Pengelolaan Lingkungan; Belajar dari Kesalahan

- Editor

Senin, 24 Agustus 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sembalun di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pernah menjadi salah satu sentra produksi bawang putih di Indonesia. Kesalahan pengelolaan lahan dan tata niaga menghancurkan kejayaannya. Kini, para petani muda Sembalun mencoba merintis cara bertani yang ramah lingkungan, tanpa pupuk kimia dan pestisida.

Bawang putih (Allium sativum L) telah ditanam secara tradisional di Kecamatan Sembalun untuk memenuhi kebutuhan lokal. Mereka punya varietas lokal khas, yaitu bawang putih bersiung tunggal atau yang dikenal sebagai sangga.

Pertengahan 1970-an, ketika akses jalan membaik, produk bawang putih di Sembalun mulai dikenal. “Saat itu bawang putih masih ditanam secara tradisional, tanpa pupuk dan pestisida,” kata Marsoni (41), petani dan anggota staf Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bawang putih itu ditanam di lahan-lahan kosong sekitar rumah warga atau di sawah bergantian dengan padi. Lahan Sembalun yang ada di lereng gunung api aktif itu secara alami amat subur sehingga produksi bawang putih mencapai 7 ton-10 ton per hektar.

Permintaan bawang putih yang tinggi, terutama dari Jawa, mendorong petani menambah lahan produksi bawang putih. Hutan dan tanaman kopi yang banyak ditanam di lereng-lereng bukit lalu dikepras dan diubah jadi ladang bawang putih. Melalui program “Intensifikasi Pertanian”, pemerintah mengenalkan pupuk kimia dan pestisida demi menggenjot produksi. “Setelah memakai pupuk kimia, produksi melonjak, mencapai 15 ton per hektar,” kata Marsoni.

Meledaknya produksi bawang menghasilkan banyak orang kaya baru di Sembalun. “Sampai-sampai, orang Sembalun distop naik haji karena yang mengajukan terlalu banyak. Terbanyak di Lombok,” katanya.

Pada tahun 1987, Presiden Soeharto datang ke Sembalun untuk menghadiri panen raya bawang putih. Sembalun ditahbiskan sebagai simbol kesuksesan intensifikasi pertanian model Orde Baru.

Titik balik
Namun, kejayaan bawang putih di Sembalun itu berjalan singkat. Tanah subur perlahan jadi tandus karena pemakaian pupuk kimia berlebihan. Pemakaian pestisida berlebihan juga membuat aneka jenis penyakit tanaman jadi kebal. Apalagi, lapisan tanah vulkanik yang subur menghilang cepat karena disapu banjir yang kerap datang setelah hutan dibabat. Hasil panen jadi kurang dari 5 ton per hektar.

fd552c89e5d94e95b6395baf7521feabKOMPAS/AHMAD ARIF–Lahan pertanian di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, yang menghampar di kaki Gunung Rinjani ini pernah menjadi sentra bawang putih nasional, tetapi kemudian hancur karena penggunaan pupuk kimia dan pestisida berlebih. Kini sebagian petani mencoba memulihkan lahan dengan teknik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Sekitar tahun 1992, bawang putih Sembalun mulai anjlok. Hasil panen bawang kecil-kecil. Bahkan, banyak yang gagal total karena tanaman mati sebelum dipanen. “Sembalun yang dulu kirim banyak jemaah haji sekarang kirim TKI (tenaga kerja Indonesia) ke luar negeri,” kata Abdul Kudus (38), petani dari Sembalun Lawang.

Persoalan makin pelik dengan masuknya bawang putih impor dari Tiongkok, Taiwan, dan India. Apalagi, harga bawang putih impor itu lebih murah dibandingkan produksi lokal. “Pada tahun-tahun itu, semua sentra bawang putih di Indonesia terpukul, termasuk di Sembalun. Kasus serupa terjadi di Tegal dan Magelang,” kata Suryo Wiyono, ahli tanaman pada Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB).

Kehancuran sentra-sentra bawang putih di Indonesia itu terutama akibat buruknya tata niaga. Namun, intensifikasi pertanian, yang bertumpu pada pemakaian pupuk kimia berlebih dan pestisida, turut andil. “Penggunaan pupuk kimia berlebih membuat tanah jadi keras, tetapi yang paling merusak sebenarnya pestisida,” ujarnya.

Survei kondisi tanah di Sembalun yang dilakukan Hadi Nugroho dari IPB pada 2010 menemukan, kondisi tanah di daerah itu rusak. “Unsur hara tanah di Sembalun tipis. Lapisan atasnya kecoklatan, hanya setebal 5 sentimeter (cm), padahal daerah itu ada di sekitar gunung api. Saya mengebor kedalaman sekitar 60 cm sudah sampai batuan,” kata Hadi.

Untuk memulihkan lahan di Sembalun, petani harus menggunakan pupuk organik. Selain itu, penanaman tanaman keras di lereng-lereng gunung harus digalakkan untuk mencegah laju erosi. “Pupuk organik perlahan memperbaiki kondisi tanah di sana, dan membantu mempercepat pelapukan sehingga menambah lapisan hara,” ucapnya.

Rehil Jinan (28), petani Sembalun, menyatakan, para petani di Sembalun, terutama yang muda, menyadari kesalahan pendahulunya dalam mengelola lahan. “Kini banyak petani sadar pentingnya bertani yang ramah lingkungan,” tuturnya.

Sejak lima tahun terakhir, Rehil mencoba menanam aneka sayuran dan belakangan mencoba menanam stroberi. “Saya coba sama sekali tak pakai pupuk kimia dan pestisida. Hasilnya lumayan,” ujarnya.

Stroberi jadi primadona baru di Sembalun. Stroberi Sembalun dikenal dengan rasanya manis dan tak mudah busuk karena ditanam secara organik. “Semoga petani di sini tak tergoda untuk menggenjot produksi dan tetap memilih cara bertani ramah lingkungan,” katanya.–AHMAD ARIF
————————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 Agustus 2015, di halaman 14 dengan judul “Belajar dari Kesalahan”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Berita Terkait

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:56 WIB

Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Berita Terbaru

Jack Ma, founder and executive chairman of Alibaba Group, arrives at Trump Tower for meetings with President-elect Donald Trump on January 9, 2017 in New York. / AFP PHOTO / TIMOTHY A. CLARY

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB