Home / Tokoh / Sunyadi dan Exwan Prasetyo; Budidaya Melon di Tanah Bergambut

Sunyadi dan Exwan Prasetyo; Budidaya Melon di Tanah Bergambut

Jenis tanah di Kalimantan Tengah yang bergambut membuat tanaman buah dan sayur tak mudah tumbuh. Sekitar 400 keluarga yang ikut program transmigrasi dari Pulau Jawa tahun 1980 banyak yang menyerah dan memutuskan pulang. Namun, tidak dengan Sunyadi (49) dan keluarga. Meski berulang kali gagal dan merugi, dia berhasil membudidayakan melon di lahan bergambut. Bahkan, putranya, Exwan (23), menanam melon dengan keramba terapung di rawa.
Tahun 1980 Sunyadi menyertai ayahnya, Girin, bertransmigrasi ke Kalimantan. Mereka mengolah lahan seluas 2 hektar dari pemerintah. Awalnya Girin jatuh-bangun menanam kol di tanah bergambut. Hanya sekitar 200 keluarga yang bertahan hingga kini.

Pada tiga tahun pertama, Sunyadi membantu ayahnya menanam kol, kangkung, kacang, dan jagung. Namun, hasilnya tak bagus. Tahun 1988 dia menjadi pekerja bangunan di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah.

”Tanah gambut membuat akar tanaman tak berani menembus karena terlalu lembab. Akibatnya akar pun lekas membusuk. PH (derajat keasaman) tanah harus 7, sedangkan kondisi tanah bergambut umumnya memiliki pH 3,” kata Sunyadi.

Oleh karena jauh dari keluarga dan jenuh bekerja pada proyek bangunan, Sunyadi kembali ke Palangkaraya. Ia kembali bertani. ”Waktu itu ada bantuan material kapur 2 ton per keluarga. Kapur itu kami manfaatkan untuk menetralkan kelembaban tanah meski umumnya tetangga menggunakannya untuk menimbun jalan,” cerita dia.

Alhasil tanah garapan Sunyadi jauh lebih subur dan bisa ditanami antara lain nanas, labu, kalakai, bayam, cabai, dan jagung. Melihat belum ada petani yang menanam melon, dia pun membudidayakan tanaman melon pada 2004-2005.

”Waktu itu sampai sembilan kali saya menanam sekitar 500 bibit melon. Ada yang berhasil dan ada yang gagal. Tetapi, buahnya jelek, kecil, dan tak berasa,” kata Sunyadi yang jera menanam melon. Apalagi akhir 2005 lahannya terendam banjir setinggi 60 sentimeter dan merusak semua tanamannya.

Akibatnya dia merugi sampai sekitar Rp 50 juta. Mencoba bangkit, Sunyadi lalu menanam jagung manis. Di sisi lain, dia melihat ketersediaan melon di Kalteng mengandalkan pasokan dari Pulau Jawa juga lebih bernilai ekonomi.

Jadilah dia kembali menanam melon. ”Dulu harga melon masih Rp 7.000 per kg, kini Rp 17.000-Rp 20.000,” ucap ayah dari Exwan Prasetyo dan Ani Melani R (8) ini.

Sunyadi pun kembali mencampur kapur di lahannya. ”Tanah kami cangkul dulu, baru ditaburi kapur dan ditutup plastik mulsa yang berfungsi mengatur suhu.”

Proses itu memerlukan biaya relatif besar. Ia mencontohkan, untuk 1 hektar lahan dibutuhkan 10 rol atau 5.000 meter plastik mulsa dengan harga sekitar Rp 700.000 per rol. Kini, secara teratur dia menanam 1.000 tanaman melon. Hasilnya buah yang terasa manis dengan bobot 2-3 kg. Sekali panen, dia memperoleh sekitar Rp 80 juta.
Mitra penelitian

Meski kerap gagal membudidayakan melon, Sunyadi tak patah asa. Dia justru makin mencermati pertumbuhan melon. ”Tanaman itu mudah terserang jamur dan peka terhadap suhu. Ilmu titen (mengamati dan mencermati) itu penting.”

Berdasarkan pengalaman, kata dia, untuk 1 hektar lahan rata-rata diperlukan pupuk kandang 20 ton dan NPK 200 kg. ”Agar tanaman berbuah maksimal, kita harus ’membaca’ alam dan memahami pH tanah. Kala cuaca lembab kemungkinan tanaman terserang jamur, maka pupuk kandang dikurangi,” ujar Sunyadi yang juga menjadi mitra penelitian Universitas Palangkaraya.

Dia menjadi mitra penelitian Panji Surawijaya, pengajar di Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya. Dari perkenalan dia dengan Panji tahun 1995, lahannya menjadi tempat penelitian untuk menjaga longsor tanah bergambut, tata air, dan cara tanam di lahan gambut.

Keberhasilan dan kerja keras Sunyadi juga memotivasi Exwan, putra sulungnya yang kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya. Exwan dan teman-teman mengembangkan teknologi pertanian melon apung, sesuai kondisi geografis Kalimantan yang banyak dialiri sungai besar dan rawa-rawa.

Exwan bersama kawan-kawan, seperti Teguh Alifianto, Raudah Afiat, Imam Nugroho, dan Yessika S, tahun 2012 mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa yang didanai pemerintah. Mereka dibimbing Hastin Ernawati Nur CC, pengajar di Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangkaraya.

Tanaman yang mereka budidayakan dengan sistem terapung adalah timun, labu kuning, dan gambas. Namun, daya tahan keramba apung hanya dua tahun. Alhasil mereka memilih komoditas bernilai ekonomis seperti melon, cabai merah, dan kedelai.

Exwan juga menjadikan penelitian melon terapung sebagai bahan untuk tugas akhirnya. Selain dia, penelitian juga dilakukan kawannya, Teguh Alifianto dan Kristony. ”Saya menanam melon karena termotivasi Bapak dan melihat sendiri bagaimana perjuangan Bapak membudidayakan melon,” kata dia.
Tepi Sungai Kahayan

Exwan, Teguh, dan Kristony memanfaatkan rawa berair di tepi Sungai Kahayan, di Jalan Arut Bawah, Kelurahan Palangka, Jekan Raya, Palangkaraya. Dia membuat media tanam terapung dari kayu dan eceng gondok yang didekomposisi.

Ukuran keramba tanaman apung 16 meter x 6 meter, diisi tanaman purun dan eceng gondok dengan posisi terbalik dari sekitar rawa. Kedalaman keramba sekitar 50 cm dan tanpa tanah.

Pada 21 Mei lalu, sebanyak 400 tanaman melon di keramba apung dipanen. Bobot buahnya 2-3,5 kg. Eceng gondok yang dianggap sebagai pengganggu ekosistem justru dimanfaatkan sebagai media tanam. Tanaman melon pun tak perlu disiram.

Sunyadi dan Exwan Prasetyo”Kelebihan lainnya, penghematan pupuk hingga 50 persen. Tanaman melon di tanah perlu NPK 200 kg per hektar, di media apung hanya 150 kg per hektar. Pupuk kandang yang biasanya 20 ton per hektar, di media apung hanya perlu 10 ton,” ucap Exwan yang akan menempuh ujian skripsi.

Sunyadi tak hanya membagi ilmunya kepada Exwan. Dia juga terbuka kepada para peneliti dan sesama rekan petani. ”Pintu rumah kami terbuka bagi siapa saja yang ingin bersama-sama belajar membudidayakan tanaman, termasuk melon.”

Di depan rumahnya, Jalan Mahir Mahar Kilometer 20, Kalampangan, Palangkaraya, dia membuka kios untuk menjual melon dari budidaya di lahan gambut. Sepanjang jalan antara Km 17 dan Km 20 menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu terdapat banyak kios penjual sayur dan buah.

Namun, hanya kios Sunyadi yang menjual melon. Kios lainnya menjual jagung. ”Melon dapat dipanen setelah 65 hari. Saat panen, pembeli bisa memetik melon di lahan kami,” ucap Sunyadi sambil menunjukkan melon yang berdaging tebal dan manis rasanya.
—————————————————————————
Sunyadi
? Lahir: Banyuwangi, Jawa Timur, 15 Desember 1964
? Istri: Tukini (49)
? Pendidikan: Tak tamat SD

Exwan Prasetyo
? Lahir: Palangkaraya,  22 April 1991
? Pendidikan:
– SD Negeri 5 Kalampangan, Palangkaraya, 1999-2004
– SMP Negeri 4 Kalampangan, 2004-2006
– SMAN 2 Jekan Raya, Palangkaraya, 2006-2009
– Program Studi Agroteknologi, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangkaraya, 2009-kini

Oleh: Megandika Wicaksono

SUmber: Kompas, 13 Juni 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Sudirman; Membebaskan Dusun dari Kegelapan

Pada Maret 2003, Sudirman (41) sudah siap membangun rumah permanen. Sebanyak 50 zak semen sudah ...

%d blogger menyukai ini: