Meraih Nobel Fisika 2019 Berkat Penelitian Eksplorasi Alam Semesta

- Editor

Jumat, 11 Oktober 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

James Peebles, Michel Mayor (77), dan Didier Queloz (53) sama-sama tak menyangka upayanya mengungkap rahasia-rahasia alam semesta mendapatkan penghargaan bergengsi Nobel bidang Fisika tahun 2019. Yang jelas, temuan-temuan mereka membuat penelitian-penelitian eksplorasi alam semesta menjadi kian bergairah.

James Peebles, profesor emeritus di Princeton University, disebut-sebut mengubah perkiraan menjadi temuan sains terkait proses pembentukan alam semesta pasca-kejadian ledakan besar Big Bang. Michel Mayor dan Didier Queloz, pada 1995, menemukan pertama kali planet lain di tata surya Bima Sakti. Kini temuan planet lain atau eksoplanet telah mencapai 4.000 planet.

Temuan-temuan mereka pun kian menjadi dasar para pengeksplorasi luar angkasa untuk menjawab pertanyaan klasik, ”Apakah kita (Bumi) ini sendiri?” Pertanyaan yang menggelitik dan belum bisa dijawab meski Bumi terbukti hanyalah satu dari ribuan, mungkin puluhan ribu, planet di alam semesta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam wawancaranya dengan media pada www.nobelprize.org, usai pengumuman penerima Nobel Fisika, 8 Oktober 2019, Peebles mengatakan, ia tak pernah membayangkan hasil risetnya bisa membawanya dalam jajaran ilmuwan bergengsi, penerima Nobel Fisika. ”Kami meneliti karena tertarik pada bidang ini, bukan karena mengejar penghargaan,” katanya saat telekonferensi sekitar pukul 05.00 waktu di Amerika Serikat.

Ia menambahkan, hal menarik dari penelitian-penelitian eksplorasi bagi para peneliti adalah mereka tidak tahu pasti apa yang akan ditemukan. Hal itu terjadi saat Peebles menemukan dark matter, dark energy. Uniknya, meski menemukan keberadaan dark matter dan dark energy, ia sendiri mengaku tidak mengetahui pasti apa yang ia temukan. ”Hingga kini masih banyak pertanyaan yang menggantung,” katanya.

AFP/JOHANNES EISELE–ames Peeble, peraih Nobel Fisika 2019, tiba di acara konferensi pers di Princeton University, New Jersey, Selasa (8/10/2019). Ahli kosmologi ini menerima Nobel Fisika bersama ahli astronomi Michel Mayor dan Didier Queloz.

Buku pertamanya, Fisika Kosmologi (1971), mengilhami generasi fisikawan baru untuk berkontribusi pada pengembangan subyek, tidak hanya melalui pertimbangan teoritis, tetapi dengan pengamatan dan pengukuran. Tidak ada lagi yang akan menjawab pertanyaan abadi tentang dari mana manusia maupun makhluk hidup lain berasal dan ke mana manusia maupun makhluk hidup lain akan pergi. Kosmologi dibebaskan dari konsep manusia, seperti iman dan makna.

”James Peebles menguasai kosmos, dengan miliaran galaksi dan gugusan galaksi. Kerangka teoretisnya, yang dikembangkan lebih dari dua dekade, adalah dasar dari pemahaman modern kita tentang sejarah alam semesta, dari Big Bang hingga saat ini,” kata Göran K Hansson, Secretary General of the Royal Swedish Academy of Sciences, saat mengumumkan penerima penghargaan Nobel Fisika 2019.

Bill Jones, Profesor Fisika pada Princeton University, memberikan kesaksian bahwa sulit untuk melebih-lebihkan kontribusi Jim (panggilan James Peebles) pada pemahaman umat manusia tentang Bumi di alam semesta. ”Selain meletakkan banyak dasar teori untuk kosmologi modern, Jim memelopori banyak metode yang telah membuat kosmologi menjadi ilmu prediksi dan yang memungkinkan kita untuk menguji teori kita dengan data pengamatan. Ia juga murah hati kepada murid-muridnya dan rekan-rekannya,” ujarnya.

Eksoplanet
Sementara itu, temuan eksoplanet 51-Pegasi-B oleh Michel Mayor, dan Didier Queloz pada 1995 membuka cakrawala temuan-temuan 4.000 eksoplanet lainnya. Temuan itu mengantarkan mereka meraih Penghargaan Nobel Fisika 2019.

AFP/ISABEL INFANTE–Ahli astronomi asal Swiss, Didier Queloz, berbicara di sebuah konferensi pers di London, Selasa (8/10/2019). Ia menerima Nobel Fisika 2019 bersama ahli kosmologi James Peebles dan ahli astronomi Michel Mayor.

Seperti Peebles, Queloz juga mengaku sempat terkejut dan ”berhenti bernapas” ketika menerima kabar anugerah bergengsi bagi ilmuwan fisika tahun ini diberikan kepadanya. Ia tak menduga eksoplanet perdana temuannya dengan Mayor, 51 Pegasi-b, tersebut memberi mereka hadiah Nobel.

Ia mengaku diberitahu informasi tersebut dari staf University of Geneva di tengah-tengah rapat bersama koleganya di kampus. Ia sempat berpikir informasi yang disampaikan bagian media di kampusnya tersebut merupakan lelucon. Ternyata informasi itu sama sekali bukan lelucon.

”Ini luar biasa, ini di luar emosi kebiasaan saya. Tangan saya bergerak-gerak sangat lama. Saya mencoba mencernanya (informasi),” katanya.

Rekannya, Mayor, Profesor Emiritus di University of Geneva, menerima kabar tersebut ketika sedang berada di Spanyol untuk keperluan keilmuannya. Ia menerima banyak ucapan selamat dari kolega-koleganya saat sedang berdiskusi terkait eksoplanet. Apakah akan ada perayaan (setelah menerima Nobel)? Tanya pewawancara dari Nobel Media, ia menjawab, ”Saya berharap begitu.”

Penghargaan Nobel Fisika 2019 ini membawanya kembali pada ingatan 24 tahun silam. Saat itu, ia dan Queloz meneliti rahasia alam semesta di Observatorium Haute-Provence di Perancis bagian selatan dengan menggunakan instrumen yang dibuat khusus. Dari situ mereka menemukan eksoplanet yang belakangan membuka gairah para ilmuwan astrofisika dan astronomi untuk menjawab pertanyaan adakah kehidupan lain di luar Bumi.

AP/MANU FERNANDEZ–Peneliti Swiss Michel Mayor hadir di sebuah konferensi pers di Torrejon de Ardoz, Spanyol, Rabu (9/10/2019). Dia menerima Nobel Fisika 2019 bersama James Peebles dan Didier Queloz.

”Mungkin kita bisa menemukan beberapa bentuk kehidupan. Kami tidak tahu bentuk kehidupan seperti apa,” kata Mayor.

Menanggapi penghargaan yang diterima sivitas akademianya, Rektor University of Geneva Yves Flückiger mengatakan, Michel Mayor dan Didier Queloz layak mendapatkan penghargaan itu. ”Ini adalah pengakuan fantastis atas tugas yang diselesaikan oleh Michel Mayor dan Didier Queloz. Itu menunjukkan kerasnya pendekatan ilmiah mereka, tetapi juga kreativitas dan kemampuan mereka untuk berpikir dan bekerja di luar kotak, jalur sejati menuju penemuan hebat,” katanya dalam siaran pers kampus. (AP)

James Peebles

Lahir: Manitoba, Kanada, 25 April 1935

Karier:
Hingga kini mengajar di Princeton University dengan karier awal 1960 sebagai instruktur dan peneliti
1965 assistant professor
1968 associate professor
1972 professor
2000 professor emeritus
Michel Mayor

Lahir: Lausanne Swiss, 1942

Karier:
Profesor pada the Observatory of the Faculty of Science of the University of Geneva (UNIGE), Swiss

Didier Queloz
Lahir: 23 Februari 1966

Karier:
Profesor di University of Cambridge sejak 2013 hingga kini
Profesor di University of Geneva sejak 2008

ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 11 Oktober 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
3 Ilmuwan Menang Nobel Kimia 2023 Berkat Penemuan Titik Kuantum
Profil Claudia Goldin, Sang Peraih Nobel Ekonomi 2023
Tiga Ilmuwan Penemu Quantum Dots Raih Nobel Kimia 2023
Penghargaan Nobel Fisika: Para Peneliti Pionir, di antaranya Dua Orang Perancis, Dianugerahi Penghargaan Tahun 2023
Dua Penemu Vaksin mRNA Raih Nobel Kedokteran 2023
Teliti Dinamika Elektron, Trio Ilmuwan Menang Hadiah Nobel Fisika
Temukan Celah Pembangkit Listrik Tenaga Angin, Mahasiswa ITB Jadi Juara Nasional
Berita ini 2 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Senin, 13 November 2023 - 13:42 WIB

3 Ilmuwan Menang Nobel Kimia 2023 Berkat Penemuan Titik Kuantum

Senin, 13 November 2023 - 13:37 WIB

Profil Claudia Goldin, Sang Peraih Nobel Ekonomi 2023

Senin, 13 November 2023 - 05:13 WIB

Tiga Ilmuwan Penemu Quantum Dots Raih Nobel Kimia 2023

Senin, 13 November 2023 - 05:01 WIB

Penghargaan Nobel Fisika: Para Peneliti Pionir, di antaranya Dua Orang Perancis, Dianugerahi Penghargaan Tahun 2023

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB