Penggunaan Peta Permudah Pemantauan

- Editor

Selasa, 19 April 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penggunaan peta digital pemantauan hutan dinilai memudahkan memantau kondisi hutan di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Kalimantan. Dengan peta itu, akses warga pada informasi titik panas, area konsesi, dan pihak yang bertanggung jawab atas hutan menjadi lebih terbuka.

Muhammad Teguh Surya, Juru Kampanye Politik Hutan Greenpeace, di Pontianak, Senin (18/4), menjelaskan, Greenpeace meluncurkan peta digital pemantauan hutan Maret lalu. Selama ini, warga dan pihak yang peduli soal hutan, khususnya kebakaran hutan dan lahan, sulit mendapat informasi kondisi hutan terkini.

“Kalau ada kebakaran lahan, respons pemangku kebijakan kerap lamban karena berdebat soal penanggung jawab pemadaman. Dengan peta pemantauan itu, informasi lebih detail, termasuk perusahaan yang beroperasi, bisa diketahui. Warga pun bisa mengawasi,” ucapnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada kebakaran hutan tahun lalu, banyak lokasi kebakaran tak dipadamkan karena keterlambatan informasi kebakaran atau informasi tak akurat. “Dengan peta digital, informasi lokasi dan status kepemilikan lahan mudah diketahui publik sehingga cepat direspons,” kata Teguh.

Selama ini, jika ada titik panas, biasanya memakai satelit NOAA- 18 dan MODIS. Dua satelit itu jadi acuan hanya untuk titik panas di suatu wilayah secara umum. Peta itu bisa jadi bukti jika ada masalah hukum. Dalam peta, disajikan kondisi hutan dalam tenggat tertentu.

Di peta digital juga ada berbagai informasi lain, yakni lokasi hutan tanaman industri, pemegang konsesi tambang dan sawit, serta konservasi harimau dan orang utan. Lahan-lahan bermasalah, misalnya izin tumpang tindih, bisa diakses lewat peta itu.

Untuk menjamin validitas informasi di peta, data di peta diambil dari berbagai sumber, termasuk dari instansi pemerintah, untuk menyamakan persepsi terkait hutan. Secara periodik, informasi di peta diperbarui.

Upaya menjaga hutan melalui pemetaan juga dilakukan Perkumpulan Pancur Kasih. Menurut Matheus Pilin, Direktur Perkumpulan Pancur Kasih, pihaknya mendampingi sejumlah desa membuat pemetaan partisipatif di kawasan yang hutannya terjaga sebagai dasar mempertahankan hutan. (ESA)
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 19 April 2016, di halaman 14 dengan judul “Penggunaan Peta Permudah Pemantauan”.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 22 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB