Home / Artikel / Mimpi Indonesia Miliki Kereta Api Supercepat

Mimpi Indonesia Miliki Kereta Api Supercepat

DELAPAN hingga 18 tahun mendatang atau pada tahun 2020-2030, Indonesia bakal memiliki kereta api supercepat, sebagaimana yang dimiliki Jepang, China dan negara-negara maju lainnya.

Mimpi memiliki alat transportasi darat yang laksana kilat itu rupanya bukan khayalan, melainkan suatu embrio fakta, karena mulai tahun 2010 sudah dipersiapkan dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (Ripnas) 2010-2030. Targetnya adalah membangun proyek kereta api supercepat pada 2020 mendatang.

Jika hal itu kelak terwujud, maka jarak tempuh Jakarta-Surabaya 685 km yang biasa ditempuh dengan KA Argo Muria, Argo Bromo maupun Sembrani memakan waktu sekitar 10 jam, maka dengan kereta supercepat itu hanya membutuhkan waktu  2 jam 53 menit. Sebab speed-nya mencapai 300 km per jam.

Dengan demikian, jika penumpang dari Surabaya pergi ke Jakarta dengan naik kereta supercepat itu pukul 05.00, sampai di Jakarta pukul 08.00. Begitu juga sebaliknya. Ini sangat menguntungkan bagi pengguna kereta tersebut, karena dapat menghemat waktu perjalanan sekitar 7 jam.

Kereta yang diidam-idamkan itu direncanakan diberi nama Argo Cahaya dengan melayani rute Jakarta-Surabaya, dan hanya berhenti di beberapa stasiun saja. Itu pun stasiunnya tidak bercampur dengan stasiun yang sudah ada seperti sekarang ini, tetapi akan dibangun stasiun dan rel tersendiri, khusus KA Argo Cahaya. Stasiun dan rel tersebut tidak bersinggungan dengan transportasi darat lainnya, sehingga perjalanan Argo Cahaya bisa cepat bagai kilat.

Sebagaimana diketahui dalam situs Kementerian Perhubungan (Kemenhub) belum lama ini, Setjen Ditjen Perkeretaapian Kemenhub Nugroho Indrio mengungkapkan, masa pengerjaan proyek KA Argo Cahaya senilai 20 miliar dolar Amerika atau setara Rp 180 triliun itu butuh waktu tujuh tahun. Sebagai langkah awal, pada April 2012, Ditjen Perkeretaapian akan menggelar railway talk di Negara Sakura yang dikoordinasi Atase Perhubungan di Jepang.

Sejak 1980

Railway talk akan dihadiri sejumlah lembaga swasta dan pemerintah Jepang, calon pemberi pinjaman, operator kereta api cepat, pabrik-pabrik pembuat kereta api cepat, perusahaan komponen pemasok pembuat KA cepat,  dan perusahaan yang merancang sistem KA cepat tersebut. Termasuk perusahaan yang merancang sarana, prasarana serta infrastruktur KA cepat di Jepang.

Nugroho mengatakan, sebenarnya gagasan pengembangan kereta api supercepat Jakarta-Surabaya sudah ada sejak 1980, karena transportasi KA memiliki prospek yang baik, terutama angkutan penumpang. Pembangunan KA  supercepat ini akan memberikan nilai tambah pada keseluruhan sistem transportasi, mengurangi beban jalan raya, penghematan energi, pengurangan polusi dan masyarakat mempunyai pilihan dalam menggunakan  moda transportasi.

”Master plan and feasibility study for high speed train on Jawa Nort Line, sebenarnya sudah dilakukan pada 1987,” kata dia. KA Argo Cahaya tersebut, nantinya mirip model KA Shinkansen Jepang. Pilihan model ini karena selama 45 tahun Shinkansen berhasil zero accident alias tanpa kecelakaan.

Sementara itu, dana sebesar Rp 180 triilun untuk mewujudkan mimpi Indonesia mempunyai KA Argo Cahaya itu akan dipinjami Jepang dengan masa pengembalian 40 tahun. Menurut Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Tundjung Inderawan, untuk kontruksinya, proyek KA supercepat ini akan menelan dana 14,3 miliar dolar Amerika dan ditambah detail engineering design sekitar 5 miliar dolar Amerika.

”Kami akan buat rencana yang jelas dan rencana itu sangat masuk akal untuk di realisasikan. Sudah ada pembicaraan awal dengan pihak Jepang dengan loan (pinjaman) selama 40 tahun,” kata Tundjung dalam situs Kementerian Perhubungan, belum lama ini. (24)

Moch Danny Fadly, penulis lepas, tinggal di Semarang.

Sumber: Suara Merdeka, 5 Maret 2012

———–

Diluncurkan sejak Tahun 1964

KERETA API Shinkansen di Jepang biasa disebut kereta peluru. Shinkansen dioperasikan oleh empat perusahaan dalam grup Japan Railways. Kereta peluru (karena bentuknya mirip peluru dan selongsongnya) merupakan sarana utama untuk angkutan antarkota di Jepang.

Kereta ini mempunyai kecepatan 300 km/jam. Nama Shinkansen sering digunakan oleh orang-orang di luar Jepang untuk merujuk kepada kereta api peluru, namun kata ini dalam bahasa Jepang sebenarnya merujuk kepada nama jalur kereta api tersebut.

Sejarah Shinkansen dimulai pada 1 Oktober 1964 . Itu kali pertama kereta tersebut diluncurkan guna menyambut Olimpiade Tokyo. Tiga tahun kemudian, tepatnya 13 Juli 1967 Shinkansen secara resmi dibuka untuk masyarakat luas.

Ternyata jalur Shinkansen meraih sukses besar dengan melayani tak kurang dari 100 juta penumpang kurang dari 3 tahun sejak pembukaan kereta tersebut. Bahkan kurang dari satu dasa warsa mampu melayani penumpang satu miliar orang (pada tahun 1976)

Pada mulanya Shinkanshen yang melayani rute dari  Tokyo  ke Shin-Osaka (515,4 km) memakan waktu sekitar 4 jam. Pada 1992, Shinkanshen model baru yakni Nazomi dengan kecepatan 270 km/jam mampu mempersingkat perjalanan menjadi kurang dari 3 jam.

Sejak diluncurkan hingga 40 tahun kemudian idak ada daftar kecelakaan yang berakibat fatal dalam pengoperasian Shinkansen. Hanya saja, memang ada beberapa kecelakaan kecil berupa pintu yang menjepit penumpang atau barang mereka. Selain itu, ada beberapa percobaan bunuh diri oleh penumpang. Karena itu, beberapa stasiun Shinkansen telah memasang pagar pelindung.

Deteksi Gempa Bumi

Untuk menghadapi bencana seperti gempa bumi, kereta Shinkansen dilengkapi dengan sistem pendeteksian yang akan memberhentikan kereta bila gempa bumi terdeteksi. Seperti pada gempa bumi Chuetsu Oktober 2004, sebuah Shinkansen yang sedang melaju dekat dengan pusat gempa, hanya lepas dari relnya, namun tidak ada penumpang yang terluka.

Bahkan Jepang telah menciptakan Shinkansen generasi baru yakni Fastech 360. Kereta peluru generasi anyar ini memiliki sayap rem penahan angin untuk membantu proses pemberhentian bila gempa bumi terdeteksi.

Tidak berhenti di situ saja, Jepang kini telah meluncurkan kereta peluru generasi terbaru yang diberi nama Hayabusa Shinkansen E5 (Peregrine Falcon) dioperasikan oleh East Japan Railway Company. Hayabusa Shinkansen E5 mempunyai kecepatan maksimum 300 km/jam merupakan produk teknologi terbaru yang diluncurkan pada 5 Maret 2011 dengan melayani rute Tokyo – Shin-Aomori menempuh jarak 670 km dengan waktu 3 jam 10 menit.

Hayabusa Shinkansen E5 berhenti di 4 titik stasiun yaitu Omiya, Sendai, Hachinohe dan Morioka. Tiket kereta bisa didapat dengan harga 16.370 yen atau 199 dolar Amerika atau setara hampir Rp 2 juta. Bagian utama kereta Hayabusa Shinkansen E5 mempunyai tempat yang sangat mewah disebut grand class yang hampir sama mewahnya dengan kelas pertama pada pesawat. (Moch Danny Fadly-24)

Sumber: Suara Merdeka, 5 Maret 2012

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Stroomnet PLN Saingi IndiHome Telkom, Apa Kabar Sinergi BUMN?

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) secara terbuka menabuh genderang perang terhadap pelaku usaha jaringan internet ...

%d blogger menyukai ini: