Home / Berita / Sogum, Solusi untuk Lahan Marjinal

Sogum, Solusi untuk Lahan Marjinal

Lahan kering dan marjinal di Indonesia seluas 37.123 kilometer persegi yang selama hanya ditumbuhi alang-alang, bisa ditanami sorgum. Hasilnya, untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi alternatif

Sorgum (Sorghum bicolor) telah lama dibudidayakan dan dikonsumsi oleh sebagian masyarakat Indonesia, walaupun belakangan semakin langka karena tergusur oleh dominasi beras dan gandum. Kini sorgum kembali dipromosikan. Tak hanya didorong menjadi sumber pangan, sorgum diproyeksikan sebagai sumber energi masa depan.

Tanaman sorgum pertama kali didomestifikasi oleh masyarakat di sekitar Sungai Niger, Afrika Timur. Tanaman yang aslinya tumbuh di padang sabana ini kemudian menyebar luas bersama dengan migrasi manusia di masa lalu. Dari Afrika, tanaman ini dibawa ke Timur Tengah, Eropa, dan India sebelum kemudian menyebar nyaris ke seluruh penjuru dunia.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Tanaman sorgum hasil uji daya hasil lanjutan galur-galur mutan sorgum pangan di Kebun Percobaan Pertanian Citayam, Kecamatan Cipayung, Bogor, Rabu (18/1/2017).

Kemampuan adaptasinya yang baik terhadap berbagai kondisi iklim dan tanah membuat sorgum menjadi tanaman pangan yang paling banyak dibudidayakan. Berdasarkan data FAO tahun 2016, tanaman ini telah dibudidayakan di 110 negara di dunia. Sepuluh produsen utama sorgum adalah Amerika Serikat, Meksiko, Nigeria, India, Sudan, Etiopia, Argentina, Sudan, China, dan Australia.

Di Jawa, tanaman ini dikenal sebagai cantel, dan sejumlah tafsir menyebut bahwa tanaman ini tertera di relief Candi Borobudur yang dibangun di abad ke-9. Sorgum kemungkinan masuk ke Indonesia sejak abad ke-4.

Sekalipun tanaman ini bukan asli Indonesia, namun setelah ratusan tahun beradaptasi dengan iklim di Indonesia, muncul banyak sorgum jenis lokal.

“Di NTT (Nusa Tenggara Timur) saja ada sekitar 40 jenis, di Kalimantan juga banyak jenisnya,” kata peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) I Made Sudiana, yang ditemui di Kebun Raya Bogor (KBR).

KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA–Usai prosesi adat menyambut panen perdana, para petani sorgum memanen sorgum di Dusun A, Desa Wuakerong, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, 9 Mei 2016.

Pada periode 1950-1970-an, sorgum masih banyak dibudidayakan di Demak, Wonogiri, Gunung Kidul, Selayar, Sumbawa, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur. Namun, setelah tahun 1970-an, areal tanam sorgun merosot, terutama karena Orde Baru yang memprioritaskan pengembangan padi sebagai tanaman pangan utama.

Data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan tahun 1990 menunjukkan luas tanam sorgum di Indonesia di atas 18.000 hektar. Pada 2011, luas tanam sorgum menurun menjadi 7.695 hektar (Direktorat Budi Daya Serealia 2013).

Padahal, sebagai sumber pangan, sorgum sebenarnya memiliki kandungan nutrisi yang baik, bahkan proteinnya lebih tinggi dibandingkan beras.

Secara global sorgum juga menjadi sumber pangan penting kelima setelah gandum, padi, jagung, dan barley. Sebagai produsen utama, kontribusi Indonesia terhadap produksi sorgum sangat rendah, sekalipun tanaman ini sangat cocok dengan iklim tropis.

Kajian Suarni dan Firmansyah dari Balai Penelitian Tanaman serealia (2016) menyebutkan, komposisi kimia dan nutrisi biji sorgum tidak kalah dengan biji-bijian lain seperti jagung, beras, dan terigu. Bahkan, dalam beberapa segi, bisa lebih baik, misalnya tidak mengandung gluten.

Disebutkan, Herman Subagio dan M Aqil, juga dari Balai Penelitian Tanaman Seralia (2013), sorgum memiliki kadar protein 11 persen, lebih tinggi dibandingkan beras yang hanya mencapai 6,8 persen. Kandungan nutrisi mikro lain yang dimiliki sorgum adalah kalium, besi, fosfor, serta vitamin B.

Suarni dan Firmansyah menyimpulkan, sogum potensial sebagai bahan diversifikasi pangan, baik makanan pokok maupun kudapan. Bahkan, sejumlah varietas sorgum lokal nonpulut beramilosa sedang seperti span, kawali, dan numbu dalam bentuk tepung bisa menggantikan terigu gandum.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Nasi Goreng Sorgum

Tahan kering
Selain bergizi dan produktivitasnya tinggi, sorgum juga memiliki daya adaptasi yang luas.

Sorgum bisa tumbuh di dataran tinggi hingga rendah. Sorgumjuga bisa tumbuh baik di daerah beriklim basah hingga tropis kering (semi arid) yang minim unsur hara. Selain itu, sorgun juga relatif tahan hama.

Secara fisiologis, permukaan daun sorgum mengandung lapisan lilin dan sistem perakaran ekstensif dan dalam sehingga toleran kekeringan. Keunggulan fisiologis inilah yang membuat para peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI meyakini, sorgum bisa menjadi solusi bagi lahan marjinal.

Menurut data National Renewable Energy Laboratory (NREL), luas lahan kering dan marjinal di Indonesia mencapai 37.123 kilometer persegi atau sekitar 2 persen total area di negeri ini. Di sisi lain, kita saat ini menghadapi persoalan pangan dan juga energi menyusul menipisnya cadangan gas dan minyak bumi.

Padahal, menurut Direktur Kebun Raya Bogor Didik Widyatmoko, lahan marjinal yang ditumbuhi alang-alang (Imperata cylindrica) selama ini sangat sulit dikonversi menjadi lahan budidaya pertanian ataupun dihutankan kembali. Tanaman sorgum, yang termasuk jenis rerumputan ukuran besar dan bisa tumbuh cepat di lahan kering dengan unsur hara minim, bisa menggantikan alang-alang ini.

Bekerja sama dengan Universitas Kyoto, Jepang dalam skema Satreps (Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development), para peneliti Pusat Biologi LIPI kini mengembangkan sorgum untuk meningkatkan produktivitas lahan marjinal ini.

“Penelitian yang dilakukan terintegrasi, antara mencari dan merekayasa jenis sorgum yang cocok dikembangkan, hingga teknologi pemanfaatannya,” kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati.

Biomassa
Made mengatakan, tanaman sorgum pada dasarnya memiliki tiga jenis, yaitu sorgum yang bijinya untuk pangan, sorgum manis yang batangnya menyimpan kadar gula tinggi, dan sorgum yang tinggi kadar ligninnya dan cepat pertumbuhanya sehingga cocok untuk biomassa.

Bioamassa merupakan bahan bakar dari tumbuhan, baik yang masih hidup atau sudah mati. Sumber energinya dihasilkan oleh tumbuhan hijau dari proses fotosintesa, yang kemudian disimpan dalam dalam bentuk energi kimia berupa ikatan antara karbon, hidrogen, dan oksigen (CxOyHz).

Proses pembakaran akan memecah ikatan ini dan menghasilkan energi panas. Untuk menjadi biomassa yang efektif, bahan organik ini biasanya dipadatkan dalam bentuk pellet atau sejenis briket.

Saat ini sejumlah negara, seperti Jepang telah menggunakan pellet dari biomassa ini sebagai alternatif energi bersih. Data dari Global Wood Market Info, pada tahun 2016 Jepang telah mengimpor pellet dari kayu hingga 232.000 ton atau naik 140 persen dibandingkan tahun 2014 yang hanya 97.000 ton.

Menurut Made, tingkat kalori biomassa akan semakin tinggi jika bahan baku tanaman yang dipakai memiliki kadar lignin atau salah satu zat kayunya tinggi.

“Setelah 2,5 tahun penelitian bersama Jepang, kami bisa merekayasa sorgum yang memiliki kadar lignin 30 persen dari rata-rata sorgum umumnya yang hanya 20 persen,” kata dia.

Temuan jenis srogum ini didapatkan melalui rekayasa genetika dengan teknik persilangan molekuler. “Temuan ini akan mulai kami ujicobakan di Malaka (Nusa Tenggara Timur) tahun ini,” kata Made.

KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA–Pemulia tanaman Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional, Soeranto Human, memeriksa pertumbuhan sorgum dari kultur jaringan di Laboratorium Kultur Jaringan PAIR Batan, Rabu (15/6/2016), di Pasar Jumat, Jakarta. Sorgum dalam tabung-tabung itu sudah diradiasi dengan sinar gama menggunakan beragam dosis penyinaran.

Setelah temuan ini, saat ini tim peneliti juga tengah merekayasa sorgum manis, namun dengan lignin tinggi. “Kami akan terus menyilangkan untuk mencari jenis baru yang paling menguntungkan. Saat ini sudah didata sekitar 100 jenis sorgum lokal,” kata dia.

Didik Widyatmoko mengatakan, sorgum sangat menjanjikan untuk menjawab tantangan sumber pangan dan sumber energi di lahan marjinal. Namun, pengembangan sorgum tetap dikombinasikan dengan aneka tanaman lokal.

“Pada prinsipnya kita tidak ingin mendorong pertanian yang monokultur karena tidak ramah lingkungan. Kami akan kombinasikan tanaman sorgum ini dengan aneka jenis tanaman lain sehingga selain masih optimal secara ekonomi, secara ekologi juga ramah,” kata dia.

Sumber: Kompas, 16 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: