Home / Artikel / Menjadi Penyintas Era 4.0

Menjadi Penyintas Era 4.0

”Adalah teknologi, bukan bisnis atau pemerintahan, yang merupakan kekuatan penggerak di belakang pergeseran masyarakat dalam skala besar”. (Sean Parker, pengusaha AS, Co-founder Napster, Presiden pertama Facebook, dalam ”Move Fast and Break Things”, Jonathan Taplin, 2017)

Saat pergantian tahun, refleksi atas berbagai hal melintas di kepala. Di antaranya muncul saat membaca kontribusi Yasraf Amir Piliang, ”Reposisi, Reinterpretasi dan Reimajinasi Keindonesiaan-Membangun Bangsa Melalui Kreativitas” dalam ”Reinventing Indonesia” (Komaruddin Hidayat & Putut Widjanarko, Editor, 2008).

Membesarkan hati membaca penegasan bahwa Indonesia dan keindonesiaan merupakan hal yang terus-menerus harus dicari, dibangun, diinterpretasikan, dan diimajinasikan. Kesadaran atau pemahaman ini melahirkan setidaknya dua kearifan. Pertama, Indonesia dan keindonesiaan jangan dipandang sebagai hal statis, atau konsep final. Kedua, kearifan pertama di atas melahirkan kearifan kedua bahwa ada pekerjaan untuk membuat Indonesia dan keindonesiaan terus bertumbuh selaras dinamika zaman.

Selama ini kerisauan kita lebih terfokus pada isu konvensional: tentang integrasi, nation-building, lingkungan, terorisme, dan kesenjangan. Betul, semua itu masih aktual dan relevan, tetapi pada saat bersamaan bergaung nyaring topik baru meski kini sudah banal, disrupsi dan Revolusi Industri (RI) 4.0. Topik baru yang di luar kebanalannya tetap harus dicermati dan direspons dengan sigap dan cerdas.

Umat manusia jelas mendapat banyak berkah dari revolusi peradaban. Revolusi Industri (RI) 1.0 antara tahun 1760 dan 1840 ditandai penemuan mesin uap dan pembangunan jalan kereta api. RI 2.0 dimulai pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ditandai dengan munculnya tenaga listrik dan produksi massal melalui jalur perakitan. RI 3.0 dimulai dasawarsa 1960-an, yang sering disebut revolusi komputer, ditandai berkembangnya semikonduktor dan komputasi komputer besar (mainframe) tahun 1960-an, komputasi personal (1970-1980), dan internet (1990-an).

Membaca penjelasan Klaus Schwab dalam bukunya, The Fourth Industrial Revolution, 2017, sekarang kita memasuki awal RI 4.0, yang dibangun di atas revolusi digital. Tandanya adalah makin meluasnya internet mobile, sensor yang lebih kecil tetapi lebih kuat dan murah, kecerdasan buatan (AI), dan machine learning. Yang terakhir ini merupakan penerapan AI pada sistem sehingga ia punya kemampuan otomatis untuk belajar dan memperbaiki berdasar pengalaman, tanpa diprogram secara eksplisit.

Dalam era RI 4.0, yang istilahnya dipopulerkan di Hannover Fair tahun 2011, muncul dan merebaknya penerapan teknologi kunci, seperti AI, robotika, 3D printing, Internet Segala (IoT), memungkinkan lahirnya pabrik cerdas, di mana sistem produksi, baik fisikal maupun virtual, bekerja sama dalam lingkup global dan fleksibel.

Lebih daripada terkoneksinya sistem dan mesin yang kian pintar, RI 4.0 ditandai munculnya kemajuan pesat di bidang lain, seperti penataan gen dan teknologi nano. Berfusinya bermacam teknologi tersebut dan interaksi mereka di ranah fisikal, digital, dan biologi itulah yang membuat RI 4.0 berbeda secara fundamental dengan revolusi-revolusi sebelumnya.

Menyimak dampak
Mengamati luas dan dalamnya disrupsi serta munculnya berbagai inovasi, masuk akal jika kita, baik secara individu maupun bangsa, tidak menutup mata terhadap dampak potensial muncul dari RI 4.0. Memang bukan hal mudah karena sebelum era 4.0 kita kewalahan menghadapi masalah, mulai dari kesenjangan digital dan kesenjangan ekonomi, defisit neraca berjalan, hingga sempitnya lapangan kerja.

Isu lapangan kerja bisa dikata hal kritikal pada era RI 4.0 karena AI dan robotika akan mengubah lanskap lapangan kerja. Di satu sisi akan ada jutaan lapangan kerja yang hilang, terutama yang repetitif administratif. Namun, di sisi lain akan muncul jutaan pekerjaan baru, tetapi jenisnya belum diketahui pada saat ini. Menghadapi potensi munculnya pekerjaan baru, kita sebaiknya cerdas bak machine learning untuk menangkap tren. Dengan memahami karakter teknologi yang sedang dan akan berkembang, kita menyesuaikan diri dalam soal kompetensi.

Untuk menghadapi era digital, umumnya kita bisa membaca, misalnya, karya Tom Chatfield, How to Thrive in the Digital Age (2012). Untuk era RI 4.0, kita simak kompetensi yang relevan sehingga kita siap. Kembali pada Schwab yang mendapat masukan dari Forum Ekonomi Dunia (WEF), ia menyebutkan, tiga keterampilan paling atas yang dibutuhkan mulai 2020 ini adalah kemampuan kognitif (yang erat dengan logika dan kecerdasan rasional), kecakapan memahami sistem, dan kemampuan menyelesaikan masalah kompleks.

Kecakapan lain yang banyak diwacanakan dan diunggulkan lebih dari kognitif, yang sering disebut soft skill atau social skill, menurut urutan WEF ada di urutan keenam. Bagaimanapun, RI 4.0 meniscayakan dimilikinya kemampuan baru yang harus ditanamkan melalui lembaga pendidikan dan juga melalui media massa. Pertimbangan literasi tentang kultur baru era 4.0 inilah yang menjadi alasan Kompas mengangkat tema aktual ini.

Pendekatan baru
Semua jenjang pendidikan harus menerapkan metode pendidikan dan pengajaran baru. Jam kuliah tidak pas lagi apabila semuanya untuk transfer pengetahuan atau materi pembelajaran. Bijak jika sebagian waktu untuk mengembangkan keterampilan baru yang dituntut oleh era 4.0. Di bawah payung untuk menghasilkan siswa/mahasiswa sebagai insan pemelajar seumur hidup, kepada mereka penting ditanamkan kecakapan bekerja sama, adaptif, dan toleran, berorientasi pada solusi, inovatif, dan punya dorongan memunculkan ide baru.

Salah satu ciri yang distereotipkan pada era RI 4.0 adalah ”serba cepat”. Namun, juga disadari bahwa pemahaman ini yang acap menjerumuskan orang dalam kerepotan, bisa karena urusan hak kekayaan intelektual (HKI) dan di Indonesia karena terjerat UU ITE. Dalam kaitan ini pula, kita sering mendapat nasihat ”saring sebelum sharing (berbagi)” karena jari bergerak lebih cepat dari pertimbangan.

Namun, serba cepat acap membuahkan kedangkalan, sedangkan problem kompleks masa kini membutuhkan pikiran mendalam (deep thought) dan pengendapan masalah. Tak heran jika muncul karya jurnalis Kanada, Carl Honore, In Praise of Slowness (2004). Juga Thomas Friedman yang menulis buku Thank You for Being Late (2016) tentang cara meraih sukses pada zaman cepat ini.

Bangsa Indonesia perlu berlari kencang karena masih banyak ketinggalan, sementara era baru telah datang. Namun, upaya untuk menjadi penyintas gelombang RI 4.0 tidak semuanya cukup dengan serba cepat. Mengembangkan kedalaman untuk paham duduk perkara tidak kalah penting.

Oleh NINOK LEKSONO

Sumber: Kompas, 6 Januari 2020

Share
x

Check Also

Banjir dan Resapan

CATATAN IPTEK Sumur resapan dan biopori mempercepat infiltrasi air hujan ke dalam tanah sehingga mengurangi ...