government), karena kendaraan itu memiliki empat fungsi sekaligus dan berbahan bakar ramah lingkungan.

“Itu bagus karena ramah lingkungan dan bisa untuk angkutan pedesaan dengan empat fungsi sekaligus untuk mobil toko, angkutan orang, barang, dan mobil produksi hasil pertanian,” katanya saat meninjau dan melakukan uji coba mobil multiguna pedesaan itu di Laboratorium Teknik Mesin ITS Surabaya, Selasa sore.

Oleh karena itu, Menristek berjanji akan menyampaikan pesan ke Menristek yang akan menggantikannya agar melanjutkan pengembangan mobil multiguna pedesaan itu sampai produksi massal pada tahun 2015.

“Tolong, saya diberi ‘roadmap’ (cetak biru) dari Mobil Multiguna Pedesaan yang ramah lingkungan itu mulai dari penelitian, prototipe riset, prototipe industri, hingga produksi massal, agar bisa dibicarakan dengan Menristek baru dan kementerian lainnya,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Menristek juga berjanji akan mengusulkan uji coba untuk mobil riset seperti mobil multiguna pedesaan buatan konsorsium yang dimotori ITS itu tidak perlu izin kementerian perhubungan atau perindustrian, namun cukup dari Kemristek.

Namun, bila sudah skala industri, maka izinnya harus sesuai prosedur. “Khusus mobil multiguna pedesaan itu, saya kira perlu dipikirkan uji coba untuk segala kondisi jalan, apakah di kampung atau di gunung-gunung,” katanya.

Tentang kemungkinan produksi secara massal, ia mengatakan mobil multiguna pedesaan buatan ITS itu masih skala 7, padahal sebuah hasil riset menjadi produksi massal itu membutuhkan hingga skala 9. “Untuk sampai skala 9, saya kira akan tercapai pada tahun 2015,” katanya. (*)

Editor : Didik Kusbiantoro
Penulis : Edy M Yakub

Sumber: Antara Jatim, 01 Jul 2014 21:00:39

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: