BPPT Kaji Revitalisasi Jalur KA

- Editor

Rabu, 1 Maret 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Volume lalu lintas udara antara Jakarta dan Surabaya pada 2030 diprediksi mencapai 20 juta orang per tahun. Jumlah ini meningkat 150 persen dibandingkan pada 2016 yang sekitar 8 juta orang per tahun. Untuk mengurangi beban bandara dan kepadatan lalu lintas udara antara dua kota besar ini, perlu dikembangkan transportasi massal alternatif, yaitu kereta api dengan kecepatan menengah.

Prastudi kelayakan kereta api (KA) ekspres yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tahun lalu menunjukkan, revitalisasi moda transportasi di jalur itu dapat mengurangi volume lalu lintas udara hingga 30 persen.

“Studi kelayakan lebih detail tengah dibahas bersama pihak Kementerian Perhubungan selaku koordinator. Keputusan pelaksanaannya diperkirakan keluar akhir Maret ini,” kata Kepala BPPT Unggul Priyanto, Selasa (8/3), di Jakarta, terkait rencana kerja sama dengan Jepang dalam program revitalisasi prasarana perhubungan itu. Pelaksanaan studi kelayakan, ujar Unggul, diharapkan mendapat anggaran dari Kemenhub. Untuk itu, akan dibentuk tim yang melibatkan Kemenhub, BPPT, dan PT KAI.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada prastudi kelayakan pembangunan kereta ekspres, BPPT memperoleh perkiraan investasi sebesar Rp 81 triliun. Investasi ini untuk menguatkan bantalan rel dan mengurangi sekitar 1.000 pelintasan sebidang dengan membangun jalan layang. Selain itu juga akan dibangun sistem jaringan kelistrikan untuk kereta listrik ini.

Sementara itu, Jepang yang juga melakukan prastudi kelayakan menghasilkan perkiraan anggaran Rp 102 triliun. Besarnya anggaran itu, kata Sekretaris Utama BPPT Soni Solistia Wirawan, antara lain untuk pembangunan jalur rel yang baru sesuai standar internasional kereta api cepat.

Studi kelayakan, lanjut Unggul, akan memakan waktu enam bulan, dilanjutkan desain teknik 1,5 tahun dan analisis mengenai dampak lingkungan satu tahun. Pembangunan dimulai pada 2019 dan pengoperasiannya pada tahun 2022.

Kecepatan kereta api akan mencapai 166 kilometer per jam sehingga waktu tempuh Jakarta-Surabaya hanya 4 jam 20 menit. Saat ini, dengan lokomotif diesel, kecepatan kereta 60 kilometer per jam dengan waktu tempuh mencapai 10 jam.

Dengan harga tiket yang sama dan waktu tempuh hanya sekitar 4 jam 20 menit, kereta ekspres dapat bersaing dengan pesawat. “Dengan demikian, sekitar 30 persen penumpang akan pindah ke kereta ekspres,” kata Unggul.(YUN)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Maret 2017, di halaman 14 dengan judul “BPPT Kaji Revitalisasi Jalur KA”.

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 23 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB