Home / Berita / Lingkungan / Muslim Mahardika dan Teknologi dari Dosen Teladan

Muslim Mahardika dan Teknologi dari Dosen Teladan

Muslim Mahardika, dosen teladan tingkat nasional, aktif membuat teknologi tepat guna, mulai penyaring air, pendaur ulang baterai litium, hingga penyambung tulang.

Muslim Mahardika (40) aktif menciptakan berbagai teknologi tepat guna mulai alat penyaring air, pencacah kresek, hingga pendaur ulang baterai litium untuk kendaraan listrik. Berkat keaktifannya melakukan riset, ia mendapat penghargaan sebagai dosen teladan tingkat nasional 2017.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Muslim Mahardika menunjukkan sejumlah produk hasil risetnya.

“Saya yakin, asalkan benda bisa dilihat, berarti bisa dibuat. Nah, ketika merasa mentok atau buntu, saya selalu ingat dengan keyakinan tersebut. Asalkan berusaha, selalu ada jalan untuk bisa mewujudkan suatu produk,” ujar dosen di Departemen Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada itu.

Dalam kurun waktu 2016-2019, Muslim setidaknya telah menghasilkan 26 hak kekayaan intelektual yang terdiri dari hak merek, paten disain, paten sistem, paten metode, hingga hak cipta buku.

Saat dijumpai di Kampus UGM, Desember lalu, Muslim bersemangat menceritakan riset terbarunya terkait pembuatan mesin daur ulang baterai litium. Mesin itu berfungsi otomatis untuk memisahkan komponen-komponen baterai. Dengan alat ini, komponen baterai litium yang terdiri atas logam pembungkus, lempeng katoda, lempeng anoda, dan separator dengan mudah dipisahkan.

Hari itu ia mendampingi beberapa mahasiswanya di laboratorium untuk menyempurnakan mesin tersebut. “Tahun ini kami mau meningkatkan lagi kemampuan mesin dismantling untuk mendaur ulang litium,” ujar Muslim yang berharap mesin daur ulangnya bisa mendukung industri.

Muslim berkolaborasi dengan Dr Indra Perdana dari Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, UGM yang melakukan berbagai penelitian terkait daur ulang logam berharga, khususnya litium dari baterai litium bekas sebagai salah satu komponen kendaraan listrik. Penelitian yang dilakukan sejak 2013 ini membuka jalan bagi UGM menjadi pelopor dalam mendaur ulang litium yang belum bisa dihasilkan Indonesia.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Dr Muslim Mahardika (kanan) bersama Dr Indra Perdana dari Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, UGM, melakukan riset untuk mendaur ulang litium dari baterai litium. Muslim mendesain mesin dismantling untuk mempermudah membuka baterai litium bekas kendaraan listik.

Meskipun keberhasilan mendaur ulang litium dari baterai litium di kendaraan listrik masih dalam skala laboratorium, Muslim yakin riset tim Pusat Daur Ulang Baterai (Center of Battery Recycling) di UGM penting untuk dilanjutkan.

“Kendaraan listrik dalam 10 tahun ke depan pasti akan mulai masif. Kami sudah memikirkan untuk bisa berkontribusi dengan menyediakan bahan baku untuk baterainya yakni dengan mendaur ulang litium dari baterai litium kendaraan listrik,” ujar Muslim.

Muslim senang memikirkan riset yang bisa menjadi produk. Baginya, dosen teknik mesin tidak hanya berperan mengembangkan riset yang menghasilkan ilmu pengetahuan, namun juga menjadi solusi bagi masalah yang dihadapi masyarakat dan bangsa.

“Saya mulai dari Indonesia butuh apa? Saya yakin Indonesia seharusnya bisa mengembangkan produk teknologi yang bisa memecahkan masalah,” kata Muslim yang kini menjabat kepala program studi S2 Teknik Mesin UGM.

Muslim mengenang ketika dirinya kembali dari Jepang tahun 2009 dengan keahlian micro machining processes atau proses mesin berskala mikro, ia berharap bisa berkontribusi memajukan Indonesia. Namun, riset yang sesuai keahliannya belum dikenal. Dia pun merintis jalan dan terbuka untuk mendukung riset dari kampus yang ingin memecahkan berbagai masalah bangsa.

Pencacah
Sejumlah riset yang Muslim lakukan sudah bisa menghasilkan teknologi atau alat yang digunakan secara masal. Beberapa di antaranya adalah mesin yang didesain untuk membantu pembuatan alat penyambung tulang. Selain itu, ia membuat mesin pencacah kantong kresek yang telah dimanfaatkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mengatasi sampah plastik.

Muslim Mahardika menunjukkan hasil risetnya yang menghasilkan teknologi penjernih air dengan membran. Alat ini sudah digunakan untuk membantu masyarakat mendapatkan air bersih layak minum.

Hasil cacahan plastik kresek dari mesin yang didesain Muslim dan tim dari Fakultas Teknik UGM bisa mendaur ulang sampah plastik kresek menjadi bahan campuran aspal. Ia sempat kesulitan membuat mesin pencacah yang bisa menghasilkan cacahan sesuai untuk campuran aspal. Ia beberapa kali membuat prototipe mesin pencacah plastik. Namun, baru pada prototipe ketiga hasilnya pas. “Saya selalu yakin selalu ada jalan untuk menghasilkan produk teknologi yang dibutuhkan,” tegas Muslim.

Solusi teknologi lainnya yang berhasil dipersembahkan Muslim yaitu teknologi yang bisa menyaring air keruh menjadi air bersih yang layak digunakan. Muslim berkolaborasi dengan adiknya Gunawan Setia Prihandana, alumni Teknik Mesin FT UGM yang sedang melakukan penelitian di Kyoto University.

Kolaborasi tersebut menghasilkan penjernih air iiToya, gabungan dari kata “ii” dari bahasa Jepang yang artinya bagus, dan “toya” dari bahasa Jawa yang berarti air. Secara harfiah iitoya berarti air yang bagus, yang sesuai untuk peruntukannya.

Fakultas Teknik UGM memfasilitasi pendanaan untuk riset ini melalui hibah. Saat ini, produk iiToya yang merupakan penjernih air dengan membran sudah digunakan oleh masyarakat. Alat ini, misalnya, dipakai untuk menyediakan air bersih bagi masyarakat korban bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.

Muslim memang memiliki kreativitas yang cemerlang dalam menghadirkan teknologi. Dia mahasiswa lulusan terbaik sehingga diminta untuk menjadi dosen UGM. Saat kuliah doktor dia juga masuk dalam tim riset yang menemukan metode baru, yaitu sensor fusion strategy di bidang permesinan yang dipublikasikan di Jurnal Key Engineering Materials pada 2006.

Sepulang dari studi di Jepang, ia makin bersemangat membuat teknologi tepat guna yang bisa langsung dimanfaatkan masyarakat. “Saya berpikir kalau Indonesia jadi produsen teknologi, kita bisa membuka lapangan kerja lebih baik. Teknologi harus banyak dibuat di dalam negeri,” ujarnya.

Muslim Mahardika
Lahir: Sragen, 30 Juli 1979

Pendidikan:
S1 Teknik Mesin, Universitas Gadjah Mada, Indonesia (1998-2002)
S2 Teknik Mesin, University of Malaya, Malaysia (2003-2005)
S3 Keio University, Jepang (2006-2009)
Profesi ASEAN.Eng dari ASEAN Engineering Registrar (2019)

Penghargaan:
Juara 1 Dosen Teladan Berprestasi bidang Sains dan Teknologi Tingkat Nasional (2017)
Juara 1 Dosen Teladan Berprestasi bidang Sains dan Teknologi Tingkat UGM (2016)
Juara 1 Dosen UGM yang berprestasi di Tingkat Nasional Tingkat UGM (2017)
Juara 1 Layak Paten Tingkat UGM) – 2018
Juara 1 Layak Paten Tingkat UGM – 2019
Lulusan Terbaik S1 Teknik Mesin UGM (Cum Laude), untuk periode wisuda Nopember 2002
Penghargaan dari Indonesian Toray Science Foundation, 2016

Hak Atas Kekayaan Intelektual, antara lain:

Hak atas merek mesin micro EDM/ECM (hMicro-EM)
Paten Portable Jig for Bending Test of Osteosynthesis Miniplate, tahun 2018
Paten Mesin Pencacah Plastik Kresek
Paten Desain Industri, Alat Penjernih, Penyaring, dan Pemurni Air Generasi 1, tahun 2018
Paten Metode Penempatan Kain Pada Mesin Batik Tulis
Paten Sistem Filtrasi (Penyaringan) Air bertingkat
Paten Metode Dismantling Battery Lithium-Ion

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU

Editor: BUDI SUWARNA

Sumber: Kompas, 7 Februari 2020

Share
x

Check Also

Perkuat Pengawasan Penggunaan Tenaga Nuklir

Kasus limbah radioaktif di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, memberi pelajaran berhatha. Kita ...