Menguak Masa Lalu lewat Arkeologi Udara

- Editor

Senin, 25 Juli 2011

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TAHUKAH Anda, foto udara tidak hanya menampilkan hamparan keindahan muka bumi di masa kini, tetapi juga bisa bercerita tentang masa lalu yang telah terkubur. Idenya sangat sederhana; ada pola tertentu yang terlalu besar untuk dilihat ketika arkeolog menginjak bumi, tetapi akan tampak jelas ketika dilihat dari ketinggian.

Secara umum, aerial arceology (arkeologi udara) adalah pengambilan foto dari ketinggian terhadap suatu wilayah tertentu. Hasilnya berupa foto yang akan memperlihatkan roman tersembunyi yang tidak terdeteksi dari darat. Di sini foto menjadi subyek utama dan dicetak dalam berbagai bentuk untuk ”menggali” keberadaan situs sejarah.

Banyak situs sejarah yang berharga masih terpendam beberapa meter di bawah tanah. Dari permukaan tanah situs ini hanya terlihat sebagai tumpukan batu, cekungan lembah, atau padang ilalang liar semata, sehingga sama sekali tidak mengesankan adanya peradaban manusia yang pernah hidup. Padahal medan tersebut bisa jadi merupakan situs penting di masa lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Walau tampak canggih, arkeologi udara merupakan metode lama yang diilhami oleh pemetaan wilayah di Eropa selama Perang Dunia I. Konsep awal yang masih dipakai sampai sekarang adalah microtopografy: mencari pola tertentu seperti garis atau sekumpulan titik yang kecil di permukaan bumi yang hanya mungkin terlihat dari udara pada kondisi yang tepat.

Foto yang telah diolah akan menampilkan bagian yang terang dan gelap, perbedaan kontur tanah, sampai perbedaan vegetasi. Melalui perbedaan ini, area perkampungan, pekuburan, dan gedung-gedung di masa lalu dapat teridentifikasi.

Sebagai contoh, tembok batu, fondasi, dan jalan kuno yang terbenam di bawah tanah seringkali dipenuhi berbagai tanaman yang tumbuh di atasnya, termasuk ladang pertanian. Dengan foto udara akan muncul pola melalui tanaman yang tidak tumbuh subur, terutama di musim kemarau. Pola inilah yang memberikan jejak keberadaan peradaban manusia yang terkubur tersebut.

Arkeologi udara relatif mudah dan murah karena mencakup wilayah penelitian yang luas dalam satu waktu yang singkat. Saat ini banyak situs arkeologi yang berada dalam bahaya kerusakan sehingga nilai sejarahnya akan lenyap. Sementara itu, masih banyak situs yang masih terkubur di dalam tanah. Beberapa di antaranya berada dalam kondisi yang buruk karena pertanian, industri, dan pengelolaan sumber daya alam lainnya.

Untuk mencegah hal ini, arkeologi udara sangat penting untuk segera menemukan situs yg terpendam itu. Melalui arkeologi udara, arkeolog dapat menemukan titik penting dan memetakan situs. Hal ini akan membantu tugas para arkeolog untuk melindungi dan memperjelas berbagai informasi yang tersembunyi sesegera mungkin.

Foto Satelit

Maraknya pengorbitan berbagai satelit yang memfoto permukaan bumi untuk kepentingan tertentu semakin mendorong perkembangan arkeologi udara ke fase yang lebih canggih. Selain mempunyai resolusi yang jauh lebih tinggi, citra satelit mampu memperlihatkan apa yang tidak bisa dilihat mata manusia, dalam hal ini foto udara untuk menguak sejarah.

Mata telanjang manusia hanya menangkap sedikit sekali spektrum elektromagnet yaitu cahaya tampak, sedangkan citra satelit mampu menangkap spektrum yang tak kasat mata, seperti inframerah dan spektrum mikro lainnya.
Sarah Parcak, arkeolog dari Universitas Alabama, menggunakan citra satelit untuk menemukan lebih dari ratusan situs yang sebelumnya belum diketahui di lembah sungai Nil.
Dia menggunakan citra yang diperoleh dari satelit yang menggunakn peralatan khusus, seperti pencitraan multispectral.

Sementara William Saturno dari Universitas New Hampshire menggunakan pencitraan multispektral untuk menemukan perkampungan Maya yang hilang dalam lebatnya hutan belantara Guatemala. Pergeseran warna pada kanopi vegetasi yang terekam sinar infra merah mengungkap adanya aktivitas manusia di masa lalu.

Walau begitu, arkeologi udara masih mempunyai banyak tantangan. Selain citra satelit yang masih relatif mahal, mencapai ribuan dolar AS, jenis tanah, iklim, kerumitan vegetasi dapat berpengaruh terhadap berapa banyak informasi yang terkumpul. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil yang maksimal, arkeologi udara perlu berkerja sama dengan bidang ilmu alam lainnya, seperti fisika, kimia, biologi dan geologi. (24 oleh Arief Rahman)

Sumber: Suara Merdeka, 18 Juli 2011

Informasi terkait

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Berita ini 16 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:50 WIB

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Senin, 27 Juli 2026 - 18:53 WIB

Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Berita Terbaru

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB

Artikel

Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital

Senin, 27 Jul 2026 - 18:53 WIB

Berita

Terkubur untuk Hidup

Sabtu, 18 Jul 2026 - 09:20 WIB

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB