Home / Artikel / Pandemi Covid-19 Pemicu Ekonomi Berkurung

Pandemi Covid-19 Pemicu Ekonomi Berkurung

Walaupun kita ingin segera kembali ke kehidupan ”normal” yang merdeka, tanpa batas antara manusia dan wilayah, kita harus sadar bahwa masa kebebasan itu mungkin tidak akan pernah kembali sepenuhnya.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Pekerja ojek daring Grab membeli barang pesanan pelanggan yang menggunakan layanan belanja daring di Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah, Senin (4/5/2020).

Momen historikal dalam sejarah peradaban manusia kita masuki. Covid-19 telah memicu cara hidup baru bagi individu, keluarga, dan masyarakat.

Gaya hidup dan budaya baru dalam bekerja, belajar, dan bermasyarakat di ruang siber terpaksa diadopsi. Kita harus terus di rumah dalam kurun waktu yang belum dapat dipastikan.

Hidup kita berubah begitu kasus positif Covid-19 ditemukan di Indonesia. Social distancing, work from home, lockdown, karantina wilayah, dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) jadi keseharian.

Virus korona telah mendisrupsi kehidupan kita. Dari masyarakat yang bebas merdeka menjadi masyarakat berkurung, yang harus beraktivitas dari rumah. Korban ratusan ribu jiwa, termasuk para dokter dan perawat di seluruh dunia, membuktikan virus ini sungguh berbahaya dan mematikan.

Kapan berakhir?
Menurut prediksi, para ilmuwan baru berhasil membuat vaksin dan obat mengatasi Covid-19 selama 18 bulan dari sekarang. Koran Guardian di Inggris, 14 April 2020, menyatakan, menjaga jarak mungkin akan berlanjut hingga 2022, bahkan mungkin 2025, jika vaksin atau penanganan efektif belum ditemukan. Selama itulah masyarakat harus bergantung pada koneksi daring.

Di sebagian negara dan kota, karantina wilayah berlaku hingga Juni meski sebagian lagi sudah mengendurkan aturan PSBB, seperti di Wuhan, China. Jerman juga sudah meniadakan karantina rumah. Namun, AS, China, Iran, Italia, dan Inggris masih harus berjuang keras.

Jika jumlah pasien yang terdeteksi positif mencapai jumlah tertentu, sekolah dan universitas harus ditutup. Dari sejarah berjangkitnya penyakit menular, seperti pes/sampar, flu spanyol, ebola, zika, dan flu hong kong di berbagai kawasan, tampak bahwa gelombang wabah bisa datang berulang.

Ketika jumlah pasien ICU sampai pada angka tertentu, masa karantina harus dimulai lagi. PSBB tidak cukup sekali untuk mengontrol pandemi. Bersyukur, banyak sekali upaya kolektif bangsa Indonesia. Dari upaya preventif seperti cuci tangan, menyemprotkan disinfektan, menggunakan masker, hingga upaya kuratif membuat ventilator.

Masyarakat sangat menunggu terobosan dan menghargai dokter, perawat, dan paramedis, seperti Doktor Saud Anwar di AS yang menemukan cara mengatur satu ventilator untuk tujuh pasien.

Sistem kesehatan akan berevolusi dengan identifikasi dan cara menghindari wabah. Produksi massal sarana kesehatan, seperti disinfektan tangan dan lingkungan, peralatan medis, dan alat pelindung diri murah, penting untuk menolong pasien dan menjaga kesehatan petugas medis.

Di sisi lain, dunia bisnis depresi karena orang dilarang berkerumun mengonsumsi barang dan layanan. Restoran, kafe, bar, hotel, mal, museum, tempat olahraga, dan pendidikan harus mengubah bentuk layanan. Para pengusaha harus memikirkan jalur pasokan, proses, dan distribusi produk dan layanan ke konsumen dengan cara paling efisien dan efektif.

Masa disrupsi adalah masa sulit bagi semua komponen: pemerintah, pengusaha, dan karyawan. Kita akan melihat berbagai layanan baru yang sejak 2015 dikenal dengan ”Ekonomi Shut-In” (ekonomi berkurung). Dalam skala besar, distribusi logistik, alat kesehatan dan alat pelindung diri, makanan, dan sistem jaringan sosial untuk keteraturan perlu penyesuaian.

Cara hidup ekonomi berkurung perlu evaluasi berjenjang dan melekat agar resesi ekonomi tidak berlanjut. Pemerintah dan swadaya masyarakat harus membentuk jaringan pengaman sosial, terutama untuk pekerja harian lepas yang hilang pendapatan selama masa pandemi ini.

Bantuan tunai langsung adalah salah satu cara agar masyarakat yang hidup dari penghasilan harian dapat bertahan hidup, lalu mencari cara yang tepat dan aman untuk mendapat penghasilan.

KOMPAS/PRIYOMBODO—Warga bergotong royong mempersiapkan paket dari Presiden Joko Widodo yang tiba di posyandu RW 006, kelurahan Grogol, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Jumat (1/5/2020).

Ekonomi berkurung (shut-in) saat ini menjadi momentum berkembangnya penggunaan aplikasi yang mengatur jadwal pasokan dan distribusi antar-jemput kebutuhan rumah tangga. Prosedur sesuai Covid-19 dalam distribusi barang dan layanan ke rumah telah disosialisasikan Grab dan Gojek. Pengantaran langsung ke rumah tanpa perlu bertemu.

Dalam buku The World Beyond Your Head, Matt Crawford menulis bahwa umat manusia telah berada dalam dunia virtual yang selama ini tanpa sengaja telah kita masuki.

Pendidikan
Di Indonesia, seluruh komponen masyarakat beradaptasi. Belajar dari rumah menjadi tantangan ekstra bagi keluarga. Program belajar di rumah harus bisa menanamkan nilai hidup bermasyarakat. Keahlian dan keterampilan harus dipelajari dalam situasi berkurung beberapa bulan atau tahun ke depan. Untuk itu, perlu kerja sama guru dan orangtua—yang kembali ke khitah pendidik utama.

Nilai-nilai berupa kegigihan, kesabaran, daya juang, dan kebijaksanaan perlu diajarkan. Prof Gunawan Tjahjono, arsitek kampus UI yang indah, menyebut semua ini sebagai menciptakan sumber daya manusia yang ”rajin”.

Sejak 13 April 2020, TVRI telah menayangkan program belajar untuk berbagai jenjang. Kita yakin akan muncul berbagai cara inovatif, efisien, dan efektif untuk menciptakan generasi yang mampu bertahan menghadapi tantangan.

Ekonomi berkurung membuat ketergantungan pada komputer, internet, televisi pintar, dan aplikasi, juga pasokan listrik dan sarana telekomunikasi. Ekonomi berbasis kebutuhan (on-demand economy) diwujudkan dalam aplikasi mobile dan layanan lain. Penerapan kecerdasan buatan pada big data dan machine learning yang dapat melihat tren jadi niscaya.

Institusi dan perusahaan bergantung pada talenta yang ada. Produktivitas bekerja dari rumah dipacu agar sebanding dengan bekerja penuh waktu dalam jam kerja normal. Keterampilan baru untuk dapat bekerja dengan baik dari jarak jauh sangat dibutuhkan. Cara untuk fokus dan produktif bekerja di rumah, mengelola laporan dari jarak jauh, dan menjalankan pertemuan virtual perlu untuk disebarkan.

Di sisi lain, terjadi perubahan positif terhadap isu-isu global, seperti sustainability dengan berkurangnya jejak karbon. Konsumsi pasokan makanan lokal seperti buah, sayur, ikan, dan ayam adalah keniscayaan ketahanan pangan.

Walaupun kita ingin segera kembali ke kehidupan ”normal” yang merdeka, tanpa batas antara manusia dan wilayah, kita harus sadar bahwa masa kebebasan itu mungkin tidak akan pernah kembali sepenuhnya.

(Riri Fitri Sari, Profesor Teknik Komputer Fakultas Teknik Universitas Indonesia)

Sumber: Kompas, 5 Mei 2020

Share
x

Check Also

Stroomnet PLN Saingi IndiHome Telkom, Apa Kabar Sinergi BUMN?

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) secara terbuka menabuh genderang perang terhadap pelaku usaha jaringan internet ...

%d blogger menyukai ini: