Home / Tokoh / Suroso; Menerangi Wilayah Terpencil dengan Mikrohidro

Suroso; Menerangi Wilayah Terpencil dengan Mikrohidro

SEKITAR tahun 1992, Dusun Seloliman, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, yang merupakan salah satu wilayah terpencil, belum teraliri listrik Perusahaan Listrik Negara. Kondisi itulah yang mengetuk hati dan pemikiran Suroso (45) bahwa di Seloliman harus ada listrik alternatif untuk menerangi dusun, yakni pembangkit listrik tenaga mikrohidro.

Saat Seloliman belum dialiri listrik, dusun lain seperti Balai Kambang dan Biting sudah dialiri listrik dari PLN. Masyarakat Seloliman pun kemudian bertanya-tanya, mengapa dusun lain sudah dialiri listrik, sedangkan Seloliman belum? Masyarakat menilai ada diskriminasi.

Suroso yang saat itu mulai bergerak di bidang Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup pada tahun 2000 mulai berpikir bagaimana caranya supaya desanya teraliri listrik. Suroso pun mengumpulkan masyarakat sekitar dan mengadakan pertemuan karena ada kemauan bersama.

Dalam pertemuan itu akhirnya disepakati untuk bersama-sama membangun listrik mandiri yang mampu menerangi desa mereka. Namun, Suroso dan masyarakat tidak memiliki kompetensi atau keahlian untuk membangun listrik sendiri.

Suroso kemudian berkonsultasi dengan pihak-pihak luar, misalnya Yayasan Mandiri yang bergerak dalam bidang mikrohidro. Yayasan Mandiri saat itu bekerja sama dengan sebuah lembaga swadaya masyarakat asal Jerman yang juga peduli dalam bidang mikrohidro.

Setelah ada pihak luar yang bersedia membantu, masyarakat Seloliman pun mulai merencanakan untuk membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH). Dalam pelaksanaannya, Yayasan Mandiri sebagai asisten teknis, masyarakat sebagai pelaku utama dalam pembangunan.
Kesulitan

Meskipun semua sudah direncanakan dan disepakati, perealisasian PLTMH bukannya tanpa halangan. Suroso dan warga Seloliman lainnya kesulitan menentukan tempat pembangunan PLTMH karena masyarakat saat itu masih belum mengerti bagaimana mikrohidro dapat berfungsi menerangi Dusun Seloliman.

Selain itu, masyarakat pun sempat apatis dengan PLTMH. Sebab, beberapa tahun sebelumnya ada program serupa yang dinamakan program kincir air yang gagal. ”Masyarakat berpikir ini hanya main-main dan tidak bisa berkelanjutan,” ujar Suroso.

Namun, Suroso terus mendekati masyarakat Seloliman untuk meyakinkan mereka bahwa PLTMH memang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Setelah lebih kurang satu tahun Suroso meyakinkan masyarakat, tepatnya pada 1993, pembangunan PLTMH pun dimulai. ”Memang perlu waktu lama untuk bisa meyakinkan masyarakat di sini. Sebab, pendidikan mereka relatif rendah,” katanya.

Saat pengerjaan, masyarakat berkontribusi dalam pengumpulan batu, pasir, dan tenaga. Selain itu, ada juga yang berkontribusi dalam penyediaan lahan. Mereka merelakan tanah milik mereka untuk dibangun PLTMH karena fungsinya yang vital untuk penerangan masjid dan rumah.

Awalnya kapasitas PLTMH hanya sekitar 12 kilowatt untuk menerangi sekitar 30 rumah di Dusun Janjing dengan sistem yang belum begitu maju. ”Terkadang listriknya drop. Selama enam tahun kondisi PLTMH seperti itu,” kata Suroso.

Melihat kondisi seperti itu, Suroso mengumpulkan masyarakat untuk melakukan evaluasi. Sebab, kapasitas PLTMH 12 kilowatt dinilai kurang efektif. Pertimbangannya saat itu, jika kapasitas PLTMH masih 12 kilowatt, tidak akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Apalagi, jumlah warga akan terus bertambah.

Akhirnya, Suroso berusaha mencari bantuan untuk meningkatkan kapasitas PLTMH dari 12 kilowatt menjadi 30 kilowatt sampai sekarang. Saat itu ada pihak luar dari Global Environmental Facilities Small Grand Project (GEFSGP), proyek di bawah Program Pembangunan PBB yang peduli pada bidang konservasi energi.

Waktu itu, di samping meningkatkan kapasitasnya, ditekankan pula soal peningkatan kapasitas masyarakat. Sebab, sebelumnya masyarakat hanya menjadi pengguna pasif. Jika PLTMH rusak, masyarakat tidak bisa memperbaiki. Suroso berpikir, jika saat itu pengelolaan masih tidak memadai, maka tidak ada unsur pengembangan masyarakat.
Industri dan paguyuban

Agar ada unsur pemberdayaan masyarakat, Suroso mengusulkan agar masyarakat memanfaatkan listrik dari PLTMH untuk industri rumahan, antara lain dengan membuat kertas daur ulang menjadi kartu ucapan selamat yang dikerjakan kelompok ibu-ibu. Saat ini, produk-produk industri rumahan tersebut sudah dijual ke luar dan tamu-tamu asing.

Selain itu, mereka juga membentuk pengelola PLTMH yang dinamakan Paguyuban Kalimaron. Dalam paguyuban dibentuk struktur; ada badan pengurus untuk mengontrol PLTMH, memberikan arahan, dan membangun urusan yang strategis, misalnya dengan pemerintah.

Untuk tugas harian, ada tiga orang yang bertugas. Mereka adalah ketua, operator, dan bendahara keuangan. Mereka inilah yang sehari-hari mengontrol PLTMH dan menghimpun iuran anggota.

Masyarakat yang menggunakan PLTMH menjadi anggota paguyuban. Mereka kini sudah bisa menikmati listrik yang layak, bahkan mulai tumbuh industri kecil di desa itu.

Untuk biaya perawatan, paguyuban mengumpulkan iuran anggota dengan tarif yang berbeda, sesuai dengan kebutuhan listrik di rumah dengan KWH meter. ”Meskipun hanya paguyuban, pengelolaannya dengan kaidah yang profesional,” ujar Suroso.

Paguyuban membayar tiga petugas sebesar Rp 1.500.000 setiap bulan. Saat ini, 100 keluarga sudah dapat menikmati listrik dari PLTMH itu.

Suroso menambahkan, kapasitas PLTMH yang ada saat ini ternyata belum terserap seluruhnya oleh masyarakat. Maka, muncul gagasan supaya kelebihan listrik dijual ke PLN sekitar 20 persen.

Ke depan, Suroso akan mencoba mengoptimalkan sumber daya alam di Seloliman. Menurut dia, Seloliman cukup potensial untuk pengembangan PLTMH. Jika berhasil, diharapkan pertumbuhan ekonomi masyarakat terus meningkat.

Saat ini, hasil dari penjualan listrik PLTMH sudah dinikmati masyarakat, antara lain berupa pembangunan jembatan yang menghubungkan Janjing dengan Seloliman. ”Fasilitas publik pun bisa dibangun,” ucap Suroso.

Operator Pembangkit  Listrik Tenaga Mikro Hidro—————————————————————————
Suroso
? Lahir: Mojokerto, 28 Agustus 1968
? Pekerjaan: Ketua Yayasan Lingkungan Hidup Seloliman
? Istri: Saniati (45)
? Anak: Erika Riski Alifatul Muafida (10), Fika Mahya Mafaza (7)
? Pendidikan:
– SDN Seloliman
– SMPN Trawas
– SMA Madrasah Aliyah Mojokerto
? Karier:
–  Staf Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman, Trawas, Mojokerto, Jawa Timur (1991-1994)
–  Direktur PPLH Seloliman, Trawas, Mojokerto, Jawa Timur (2000-2006)
–  Mendirikan Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (2007-2010)

Oleh: EMANUEL EDI SAPUTRA

Sumber: Kompas, 2 Januari 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Sudirman; Membebaskan Dusun dari Kegelapan

Pada Maret 2003, Sudirman (41) sudah siap membangun rumah permanen. Sebanyak 50 zak semen sudah ...

%d blogger menyukai ini: