Home / Berita / Palapa Ring Menjawab Kebutuhan Penetrasi Internet

Palapa Ring Menjawab Kebutuhan Penetrasi Internet

Kebiasaan bermedia publik kian mengarah ke digital. Terkait hal itu, keberadaan Palapa Ring diharapkan dapat menekan tarif akses internet di Indonesia, terutama wilayah timur. Operator telepon seluler merespons positif keberadaan Palapa Ring, terlebih di Indonesia timur. Namun, mereka berharap harga sewa tak terlalu mahal.

Perubahan kebiasaan bermedia yang cenderung mengarah ke digital tampak dari hasil survei Kompas yang dilakukan terhadap 1.200 responden di 34 provinsi pada September-Oktober 2019. Konsumsi terhadap televisi masih tertinggi, baik di wilayah timur (93,1 persen), tengah (88,3 persen), maupun barat (87,5 persen).

Sementara media cetak masih cukup dibaca di wilayah timur (34,7 persen) dibandingkan di barat. Untuk platform digital, baik online maupun media sosial, relatif sama kuat di barat dan timur. Akses berita online paling banyak di wilayah barat mencapai 35,8 persen. Akses medsos tertinggi di wilayah barat dan timur, yakni 48,1 persen dan 50 persen.

Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi pengguna internet di Indonesia tahun 2019 telah mencapai 64,8 persen. Penetrasi pengguna internet itu diharapkan terus meningkat seiring dengan berkembangnya pembangunan infrastruktur jaringan internet di sejumlah daerah di Indonesia.

Indonesia masih menjadi negara yang punya kecepatan internet rendah tetapi dengan tarif tinggi. Kesimpulan ini diperoleh Portal CupoNation Indonesia yang menganalisis tarif dan kecepatan internet berbasis fiber yang ditawarkan beberapa negara di Asia Tenggara.

Dari lima negara ASEAN, Singapura menjadi satu-satunya negara yang mampu menawarkan koneksi internet berbasis fiber dengan kecepatan maksimal hingga 2 Gbps dan tarif paling murah, yaitu Rp 325-Rp 628 per Mbps. Berikutnya berturut-turut adalah Malaysia dengan tarif Rp 677-Rp 8.959 per Mbps, Thailand (Rp 1.080-Rp 7.487 per Mbps), dan Filipina (Rp 2.602-Rp 35.586 per Mbps). Indonesia di urutan berikutnya dengan tarif Rp 14.895-Rp 43.500 per Mbps dan terakhir Kamboja dengan tarif Rp 18.769-Rp 70.385 per Mbps.

Pembangunan infrastruktur jaringan terus digenjot Pemerintah Indonesia guna menghadirkan internet yang terjangkau hingga ke pelosok daerah. Salah satunya lewat pembangunan Palapa Ring. Palapa Ring merupakan proyek pembangunan jaringan utama di seluruh wilayah Indonesia agar bisa terkoneksi dengan internet dan sekaligus jadi target Rencana Pita Lebar Indonesia 2014-2019.

Pemanfaatan Palapa Ring oleh perusahaan operator masih dinantikan demi meningkatkan penetrasi internet di seluruh Indonesia. Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan, daerah yang paling besar tidak berinternet ada di wilayah yang masuk cakupan Paket Palapa Ring Timur, yakni mencapai 54,2 persen.

Pemanfaatan Palapa Ring
Proyek Palapa Ring mulai digaungkan sejak 2007, tetapi sempat terbengkalai. Pada 2015, Kementerian Komunikasi dan Informatika kembali memulai proyek Palapa Ring jilid II. Pekerjaan ini dibagi menjadi tiga paket, yaitu barat, tengah, dan timur. Total panjang jaringan di ketiga paket itu mencapai 12.000 kilometer.

Proyek Palapa Ring akan mengintegrasikan jaringan yang sudah ada, yakni barat dan tengah, dengan jaringan baru di wilayah timur Indonesia (Palapa Ring Timur). Proyek Palapa Ring yang rampung Agustus 2019 telah diresmikan Presiden Joko Widodo.

Operator seluler yang ingin memperluas jaringan ke wilayah yang sulit dijangkau bisa memanfaatkan infrastruktur ini dengan cara menyewa. Palapa Ring Barat yang secara resmi beroperasi sejak Maret 2019, menghubungkan sejumlah kabupaten dan kota di Pulau Sumatera dan Kalimantan, menjangkau wilayah Riau dan Kepulauan Riau (sampai Pulau Natuna), dengan panjang jaringan 2.275 kilometer, dengan serat optik darat 545 kilometer dan 1.730 kilometer kabel laut.

Palapa Ring paket Tengah juga telah rampung sejak awal 2019. Proyek ini menjangkau 27 kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Kalimantan Timur dengan panjang jaringan 2.995 kilometer dengan serat optik darat 1.289 kilometer dan kabel laut sepanjang 1.706 kilometer.

Paket Timur mencakup wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat, dan Papua dengan panjang jaringan 6.878 kilometer yang membentang dengan kabel serat optik darat sepanjang 2.452 kilometer dan kabel laut 4.426 kilometer.

Infrastruktur yang menjadi tulang punggung jaringan internet yang kerap disebut sebagai tol langit ini akan membawa internet ke pelosok negeri. Namun, publik masih harus menunggu realisasi minat perusahaan operator dalam memanfaatkan Palapa Ring. Sebanyak 16 perusahaan disebut berminat menyewa layanan infrastruktur Palapa Ring, sedangkan dua perusahaan lainnya sudah melakukan uji coba, yakni PT Telekomunikasi Indonesia dan PT Primacom Interbuana.

Pemerintah telah memberi kebijakan kepada perusahaan operator untuk menggunakan Palapa Ring dengan harga khusus. Dengan kebijakan ini, diharapkan dapat menekan biaya yang dikeluarkan operator dan tak ada tarif berbeda yang dibebankan kepada pengguna di seluruh Indonesia.

Rela membayar
Pemanfaatan Palapa Ring dinantikan oleh generasi mula dan muda di sejumlah wilayah Indonesia. Generasi ini terbukti rela membayar lebih demi mendapatkan akses internet. Semakin muda usia, semakin berani membayar lebih untuk akses internet.

Hasil survei memperlihatkan generasi Z (usia kurang dari 22 tahun) dan generasi Y atau milenial muda (usia 22-30 tahun) rela membayar lebih untuk akses internet. Sebanyak 41,5 persen generasi Z menghabiskan Rp 50.001 hingga Rp 100.000 per bulan untuk mengakses internet. Sementara 24,5 persen menghabiskan ? Rp 50.000 dan 22,6 persen lainnya lebih dari Rp 150.000.

Sementara itu, 35,1 persen generasi Y atau milenial muda menghabiskan Rp 50.001 hingga Rp 100.000 per bulan. Sebanyak 21,4 persen milenial muda menghabiskan biaya sekitar ? Rp 50.000. Sementara 15,5 persen mengeluarkan lebih dari Rp 150.000 dan 10,7 persen lainnya menghabiskan Rp 100.001 hingga Rp 150.000 per bulan.

Adapun dari generasi Y atau milenial tua (berusia 31-40 tahun), sebanyak 21,9 persen menghabiskan Rp 50.001-Rp 100.000, sedangkan 20,7 persen menghabiskan ? Rp 50.000 dan 12,2 persen menghabiskan lebih dari Rp 150.000. Hasil survei Litbang Kompas ini selaras dengan survei APJII yang menunjukkan penetrasi pengguna internet Indonesia pada 2018 dikuasai generasi milenial. Mereka yang berada di rentang usia 15-19 tahun hampir semua telah menggunakan internet.

Sementara mereka yang berada pada rentang usia 20-29 tahun mayoritas juga pengguna internet. Anak yang berusia 10-14 tahun juga sudah banyak yang menggunakan internet, yakni mencapai 66,2 persen. Akses internet perlahan tetapi pasti kian menjadi kebutuhan primer, terutama bagi generasi milenial. Perangkat seperti ponsel dan laptop dirasakan kurang manfaatnya jika tidak terkoneksi dengan internet. (Litbang Kompas)

Oleh SUSANTI AGUSTINA

Sumber: Kompas, 26 Desember 2019

Share
x

Check Also

Kenormalan Baru Jangan Jadi Abnormal Lagi

Pelonggaran pembatasan sosial berskala besar demi aktivitas ekonomi harus dilakukan secara hati-hati dengan kajian epidemiologis. ...

%d blogger menyukai ini: