UGM budi daya melon di gumuk pasir

- Editor

Senin, 22 Juli 2013

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta melakukan budi daya melon kultivar Melodi Gama 3 di kawasan gumuk pasir Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

“Penanaman melon Melodi Gama 3 (MG3) akan terus dilakukan, baik pada musim kemarau maupun musim hujan untuk memperoleh informasi yang lengkap dalam pengembangan strategi budi daya melon di sekitar gumuk pasir,” kata ketua tim peneliti Gama Melon, Budi Setiadi Daryono di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, melalui riset yang didanai Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) tersebut diharapkan budi daya melon di areal gumuk pasir di Kebumen mampu membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

“Penanaman melon kultivar MG3 dilakukan agar budi daya melon di sekitar gumuk pasir lebih efektif dan ramah lingkungan. Gumuk pasir merupakan gundukan pasir yang terbentuk secara alami oleh angin laut di pinggir pantai, yang dapat berfungsi sebagai pelindung areal sekitar pantai dari angin laut,” katanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia mengatakan, melon kultivar MG3 merupakan salah satu kultivar hasil perakitan Fakultas Biologi UGM yang unggul dengan ciri yang khas, antara lain dagingnya berwarna oranye, aroma buahnya harum, rasanya manis, dan tahan terhadap serangan penyakit jamur tepung (powdery mildew).

“Keunggulan tersebut membuat petani tidak perlu terlalu banyak menggunakan fungisida sehingga budi daya melon di daerah tersebut menjadi ramah lingkungan,” katanya.

Selain melakukan budi daya melon kultivar MG3 di sekitar gumuk pasir, Fakultas Biologi UGM juga memberikan bantuan ribuan benih melon kepada petani agar ditanam pada masa tanam berikutnya.

Editor: Aditia Maruli
Pewarta: Bambang Sutopo Hadi

Sumber: Antaranews.com, Senin, 22 Juli 2013 23:53 WIB

———–
DSCF1731Panen Gama Melon di Lahan Pantai Kering

LAHAN kering di pantai seperti Gunungkidul ternyata cocok untuk tanaman melon dan Fakultas Biologi UGM memanfaatkan lahan di sepanjang pesisir pantai di Gunungkidul dengan mengembangkan penanaman Gama Melon saat musim kemarau.

Tanaman melon dikembangkan untuk menambah pendapatan petani diluar panen tanaman singkong yang selama ini jadi pilihan petani saat kemarau. “Pemanfaatan lahan kering dan pantai ini bagian dari langkah upaya memberdayakan ratusan hektare lahan kering di Gunungkidul, lahan dibiarkan karena air yang minim,” kata Dr Budi Setiadi Daryono, peneliti Gama Melon di sela-sela panen bersama petani di Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul, Senin (30/9).

Selama ini, menurut Budi, lahan pantai belum dianggap sebagai potensi di daerah. Warga dalam mengelola lahan tidak memperhatikan prinsip pertanian berkelanjutan. Bahkan di sejumlah kawasan Gunungkidul untuk mendapatkan hasil, warga memilih menjual pasir dan batu. “Harapan akhirnya tentu ada peningkatan taraf hidup masyarakat,” kata dosen Fakultas Biologi UGM ini.

Ada empat varietas yang dikembangkan, yaitu kultivar Melodi Gama 1 dan Melodi Gama 3, Gama Melon Basket dan Gama Gambas. Jutaan bibit sebelumnya telah dibagikan kepada petani di Kemadang, Tanjungsari. Sesuai dengan hitungan produksi, dari 1.000 meter persegi bisa ditanami 2.000 bibit dengan jarak tanam 50 cm. Hasil panen bisa mencapai 3 ton per 1.000 meteri persegi. “Jenis Gama Melon Basket dan Melodi Gama cocok untuk area lahan kering di Gunungkidul ini,” katanya.

Beberapa keunggulan Gama Melon, masa panen lebih cepat yaitu berkisar 56-60 hari, sementara untuk jenis melon lain bisa 65-70 hari baru panen. Hasil uji di laboratorium, Melodi Gama 1 dan Melodi Gama 3 juga Gama Melon basket punya kandungan vitamin A dan C lebih tinggi.

Suwarno, Ketua Kelompok TaniHandayani, Kemadang Tanjungsari Gunungkidul telah mencoba menanam melon yang bibitnya diperoleh dari UGM. Saat ini baru ada 5 petani yang mencoba dari 60-an petani yang ada di dekat pantai Porok, Kemadang. Saat pertama kali tanam, Suwarno menebar 2.500 bibit, hasilnya minimal 1,5-2 kg melon perpohon. Panen bisa mencapai 3 ton melon. Dengan modal Rp 6,6 juta dan menjual melonnya tak bersamaan, dengan harga Rp 5.000 perbuah, total bisa dapat Rp 15 juta setelah 2,5 bulan menanam. “Setelah saya panen dan dapat untung, baru petani yang lain ingin mencoba menanam,” kata Suwarno.

Supriyadi, Kepala Dinas T anaman Pangan dan Holtikultura Gunungkidul, menyatakan gembira dengan adanya kerja sama penanaman melon bersama petani Kemadang. Untuk mendukung program penanaman melon ini, pemerintah daerah telah memberikan bantuan sarana dan prasarana pertanian untuk kelompok tani Handayani seperti pompa dan traktor senilai Rp 40 juta. “Arahnya memang untuk optimasi lahan, ada ratusan hektare yang bisa dimanfaatkan, tapi kosong selama Agustus hingga November. Gama melon tak butuh banyak air, justru sensitif air hujan,” kata Supriyadi. (M Adhisupo-Tomi Sujatmiko|)

Sumber: Kedaulatan Rakyat, Rabu, 1 Januari 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 57 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru