Home / Berita / Perguruan Tinggi Mengembangkan Kuliah Daring Terbuka

Perguruan Tinggi Mengembangkan Kuliah Daring Terbuka

Kuliah daring terbuka atau Massive Open Online Courses (MOOC) di perguruan tinggi memberikan kesempatan masyarakat untuk mengikuti kuliah dengan biaya murah, bahkan gratis, tanpa harus terdaftar sebagai mahasiswa.

Perkembangan teknologi dan kebijakan Kampus Merdeka mendorong sejumlah perguruan tinggi mengembangkan kuliah daring terbuka atau Massive Open Online Courses. Kuliah daring terbuka ini juga memberi kesempatan masyarakat untuk belajar di perguruan tinggi dengan biaya murah, bahkan gratis.

Kebijakan Merdeka Belajar: Kampus Merdeka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberi hak mahasiswa mengambil mata kuliah di luar kampusnya sebanyak dua semester atau setara 40 Satuan Kredit Semester (SKS). Mahasiswa juga bisa mengambil mata kuliah di program jurusan lain di kampusnya sebanyak satu semester.

Situs kuliah daring atau MOOC akan memberi banyak pilihan kepada mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di perguruan tinggi lain. Namun masih perlu kerja sama antar perguruan tinggi untuk transfer kredit semester mata kuliah yang diambil mahasiswa di perguruan tinggi lain.

Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang mengembangkan platform pembelajaran daring eLOK sejak 2017, telah memiliki 144 mata kuliah pengayaan untuk mahasiswa di UGM maupun di luar UGM. Materi MOOC baru sekitar 20 yang diintegrasikan dengan Spada Indonesia, sistem manajemen pembelajaran di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemendikbud.

“Kebijakan Merdeka Belajar mendorong proses yang sudah ada untuk diakselerasi dengan perbaikan sistem administrasi agar masyarakat umum juga bisa mengambil (mengikuti kuliah daring),” kata Kepala Pusat Inovasi dan Kajian Akademik (PIKA) UGM Yogyakarta Hatma Suryatmojo ketika dihubungi Kompas dari Jakarta, Selasa (1/9/2020).

Program PIKA UGM saat ini, kata Hatma, menambah jumlah kuliah daring yang diintegrasikan dengan Spada Indonesia dan mendorong persiapan untuk mengembangkan MOOC. Para dosen pun didorong mengembangkan mata kuliah untuk MOOC. “Kami sudah minta ke fakultas-fakultas, mata kuliah apa saja yang bisa ditawarkan untuk mahasiswa di luar UGM dan untuk masyarakat,” kata dia.

Mulai Semester I Tahun Ajaran 2020/2021 masyarakat umum bisa mengikuti kuliah daring di UGM, tanpa perlu terdaftar sebagai mahasiswa UGM. Kuliah ini gratis, pemungutan biaya hanya jika masyarakat ingin mendapatkan sertifikat.

Institut Teknologi Bandung (ITB) juga akan meluncurkan MOOC mulai semester I ini, sekitar pertengahan September. ITB menargetkan ada 100 mata kuliah yang bisa disediakan untuk MOOC. “Platform sedang dimatangkan untuk dibuka secara nasional mulai semester I ini,” kata Direktur Pengembangan Pendidikan ITB Yusep Rosmansyah.

Tantangan
Tantangan utama dalam mengembangkan MOOC, kata Hatma, adalah menyiapkan dosen menyampaikan materi secara daring. Ada perbedaan pola dalam hal penyampaian materi untuk MOOC dan kuliah konvensional secara tatap muka. Perbedaan bukan hanya konten yang harus disampaikan tetapi juga modul berikut perlengkapannya seperti video dan instrumen asesmen.

“Transformasi konten menjadi konten menjadi konten yang siap dikonsumsi masyarakat luas butuh usaha. MOOC karena terbuka, konten tidak boleh berat ke ilmu. Misalnya satu mata kuliah 3 SKS, untuk menjadi MOOC harus dipecah menjadi 3-4 konten,” kata Hatma.

Pegiat Mooc yang juga dosen Universitas Terbuka Dian Budiargo mengatakan, perlu sebuah tim yang beranggotakan orang yang menguasai teknologi informatika untuk memvisualkan materi kuliah untuk MOOC. Dosen menguasai materi, tetapi belum tentu menguasai teknis videografi ataupun desain grafis.

“Perlu waktu dan perlu kerja tim untuk mengerjakan materi MOOC. Mulai dari mendiskusikan materi yang akan ditampilkan, pengambilan video, hingga pembuatan skrip. Semua proses ini perlu ahli media, tetapi yang tampil (di video) tetap harus dosen,” kata Dian yang memberikan kuliah daring Public Speaking.

Tantangan lain dalam pengembangan MOOC, menurut Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat UT Trini Prastati, menarik minat masyarakat untuk mengikuti MOOC. Meski berbiaya sangat rendah, tidak sampai Rp 200.000 untuk mendapatkan sertifikat, belum banyak masyarakat yang berminat.

Universitas terbuka mengembangkan MOOC sejak 2014. Selain untuk melayani kepentingan mahasiswa UT, juga ada lebih dari 30 MOOC yang ditawarkan untuk masyarakat umum. “Perkembangan cukup baik. Setiap tahun meskipun tidak banyak peminatnya selalu ada. Dari sisi jumlah memang ada yang meningkat, meskipun beberapa masih rata-rata sama,” kata Trini.

Dia mengatakan, MOOC yang diminati masyarakat adalah MOOC untuk peningkatan keterampilan yang bisa langsung digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dia menyebutkan tiga MOOC yang paling diminati masyarakat pada 2019-2020, yaitu Pemberdayaan Masyarakat Desa (111 peserta), Public Speaking (54), dan Manajemen Pemasaran (46).

Oleh YOVITA ARIKA

Editor: ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 2 September 2020

Share
%d blogger menyukai ini: