Home / Artikel / Mobil Listrik Tanpa Polusi

Mobil Listrik Tanpa Polusi

BAHAN bakar fosil selama ini menyumbangkan energi sangat besar pada umat manusia. Tetapi dengan pemakaian yang berlebihan dan daya dukung lingkungan yang semakin menurun, pemakaian bahan bakar fosil perlu pertimbangkan kembali.

BENSIN adalah salah satu bahan bakar fosil yang banyak dipergunakan pada kendaraan bermotor. Bahan bakar ini menghasilkan kalori yang tinggi dibanding beratnya. Hasilnya, kendaraan dapat bergerak relatif jauh dengan hanya sedikit bahan bakar.

Tetapi dalam penggunaannya, bensin memerlukan bahan tambahan seperti timbal, sedangkan timbal ini bisa membuat orang Iebih rentan terkena infeksi pernapasan, menurun tingkat kecerdasannya (IQ), berkurangnya kesuburan bahkan kemandulan, dan perubahan iklim dunia secara global.

Pada perkembangan selanjutnya, dipergunakan bensin tanpa timbal atau lebih dikenal sebagai bensin Super-TT. Walaupun lebih baik, bensin jenis ini juga masih mengeluarkan gas-gas beracun. Gas yang keluar dapat dikurangi dengan pemakaian katalitik konverter.

Demikian juga dengan bahan bakar diesel. Solar mempunyai sisa pembakaran yang cukup beracun, seperti gas oksida belerang dan debu karbon. Alternatifnya, ada gas buang yang produk fosil dan ternyata cukup bersih serta bersahabat dengan lingkungan.

Gas (CNG ataupun LPG) mempunyai kerapatan energi yang tinggi dan mampu menghasilkan pembakaran yang sempurna. Tetapi bahan bakar jenis ini kurang begitu popular, terutama pada mobil non angkutan umum.

Alasannya,gas bertekanan akan sangat berbahaya bila meledak hingga sebagai penyimpanannya diperlukan tangki yang kuat dan berat. Selain itu, mobil dengan bakar gas (BBG) tidak bisa lari cepat atau lincah, akselerasinya berkurang. Stasiun pengisian masih terbatas, harga peralatan konverternya sangat mahal dan mesin akan terlalu panas.

Untuk mengatasi hal itu, mau tidak mau kalangan industri mobil harus mampu menciptakan mobil yang efisien, murah dan bersahabat dengan lingkungan.

Itulah sebabnya, kini mulai dikembangkan mobil listrik (electric vehicle) sebagai kendaraan masa depan. Menurut Robert W. Riley, dalam buku Alternatif Cars in the let Century: A New Personal Transportation Paradigm, mobil listrik atau EV ini diperkirakan bakal menyerbu pasaran dunia pada abad ke-21.

LALU, apakah mobil listrik itu? Apa pula kelebihannya jika dibandingkan mobil konvensional? Menurut Daniel Sperling, Direktur Institut Penelitian Transportasi Universitas California, dalam artikelnya di Scientific American edisi November lalu, dibandingkan mobil konvensional yang polusif, mobil listrik memang jauh lebih efisien.

Alasannya,pertama, pada mobil EV-bikinan General Motor yang bekerjasama dengan Alcan Aluminium Vehicle Technology misalnya, sebagai tenaga penggeraknya monggunakun motor induksi AC yang dilengkapi pendingin air. Kemampuannya untuk menghasilkan tenaga pun cukup hebat, yaitu 138 dk (daya kuda). Motor listrinya langsung dipasang pada roda depan, sehingga tidak perlu mekanisme pemindah gerak.

Selain itu,mobil listrik ini dilengkapi sebuah modul utama yang dipatok di atas motor penggerak. Tugasnya, mengubah arus searah (Direct Current) 312 V dari baterai, menjadi arus bolak-balik (Alternating Current). Dua modul tambahan untuk tegangan tinggi dipasang di bawah modul utama. Tugasnya, saat untuk menggerakkan pompa hidrolik setir, lainnya menyalurkan tegangan 12 V untuk peralatan elektronik (aksesori) dan 48 V untuk pemanas kaca.

Sebagai sumber tenaga untuk menggerakkan motor listrik, digunakan 27 baterai timah hitam lead acid bebas perawatan dengan tegangan 12 V. Baterai ini disusun dalam bentuk T. Dari ke-27 baterai itu, satu digunakan untuk mengaktifkan peralatan aksesori dengan tegangan relatif rendah. Sisanya bertugas menggerakkan motor listrik. Hebatnya, 98% komponen baterai yang digunakan pada EV-1 ini bisa didaur ulang. Dengan demikian, mobil listrik ini benar-benar bersahabat dengan lingkungan.

Alasan kedua, mobil EV-1 ini menggunakan rem regeneratif yang mampu mengembalikan pemakaian energi ketika kendaraan direm. Maksudnya, jika terjadi pengereman, motor listrik akan menjadi generator yang mengisi baterai, atau sel-sel penyimpan, serta mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Energi ini lalu disimpan dalam sel-sel penyimpan. Dengan mekanisme demikian, jarak tempuh mobil listrik ini akan menjadi lebih panjang.

Ketiga, sisa pembakaran mobil listrik jauh lebih sedikit dibanding mobil konvensional, sehingga dapat mengurangi polusi udara. Ketika berjalan, mobil konvensional akan mengeluarkan sejumlah polutan seperti: karbon monooksida (CO), hidrokarbon (HO), NOx, timah hitam (Pb) dan sebagainya melalui knalpot.

Sementara itu, mobil hibrida yang bahan bakamya gabungan dari motor listrik yang digerakkan sumber energi lain, seperti energi surya, juga memancarkan polusi yang lebih kecil dibanding mobil konvensional yang memakai BBM. Komponen utama mobil hibrida ini di antaranya modul surya, sel bahan bakar (fuel cell), dan motor listrik. Sumber energi yang djpakai adalah energi surya dan energi reaksi elektrokimia dari fuel cell serta baterai yang sewaktu-waktu bisa diisi.

Energi surya dikonversi jadi listrik melalui modul surya –yang tersusun dari sel-sel silikon dan amorton. Sel-sel silikon tersusun sebagai polikristal atau monokristal. Sedangkan energi surya yang dikonversi adalah berupa foton. Modul surya ini biasanya dipasang di bagian luar mobil, di mana energi listrik yang dihasilkan dipakai untuk menggerakkan motor listrik.

Berbeda dengan modul surya, fuel cell memperoleh energi dari adanya reaksi kimia antara hidrogen dan oksigen. Teknologi fuel cell merupakan teknologi konversi energi secara elektrokimia degan cara mengubah bahan bakar langsung menjadi bentuk energi listrik dan kalor, tanpa melalui proses pembakaran. Teknologi ini mempunyai efisiensi pembangkitan listrik yang sangat tinggi, yaitu 40 prosen.

Keunggulan lain dari fuel cell, lebih bersih dan bersahabat dengan lingkungan, tak mengeluarkan suara berisik dan tidak mengeluarkan gas buang yang bersifat polutif. Ini disebabkan oleh kerjanya yang berjalan secara elektrokimia, yaitu penggabungan bahan bakar (hidrogen) dengan oksigen. Bahan bakar lain yang bisa digunakan adalah gas alam (elpiji atau CNG), metanol dan napta.

Adapun jenis fuel cell yang telah dikembangkan saat ini adalah phosphoric acid FC, Molten Carbonate FC, solid oxyde FC dan alkalin.

Sebagai pendukung dari energi surya, selain fuel cell, juga diperlukan baterai. Pada saat dioperasikan, energi yang dihasilkan sel surya juga digunakan untuk mengisi baterai.

Jenis baterai yang biasa digunakan unituk mendukung sistem ini di antaranya, nikel sodium klorida, nikel kadmium, dan nikel metal hidrid. Dengan pemakaian baterai di atas, mobil punya akselerasi dan jelajah lebih baik di samping teknologi ini sangat bersahabat dengan lingkungan.

Dari catatan rekor yang pernah dicapai, baik oleh mobil EV maupun hibrida, sebagian besar mempunyai jelajah sekitar 100 mil. Belum lama ini, EV Solectria Sunrise yang bertubuh komposit mampu menjelajah 373 mil untuk satu pengisian menggunakan baterai nikel metal hidrid. Meski baterai-baterai ini sangat mahal, mereka akan kompetitif pada akhir abad ke-20.

MESKI kendaraan konvensional telah dilengkapi dengan perangkat-perangkat antipolusi, orang berkendaraan makin lama semakin bertambah banyak. Pada saat yang sama, kualitas udara terus memburuk di mana-mana di seluruh dunia.

Sementara itu, cadangan migas yang menjadi andalan utama otomotif, terus menipis dan semakin mahal. Padahal, sumber energi lain yang cukup murah bermunculan akhir-akhir ini.

Dalam kondisi itu, tidak ada jalan lain kecuali melakukan inovasi baru yang terus-menerus di bidang teknologi otomotif, seperti dikatakan Al Gore (mantan wapres AS), kita harus melakukan inovasi teknologi baru yang terus-menerus, serta mengubah kebiasaan termasuk mengubah tradisi dalam pembuatan mobil.

Dan AS nampaknya memang serius untuk itu. Pemerintah negara bagian California, misalnya pihaknya mencanangkan aturan yang menargetkan penggunaan mobil listrik 3-4 persen dari jumlah populasi kendaraan pada 1998.

Dan agaknya, pihak pemerintah (AS) tidak bertepuk sebelah tangan. Kini, para pengusaha mobil di AS mulai berlomba menciptakan mobil listrik mutakhir yang hemat energi dan hemat polusi. General Motor menciptakan mobil listrik EV-1 yang hemat energi, Chrysler mencoba merenovasi mesinnya sehingga dapat digantikan dengan baterai, motor listrik dan pengendali listrik kala era mobil listrik melanda dunia pada abad ke-21. Ford menjual bodi mobil yang siap diisi dengan peralatan mobil listrik di kemudian hari.

Lain lagi yang dilakukan Marcedes Benz. Pabrik mobil terkemuka di Jerman ini mencoba menciptakan mobil listrik ukuran mini yang dinamai Mercedes Smart atau Swactmobile. Meski harganya lebih mahal dibanding mobil konvensional, jika diproduksi secara massal, harga mobil listrik akan menjadi lebih murah. Bagaimanapun, mobil konvensional ”rakus” bahan bakar!

Pada era perdagangan bebas tahun 2003 mendatang diharapkan lebih banyak dari 50 persen mobil di jalanan adalah mobil-mobil tenaga listrik yang didesain tahun 1997 ini. Inilah antara lain yang digagas sejumlah pakar otomotif di AS, Jepang, Eropa dan sebagian negara Asia,termasuk Indonesia.

Amien Nugroho, peminat otomotif tinggal di Yogyakarta

Sumber: Kompas, Kamis 20 FEBRUARI 1997

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Inovasi Farmasi-Alat Kesehatan

Ada kesempatan dalam kesulitan. Pandemi Covid-19 ini membuka peluang bagi kita untuk meraih kesempatan menjadi ...

%d blogger menyukai ini: