Mutu Pendidikan; Indonesia di Posisi Terakhir

- Editor

Selasa, 13 Mei 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hasil pendidikan di Indonesia tetap buruk menurut penilaian internasional. Berdasarkan penilaian Pearson pada 2014, Indonesia menduduki posisi terakhir dari 40 negara.

Berdasarkan The Learning Curve terbaru Pearson yang menggambarkan indeks global kemampuan kognitif dan hasil pendidikan, posisi Indonesia tidak bergeser dari penilaian pada 2012. Buruknya pencapaian pendidikan Indonesia sejalan dengan sejumlah penilaian internasional lainnya.

Penilaian internasional salah satu perusahaan pendidikan dunia ternama itu juga mempertimbangkan hasil dari studi matematika, sains, dan membaca pada Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), Trends in International Mathematics and Science Study (TIMMS), serta Programme for International student Assesment (PISA).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Indonesia masih kalah dari Meksiko (39), Brasil (38), serta Thailand (35). Sementara posisi lima besar diduduki Korea Selatan, Jepang, Singapura, Hongkong, dan Finlandia. Keberhasilan negara-negara Asia itu dinilai karena ”budaya akuntabilitas” yang kuat. Guru, siswa, dan orangtua aktif berpartisipasi dalam pendidikan. Selain itu, masyarakat di negara-negara itu sangat menghargai guru dan sekolah.

Dosen pascasarjana Universitas Muhammadiyah, Hamka Elin Driana, mengatakan, berbagai penilaian internasional yang mengindikasikan buruknya sistem pendidikan Indonesia merupakan peringatan keras bagi pemerintah. ”Hasil ini harus memunculkan sense of crisis pemimpin kita bahwa pendidikan nasional mendesak untuk dievaluasi,” kata Elin, yang juga Koordinator Education Forum, Senin (12/5). Menurut Elin, hasil ujian nasional sebagai indikator keberhasilan pendidikan Indonesia sangat dipertanyakan. Setiap tahun, hasil UN meningkat dengan kelulusan hampir 100 persen, tetapi penilaian internasional menunjukkan Indonesia di posisi buntut.

Guru Besar Institut Teknologi Bandung Iwan Pranoto menambahkan, pemerintah tidak peduli dengan keterpurukan pendidikan. ”Sampai saat ini, Mendikbud merasa baik-baik saja dengan pendidikan kita,” ujar Iwan. Iwan mendesak pemerintahan baru nanti menyusun ulang indikator keberhasilan pendidikan dengan mengacu pula ”penilaian” internasional. Pemerintah harus memperbaiki proses pendidikan untuk mewujudkan anak-anak yang ”kasmaran” belajar. (ELN)

Sumber: Kompas, 13 Mei 2014

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 3 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB